Uskup Agung Budi Kleden Bicara tentang Kesaksian Hening Gereja di Asia
Oleh Fr. Kasmir Nema, SVD
Merefleksikan Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) yang baru saja berakhir di Jakarta, Uskup Agung Kleden, Uskup Agung Ende dan Wakil Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mengatakan bahwa pertemuan tersebut membantu para peserta melihat bahwa Allah sudah berkarya dalam berbagai realitas Gereja di seluruh Asia.
“Sidang ini sekali lagi memperjelas bahwa setiap perjumpaan sejati merupakan kesempatan untuk mengalami hal-hal yang lebih besar,” katanya dalam wawancara.
Mendengarkan peserta dari berbagai negara Asia, katanya, “memperluas hati dan memperlebar cakrawala” serta membantu para delegasi mengenali kehadiran Allah dalam Gereja-Gereja lokal, tempat umat Katolik sering kali menjadi kelompok yang sangat kecil.
“Menjadi minoritas bukan alasan untuk kehilangan harapan dan menyerah,” katanya. Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan “kesempatan untuk memberikan kesaksian, menjadi kreatif dalam menemukan cara-cara sederhana dan rendah hati untuk menghidupi nilai-nilai Injil.”
Bagi Uskup Agung Kleden, hal tersebut menunjukkan sesuatu yang khas mengenai misi Gereja di Asia.
“Di Asia kita berbicara tentang mewartakan Injil dengan berbisik,” katanya. Menyadari kembali bahwa “jalan Injil adalah jalan kerendahan hati” merupakan salah satu “hal yang lebih besar” yang ia alami selama Sidang FABC.
Ia memandang kesaksian hening ini bukan sebagai strategi yang lahir dari kelemahan, melainkan sebagai sumbangan yang dapat diberikan Gereja-Gereja di Asia kepada Gereja universal.
Empat Pertobatan bagi Kepemimpinan Sinodal
Pesan Akhir Sidang FABC menekankan bahwa sinodalitas mengubah hati sebelum mengubah struktur. Bagi Uskup Agung Kleden, hal ini membutuhkan pertobatan konkret, yang dimulai dari cara para pemimpin Gereja mendengarkan.
“Pertama-tama, pertobatan menjadi pemimpin yang mendengarkan,” katanya.
Menurutnya, sikap mendengarkan tidak dapat dibatasi hanya kepada umat Katolik. Mendengarkan harus mencakup orang-orang dari agama lain, alam ciptaan, serta mereka yang terlalu sering diabaikan—“perempuan, anak-anak, kaum muda, dan kaum miskin.”
Mendengarkan, tegasnya, tidak mengurangi otoritas seorang uskup. “Sebaliknya, mendengarkan memperkuatnya,” katanya, karena hal itu memungkinkan para pemimpin memahami otoritas bukan sebagai “kekuasaan untuk mendominasi”, melainkan sebagai panggilan untuk melayani, menjadi “jembatan dan pembangun jembatan”.
Pertobatan kedua adalah menuju interkulturalitas.
Di benua yang ditandai oleh keragaman budaya dan agama yang luar biasa, para pemimpin Gereja perlu semakin menyadari berbagai prasangka yang membentuk cara mereka memandang orang lain, kata Uskup Agung Kleden.
“Sering kali, karena prasangka budaya, kita tidak mampu melihat hal-hal lebih besar yang sedang dikerjakan Tuhan di dalam dan melalui diri orang lain,” jelasnya.
Pertobatan ketiga adalah menuju spiritualitas Ekaristi.
Mengacu pada pesan Paus Leo XIV kepada Sidang FABC, yang menyerukan “spiritualitas kesatuan gerejawi yang berakar pada kasih yang mengalir dari pemberian Tuhan kita dalam Ekaristi”, Uskup Agung Kleden mengatakan bahwa Ekaristi mengingatkan para pemimpin Gereja bahwa panggilan mereka bukan milik mereka sendiri.
“Gereja pertama-tama tidak bergantung pada kita, dan Gereja bukan milik kita. Gereja adalah milik Tuhan,” katanya.
Karena itu, kepemimpinan harus dipahami sebagai partisipasi dalam kasih Kristus yang menyerahkan diri dan dalam pelayanan kepada Gereja.
Pertobatan keempat mungkin merupakan yang paling sederhana: syukur.
Uskup Agung Kleden mengajak Gereja untuk bersyukur atas kawanan yang dipercayakan kepadanya, bahkan ketika kawanan itu kecil.
