Renungan Hari Minggu: Selamat Mencoba Mengabaikan Ibu!
Oleh Jenny Kraska
Dalam Injil, kita menemukan salah satu contoh iman yang paling luar biasa dalam seluruh Kitab Suci. Seorang perempuan Kanaan datang kepada Yesus dengan permohonan yang penuh keputusasaan: “Kasihanilah aku, Tuhan, Anak Daud! Anakku kerasukan setan.”
Permohonannya lahir dari hati seorang ibu. Ia tidak meminta sesuatu untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anaknya. Pada awalnya, jawaban yang diterimanya sama sekali tidak menggembirakan.
Yesus tampaknya diam. Para murid ingin mengusir perempuan itu. Bahkan ketika Yesus berbicara, kata-kata-Nya tampak seperti sebuah penghalang yang menghadangnya.
Namun, perempuan itu menolak untuk berkecil hati. Ia terus memohon. Ia percaya bahwa belas kasih Yesus lebih besar daripada segala rintangan.
Akhirnya, Yesus menanggapi dengan kekaguman:
Pada saat itu juga, anak perempuan tersebut disembuhkan.
Pada akhir bulan ini, Gereja merayakan pesta Santa Monika, seorang ibu lain yang imannya tidak pernah menyerah. Selama bertahun-tahun, Monika berdoa bagi pertobatan putranya, Agustinus.
Ia menyaksikan putranya menjauh dari iman, menerima berbagai filsafat yang keliru, dan menjalani kehidupan yang jauh dari Injil yang sangat ia cintai. Ia memahami kepedihan melihat seorang anak yang dikasihi berjalan menjauh dari jalan kebenaran.
Seperti perempuan Kanaan, Monika juga mengalami saat-saat yang mungkin terasa seperti keheningan. Tahun demi tahun berlalu. Doanya tampak tidak mendapatkan jawaban. Namun, ia menolak menyerahkan harapan.
Air matanya menjadi doa. Doanya menjadi ketekunan. Dan ketekunannya menjadi salah satu kesaksian paling kuat dalam sejarah Kekristenan. Pertobatan Santo Agustinus mengingatkan kita bahwa Allah sering bekerja menurut waktu-Nya sendiri, yang berbeda dari waktu kita.
Monika tidak memperoleh jawaban secara langsung, tetapi ia tetap teguh. Pada akhirnya, putranya tidak hanya menjadi seorang Kristiani, tetapi juga salah satu santo, teolog, dan pujangga Gereja terbesar.
Kedua perempuan tersebut mengungkapkan sesuatu yang mendalam tentang hakikat kasih. Kasih sejati tidak meninggalkan orang yang dikasihi ketika kesulitan datang. Kasih terus berharap, berdoa, dan percaya. Kasih mereka mencerminkan hati keibuan Santa Perawan Maria.
Di Kana, Maria menjadi perantara bagi sepasang suami istri muda yang sedang mengalami kesulitan. Di Kalvari, ia berdiri dengan setia di bawah salib Putranya. Sebagai Bunda Gereja, ia terus membawa kebutuhan kita kepada Kristus dengan penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.
Banyak orang tua dan kakek-nenek saat ini memikul beban yang sama seperti Monika dan perempuan Kanaan. Mereka berdoa bagi anak-anak yang telah menjauh dari iman, bergumul dengan kecanduan, menderita sakit, atau membawa luka yang tampaknya melampaui kemampuan untuk disembuhkan.
Injil ini memberikan penguatan kepada semua orang yang berdoa dengan hati yang terluka. Allah mendengar setiap doa. Tidak ada air mata yang ditumpahkan karena kasih yang sia-sia. Tidak ada permohonan yang disampaikan dalam iman yang luput dari perhatian-Nya.