Kongres di Panama menyerukan Gereja melindungi komunitas tuli
Oleh Vatican News bekerja sama dengan DCYIA – Panama City, Panama
Kongres Internasional Pertama tentang Pelecehan Seksual terhadap Anak-anak Tuli mempertemukan para pemimpin Gereja, pakar perlindungan, para penyintas, dan para pembela hak-hak penyandang tuli guna memperkuat perlindungan bagi anak-anak tuli dan orang-orang rentan.
Diselenggarakan pada 8–11 Juli 2026 dengan tema “Bersama Mengubah Budaya Kekerasan ” ,kongres ini diprakarsai oleh Inisiatif Kaum Muda Tuli Katolik Untuk Amerika” (DCYIA) CEPROME, dan Keuskupan Agung Panama yang dipimpin oleh Uskup Agung José Domingo Ulloa Mendieta, O.S.A.
Para peserta dari Argentina, Kosta Rika, Guatemala, Honduras, Meksiko, Panama, Amerika Serikat, Venezuela, dan Vatikan berkumpul untuk menghadapi kenyataan yang menyakitkan: banyak penyintas tuli selama ini tetap tidak terlihat dan tidak terdengar akibat isolasi, hambatan komunikasi, serta kurangnya saluran pelaporan yang mudah diakses.
Seruan untuk pertobatan
Membuka kongres dengan Perayaan Ekaristi, Uskup Agung Ulloa menggambarkan pertemuan tersebut sebagai "sebuah jalan pertobatan" yang menuntut Gereja belajar cara baru untuk mendengarkan.
"Selama bertahun-tahun, kita mengira bahwa penyandang tuli harus menyesuaikan diri dengan struktur pastoral kita. Kini kita memahami bahwa Injil justru meminta kebalikannya. Gerejalah yang harus mempelajari bahasa perjumpaan."
Kongres ini juga mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin Gereja yang turut ambil bagian dalam perayaan liturgi, termasuk Uskup Agung John Kennedy, Sekretaris Seksi Disipliner Dikasteri Ajaran Iman; Kardinal José Luis Lacunza Maestrojuán, O.A.R.; Pastor Basil Ikechukwu Mbah, Sekretaris Nunsiatur Apostolik di Panama; serta Uskup Agung Ulloa.
Aksesibilitas sebagai inti perlindungan
Berbagai presentasi utama menghadirkan para ahli tuli maupun pendengar dari bidang pelayanan pastoral, hukum kanonik, psikologi, advokasi hukum, dan pendampingan penyintas.
Para pembicara antara lain Maryann Barth, MA; Laureen Lynch-Ryan, MSW; Daiana Gisel Lizarraga; Nancy Cortez, ILSA; Deborah Pizarro, ILSA; Mg. Lic. Gema Lara Lanteri; Dr. Oscar Gerardo Barrera; Dra. Patricia Espinoza Hernandez; Uskup Agung John Kennedy; Dr. Consuelo Manero Soto; Dr. Daniel Portillo Trevizo; serta Pastor Joseph Mulcrone.
Topik yang dibahas mencakup budaya tuli, sejarah kekerasan terhadap komunitas tuli, kasus-kasus Institut Próvolo di Argentina, akuntabilitas menurut hukum kanonik, protokol perlindungan di keuskupan, serta penyembuhan pastoral jangka panjang.
Salah satu ciri utama kongres ini adalah akses komunikasi yang sepenuhnya inklusif. Seluruh sesi diselenggarakan menggunakan empat bahasa isyarat—Argentina, Meksiko, Panama, dan Bahasa Isyarat Amerika—serta bahasa Inggris dan Spanyol.
Pastor Joseph Mulcrone mengatakan bahwa penggunaan berbagai bahasa lisan dan bahasa isyarat tersebut menyampaikan pesan yang jelas: "Komunitas tuli bukan sekadar objek pelayanan, melainkan mitra yang aktif dan tak tergantikan dalam upaya perlindungan."
Tim penerjemah menyediakan akses komunikasi selama sesi resmi, waktu makan bersama, pertemuan informal, diskusi sinodal, hingga percakapan di luar jadwal resmi, sehingga peserta tuli maupun pendengar dapat berpartisipasi secara penuh sekaligus memberikan teladan nyata mengenai aksesibilitas dalam kehidupan Gereja.
Mendengarkan melalui sinodalitas
Para peserta juga mengikuti Meja-meja Sinodal, yaitu diskusi kelompok kecil yang mempertemukan peserta tuli dan pendengar, para penyintas, serta para ahli hukum kanonik untuk berbagi pengalaman dan mengusulkan solusi praktis dalam upaya perlindungan.
Proses ini menegaskan bahwa perlindungan tidak dapat dipisahkan dari sikap mendengarkan, akses terhadap bahasa, dan partisipasi aktif mereka yang paling terdampak.
Komitmen yang melampaui Panama
Para peserta menyebut Kongres Panama sebagai titik balik bagi iman, perlindungan, dan advokasi bagi penyandang disabilitas. Mereka menegaskan bahwa bahasa isyarat komunitas tuli harus diakui dan martabat penyandang tuli harus dilindungi.
Pertemuan ini juga menetapkan standar baru bagi tata kelola Gereja dan advokasi yang dipimpin oleh komunitas tuli, dengan menunjukkan bahwa penyandang tuli bukan hanya penerima perlindungan, tetapi juga mitra dalam membangun lingkungan yang aman.
Pastor Mulcrone mengaitkan kongres tersebut dengan seruan yang lebih luas dalam ajaran sosial Gereja Katolik.
Dengan membangun jembatan melampaui hambatan bahasa, Kongres Panama meluncurkan sebuah jaringan internasional yang berkomitmen memastikan bahwa tidak ada seorang anak ataupun orang rentan, dalam bahasa apa pun, yang dibiarkan tanpa perlindungan dan tanpa didengarkan.