Kenyataan bahwa umat Kristiani dan umat Katolik merupakan minoritas di sebagian besar wilayah Asia, katanya, tidak seharusnya membuat Gereja kehilangan harapan. Iman justru bertumpu pada kepercayaan kepada Allah, yang memiliki cara-Nya sendiri untuk mendekatkan diri kepada manusia.
Membangun Jembatan di Asia yang Terus Berubah
Gambaran Gereja sebagai pembangun jembatan berulang kali muncul selama Sidang FABC. Namun, bagi Uskup Agung Kleden, membangun jembatan harus melampaui dialog antaragama.
Di dalam Gereja, ia melihat kebutuhan untuk membangun jembatan dengan kaum muda, terutama di benua yang memiliki jumlah penduduk muda yang besar.
Ia juga menyoroti para migran—mereka yang tiba di negara baru untuk mencari kehidupan yang lebih baik maupun mereka yang meninggalkan negara asalnya demi alasan yang sama.
Gereja juga harus membangun jembatan di antara berbagai kelompok budaya yang hidup dalam komunitasnya sendiri.
Di luar Gereja, ia menunjuk pada kebutuhan untuk membangun jembatan dengan orang-orang yang berkehendak baik, masyarakat sipil, pemerintah, dan bahkan dengan ciptaan itu sendiri.
Di antara berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Asia, Uskup Agung Kleden menilai krisis ekologis sebagai salah satu yang paling mendesak.
“Semua tantangan ini merupakan tantangan nyata dan mendesak bagi Gereja-Gereja lokal di Asia,” katanya. “Namun, jika kita harus menyebut yang paling mendesak, saya akan mengatakan bahwa persoalan ekologis merupakan masalah paling mendesak bagi Asia.”
Banyak negara Asia sedang mengejar pembangunan ekonomi, katanya, tetapi sumber daya alam sering dieksploitasi dengan biaya lingkungan yang sangat besar.
Ia secara khusus menunjuk pada deforestasi, perampasan lahan, dan kegiatan pertambangan ekstraktif yang dilakukan “tanpa banyak perhatian terhadap konsekuensinya bagi alam”.
Misi Pertama-tama Milik Allah
Yang mendasari visi Uskup Agung Kleden mengenai Gereja di Asia adalah spiritualitas misioner Missio Dei—keyakinan bahwa misi pertama-tama adalah misi Allah.
“Allah mempunyai cara-Nya sendiri untuk menjangkau hati manusia, membentuk budaya, dan mengilhami agama-agama,” katanya.
Allah, tambahnya, sudah terlebih dahulu berkarya membangun jembatan dengan umat manusia, dan memanggil umat Kristiani untuk ambil bagian dalam karya tersebut sebagai “jembatan dan pembangun jembatan”.
Bagi Uskup Agung Kleden, keyakinan ini juga merupakan dasar pengharapan.
“Hanya karena ini adalah Missio Dei, misi Allah, Gereja di Asia memiliki masa depan.”
Perspektif tersebut juga membentuk pemahamannya mengenai kepemimpinan ketika ia menjalankan tanggung jawabnya di dalam Gereja Indonesia dan keluarga besar FABC.
Baginya, jawabannya adalah kepemimpinan sinodal: kepemimpinan yang mendengarkan, menyambut berbagai suara, dan tidak takut berbagi tanggung jawab.
“Kita tidak perlu takut kehilangan kekuasaan, tetapi justru mengundang dan mendorong semakin banyak orang untuk ambil bagian dalam kepemimpinan,” katanya.
“Nama masa depan Gereja adalah berjalan bersama, berbagi tanggung jawab.”
“Jadilah Jembatan dan Pembangun Jembatan”
Menjelang berakhirnya Sidang FABC, Uskup Agung Kleden ditanya pesan tunggal apa yang ingin ia sampaikan agar dibawa pulang oleh umat Katolik di seluruh Asia.
Jawabannya singkat—dan mungkin merangkum inti refleksinya tentang misi Gereja di Asia:
“Beranilah menjadi jembatan dan pembangun jembatan, sebagaimana Yesus telah melakukannya bagi kita.”
Di sebuah benua tempat umat Katolik sering hidup sebagai kelompok minoritas, masa depan evangelisasi mungkin tidak bergantung pada kemampuan untuk berbicara lebih keras, melainkan pada kemampuan untuk belajar mendengarkan dengan lebih mendalam, berjalan dengan lebih rendah hati, dan membangun dengan lebih sabar.
Bagi Uskup Agung Kleden, kesaksian hening Gereja di Asia—“mewartakan Injil dengan berbisik”—justru merupakan tempat di mana kekuatan misionernya dapat ditemukan.