Ratusan Ribu Umat Katolik Vietnam Ziarah di Goa Maria La Vang
Oleh Paolo Affatato
Pada 13-15 Agustus, Tempat Ziarah Nasional Bunda Maria dari La Vang di Keuskupan Agung Huế, Vietnam, menggelar perayaan besar dengan tema datang kepada Maria, “ke rumah Bunda,” untuk menemukan penghiburan dan belajar menjadi murid serta misionaris sejati.
“Tempat ziarah ini berada di jantung iman masyarakat Vietnam, yang memiliki devosi khusus kepada Bunda Maria dari La Vang karena alasan historis dan budaya. La Vang adalah seperti Lourdes bagi Vietnam,” kata Pastor Landry Varenne, imam Vietnam dari Serikat Misi Asing Paris, merujuk pada ziarah besar yang berlangsung dalam rangka Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Para peziarah datang dari Vietnam bagian utara, selatan, dan tengah, serta dari komunitas-komunitas Vietnam yang berada di luar negeri.
Tahun ini, jumlah mereka diperkirakan lebih dari 200.000 orang, menurut perkiraan Gereja setempat.
Teladan bagi Masyarakat Vietnam
Pastor Francis menyoroti iman umat yang begitu kuat.
“Semua orang percaya pada apa yang disampaikan Maria kepada leluhur kami pada 1789, yakni bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan kami. Kami percaya bahwa Bunda kami mendengarkan doa-doa kami bagi negara, bagi Gereja di Vietnam, dan bagi perdamaian,” katanya.
Menurutnya, devosi tersebut diwujudkan melalui berbagai praktik iman, seperti Misa, Sakramen Rekonsiliasi, Jalan Salib, dan perayaan Jam Kerahiman.
“Umat beriman merasa bahwa mereka berada di dalam hati sang Bunda, di bawah mantelnya; Maria adalah tempat perlindungan mereka,” tegasnya.
Devosi tersebut juga memiliki dimensi misioner yang sangat kuat dan menjadi salah satu penekanan utama Kongres Ziarah tahun ini.
“Dengan mengikuti teladan Maria, umat belajar membawa Tuhan dan kasih-Nya kepada orang lain,” jelasnya.
Asal-usul Devosi kepada La Vang
Sejarah devosi kepada La Vang bermula pada 1798, salah satu periode paling keras dalam sejarah penganiayaan terhadap umat Kristiani di Vietnam.
Kaisar Cảnh Thịnh memerintahkan penghancuran gereja-gereja dan penganiayaan terhadap umat Katolik karena mereka dianggap sebagai pengikut “agama asing.”
Banyak umat terpaksa melarikan diri dan mencari perlindungan di hutan lebat La Vang. Di sana mereka mengalami kelaparan, penyakit, dan kedinginan, sekaligus hidup dalam ketakutan akan ditemukan dan dibunuh.
Setiap malam, para pengungsi berkumpul di bawah sebuah pohon beringin besar, menyalakan api, dan berdoa Rosario.
Dalam salah satu doa malam tersebut, seorang Perempuan yang diselimuti cahaya menampakkan diri. Ia mengenakan pakaian tradisional Vietnam, menggendong Kanak-kanak Yesus, dan didampingi oleh dua malaikat.
Pesan yang disampaikannya terutama merupakan pesan penghiburan:
“Anak-anak-Ku, kuatlah dan teguhlah dalam iman. Aku telah mendengar doa-doamu.”
Maria sebagai Perempuan Vietnam
Menjadi penting bahwa Maria menampakkan diri dengan wajah dan pakaian yang mencerminkan seorang perempuan Vietnam.
Gambarnya, yang terutama sejak akhir abad ke-20 disebarluaskan secara luas oleh Gereja setempat, mengungkapkan hubungan yang mendalam antara iman dan identitas masyarakat Vietnam.
Setelah berabad-abad umat Katolik dituduh sebagai pengikut “agama asing,” La Vang kini menjadi kesaksian bahwa seseorang dapat “sepenuhnya Katolik dan sekaligus sepenuhnya Vietnam,” demikian ditegaskan para uskup.
Devosi yang Mendalam di Kalangan Umat Katolik Vietnam
Di atas segalanya, La Vang menghadirkan gambaran seorang Bunda yang ikut ambil bagian dalam penderitaan anak-anaknya.
Maria menampakkan diri kepada mereka yang dianiaya, orang sakit, dan para pengungsi yang tidak berdaya.
Karena itu, Bunda Maria dari La Vang kemudian dikenal sebagai “Bunda Para Pengungsi,” sebuah kehadiran yang menenangkan luka sebuah bangsa yang mengalami perang, invasi, dan penganiayaan.
Iman sebagai Kenangan yang Hidup
Hingga kini, para peziarah terus berusaha menjaga kenangan tersebut tetap hidup.
Mereka tidur di tenda-tenda di bawah naungan pohon beringin, berdoa Rosario, dan selama perayaan menampilkan kembali melalui pertunjukan drama kisah pelarian pada 1798 serta penampakan Bunda Maria.
Dengan demikian, devosi tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi berubah menjadi kenangan yang hidup, yang mampu menghubungkan sejarah iman dengan kehidupan nyata komunitas-komunitas setempat.