2022.09.30 Sunday Gospel Reflections

Refleksi Hari Minggu: Tabahlah, Jangan Takut!

Saat Gereja merayakan Minggu XIX dalam Masa Biasa, Romo Luke Gregory, OFM, merefleksikan tema: “Tabahlah. Jangan takut!”

Oleh Romo John Luke Gregory, OFM, Kustodi Tanah Suci

Dalam keheningan kehidupan, kita sering menemukan diri berada di tengah lautan ketidakpastian. Kisah Yesus berjalan di atas air menjadi pengingat yang kuat bagi umat Kristiani di mana pun untuk berani dan memeluk iman, terutama ketika menghadapi ketakutan dan keraguan. Setelah memberi makan orang banyak, sebuah tindakan kasih yang membuat banyak orang takjub, Yesus meminta para murid-Nya naik ke perahu dan berlayar mendahului-Nya ke seberang Danau Galilea. Momen ini menandai peralihan dari pelayanan publik menuju refleksi yang lebih mendalam tentang iman dan pengabdian. Yesus, Sang Gembala, meluangkan waktu untuk membubarkan orang banyak, menekankan pentingnya kesunyian dan doa.

Ia naik ke gunung untuk berdoa, meninggalkan para murid mengarungi perairan seorang diri. Ketika malam tiba, para murid berada beberapa mil dari pantai, terjebak dalam gelombang yang bergolak ketika angin menderu menghantam perahu mereka. Ini bukan malam biasa di tengah laut; ini adalah ujian iman. Para murid adalah nelayan yang berpengalaman, tetapi dahsyatnya badai mencengkeram hati mereka dengan ketakutan. Dalam konteks kehidupan kita, seberapa sering kita menemukan diri berada dalam badai serupa, diliputi berbagai pencobaan dan penderitaan yang tampaknya tidak mungkin diatasi?

Pada giliran jaga keempat malam itu, ketika kegelapan mencapai puncaknya dan harapan tampak semakin jauh, Yesus datang kepada para murid dengan berjalan di atas air yang mengancam untuk menelan mereka. Reaksi awal mereka adalah ketakutan karena mengira melihat hantu di tengah badai. “Itu hantu,” teriak mereka ketakutan. Betapa mudahnya kita menyerah pada ketakutan ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita kenal! Namun, Yesus, dengan suara yang mampu menenangkan badai yang paling dahsyat sekalipun, meyakinkan mereka: “Tabahlah, Aku ini; jangan takut.” Pernyataan ini sangat kuat; ia menyatakan kehadiran ilahi-Nya bahkan dalam situasi kita yang paling sulit.

Respons Petrus sekaligus berani dan penuh pertanyaan. Ia berkata, “Tuhan, apabila itu Engkau, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Momen ini menggambarkan hakikat iman dan kerinduan jiwa manusia untuk terhubung dengan Yang Ilahi. Yesus hanya menjawab, “Datanglah.” Satu kata ini menjadi undangan, bukan hanya bagi Petrus, tetapi bagi kita semua. Panggilan untuk datang merupakan tantangan untuk keluar dari zona nyaman, mengambil risiko dalam iman, dan percaya pada kehadiran Yesus.

Ketika Petrus melangkah keluar dari perahu dan mulai berjalan di atas air, kenyataan tentang angin dan gelombang perlahan memenuhi kesadarannya. Ini merupakan metafora yang kuat: ketika kita berfokus pada persoalan dan tantangan di sekitar kita, kita dengan mudah dapat tenggelam dalam keraguan dan keputusasaan. “Tetapi ketika ia melihat betapa kuatnya angin itu, ia menjadi takut; dan ketika mulai tenggelam, ia berteriak, ‘Tuhan, tolonglah aku!’” Seruan yang begitu nyata ini menggema dalam diri siapa pun yang pernah mengalami saat-saat rentan dan penuh kegentingan dalam hidupnya. Dalam keputusasaan itu, Yesus segera menjawab. Ia mengulurkan tangan-Nya dan menangkap Petrus seraya berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Ini menjadi pengingat menyentuh tentang pergulatan iman kita. Setiap orang mengalami saat-saat keraguan, tetapi dalam saat-saat tersebut kita dapat berseru kepada Yesus, yang selalu siap menanggapi seruan pertolongan kita. Teguran-Nya yang lembut menjadi panggilan untuk memperdalam kepercayaan kepada-Nya.

Setelah mereka kembali dengan selamat ke perahu, angin pun reda dan hati semua yang berada di sana dipenuhi rasa kagum dan hormat. Mereka menyadari keilahian Yesus dan berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Pengakuan ini menjadi puncak perjalanan mereka dari ketakutan menuju iman. Hal ini menjadi undangan bagi kita untuk mengenali Yesus dalam kehidupan kita, serta menghormati kuasa dan kasih-Nya, bahkan di tengah badai yang kita hadapi.

Sebagai orang beriman, kisah ini menantang kita untuk merefleksikan hubungan kita dengan ketakutan dan iman. Undangan ilahi untuk berani terus bergema sepanjang zaman, menguatkan kita dalam keraguan dan ketidakpastian. Kisah ini mengingatkan kita bahwa Yesus berjalan bersama kita, bahkan ketika kita tidak dapat melihat-Nya, dan bahwa seruan pertolongan kita tidak pernah tidak didengar.

Di dunia yang dipenuhi berbagai pencobaan dan penderitaan, sabda Kristus bergema secara mendalam: “Tabahlah; Aku ini; jangan takut.” Dalam saat-saat ketakutan, marilah kita mengingat para murid di dalam perahu dan Petrus di atas air. Marilah kita memeluk keberanian dan melangkah dalam iman, dengan mengetahui bahwa Yesus menyertai kita dan siap menangkap kita ketika kita tersandung. Kehadiran-Nya mengubah malam-malam tergelap kita menjadi hari-hari penuh harapan dan kepastian.

Semoga kita hidup dengan pengetahuan dan iman bahwa Dia adalah Anak Allah, hadir sepenuhnya dalam kehidupan kita dan mampu menenangkan badai yang mengancam kedamaian kita.

Dalam perjalanan hidup, semoga kita senantiasa menghayati pesan Kitab Suci ini: tabahlah, jangan takut, dan percayalah bahwa Yesus selalu hadir, mengulurkan tangan-Nya untuk membimbing kita melewati badai ketakutan menuju ketenangan rahmat-Nya.

08 Aug 2026, 09:28