Satu Abad Misi Trinitarian di Madagaskar Penuh Harapan, Kebebasan, dan Belas Kasih
Oleh Sr. Christine Masivo, CPS
Ordo Tritunggal Mahakudus dan Penebusan Tawanan, yang lebih dikenal sebagai Ordo Trinitarian, merayakan 100 tahun kehadiran misionernya di Madagaskar. Perayaan ini menjadi penanda satu abad karya evangelisasi, pelayanan pastoral, dan kesaksian Injil yang telah memberi pengaruh mendalam bagi Gereja lokal maupun perkembangan Ordo Trinitarian sendiri.
Satu abad kesaksian misioner
Peringatan tersebut mengenang keberangkatan lima misionaris Trinitarian pertama dari Roma pada 4 Juni 1926, tidak lama setelah Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Didampingi Minister General saat itu, Romo Francis Xavier of the Immaculate Conception, mereka berangkat untuk membuka misi Trinitarian di Madagaskar setelah ordo tersebut mengakhiri pelayanannya di Somalia pada 1924. Sebelum menetap di Miarinarivo, wilayah misi yang dipercayakan kepada mereka, para misionaris terlebih dahulu mempelajari bahasa Malagasi dan Prancis.
Merefleksikan peringatan seabad itu, Minister General Ordo Trinitarian, Romo Luigi Buccarello, mengatakan kepada kantor berita Fides Vatikan bahwa para misionaris pertama menunjukkan "keberanian Injili" untuk melintasi batas budaya, bahasa, dan agama sebagai tanggapan atas dorongan Roh Kudus. Menurutnya, perjalanan mereka bukan sekadar perluasan wilayah pelayanan ordo, melainkan ungkapan nyata identitas misioner Trinitarian yang terus hidup hingga kini.
Karya evangelisasi dan martabat manusia
Terinspirasi oleh karisma Santo Yohanes de Matha dan Santo Felix dari Valois, misi Trinitarian selalu memadukan pewartaan Injil dengan pembelaan terhadap kebebasan dan martabat manusia. Didirikan pada masa yang ditandai konflik dan perbudakan, ordo ini pada awalnya mengabdikan diri untuk membebaskan para tawanan, sebuah misi yang kini diteruskan melalui pelayanan kepada mereka yang hidup di pinggiran masyarakat.
Di Madagaskar, karya kerasulan para misionaris berpusat pada kunjungan pastoral ke desa-desa terpencil agar komunitas-komunitas Kristiani yang tersebar tetap terhubung dengan kehidupan Gereja. Mereka juga membangun Pusat Formasi Kateketik untuk membina para katekis dan pelayan pastoral, sehingga para pemimpin lokal diperlengkapi untuk melanjutkan karya evangelisasi. Pada saat yang sama, mereka mendirikan gereja, sekolah, dan pusat-pusat kegiatan masyarakat, serta memulihkan tempat-tempat ibadat guna menunjang perkembangan rohani sekaligus sosial.
Sepanjang pelayanannya, para Trinitarian berupaya menghormati budaya dan tradisi setempat sambil mendampingi masyarakat dalam perjalanan iman. Karya mereka tidak hanya memperluas evangelisasi, tetapi juga berkontribusi pada pendidikan, pembinaan pastoral, dan penguatan komunitas-komunitas Kristiani di seluruh Pulau Madagaskar.
Misi yang terus berkembang menuju masa depan
Dalam satu abad terakhir, misi Trinitarian di Madagaskar berkembang secara signifikan dan berhasil mewujudkan cita-cita membangun Gereja-Gereja lokal yang mandiri. Perjalanan itu dimulai dengan berdirinya Vikariat Apostolik Miarinarivo pada 1939, wilayah gerejawi pertama di Afrika yang dipercayakan kepada Ordo Trinitarian, sebelum kemudian meluas ke Tsiroanomandidy dan Ambatondrazaka.
Saat ini, para Trinitarian berkarya di 12 dari 22 keuskupan di Madagaskar. Panggilan hidup membiara dan imamat tumbuh subur, para misionaris Madagaskar kini juga diutus ke berbagai negara, dan lima uskup Trinitarian telah lahir dari Gereja lokal tersebut.
Menandai peringatan seabad itu, Romo Buccarello menyebut momentum tersebut sebagai panggilan untuk memperbarui komitmen misioner ordo, khususnya di berbagai medan budaya, sosial, dan spiritual dunia masa kini. Sembari bersyukur atas dedikasi dan pengorbanan para misionaris lintas generasi, Ordo Trinitarian merayakan satu abad perjalanan ketika sebuah komunitas misi yang kecil telah bertumbuh menjadi Gereja yang hidup dan terus mewartakan Injil sebagai tanda harapan, kebebasan, dan belas kasih.