Cari

Kardinal Bo dari Myanmar: Kita tidak sendirian dalam “badai” Kardinal Bo dari Myanmar: Kita tidak sendirian dalam “badai”  (Cardinal Charles Maung Bo of Myanmar)

Kardinal Bo dari Myanmar: Kita tidak sendirian dalam “badai”

Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon, Myanmar, mengingatkan umat beriman di negaranya bahwa, betapapun berat penderitaan yang mereka alami, mereka tidak sendirian. Kristus senantiasa menyertai mereka. Ia juga mengajak kaum muda Myanmar yang tengah menghadapi berbagai pergumulan untuk menjadi “laki-laki dan perempuan yang memiliki suara hati.”

Oleh Deborah Castellano Lubov

“Kadang-kadang kita berdoa: ‘Tuhan, singkirkanlah badai ini.’ Namun Yesus mungkin terlebih dahulu berkata: ‘Anak-Ku, Aku bersamamu di tengah badai.’ Inilah perbedaan yang penting. Iman tidak selalu berarti bahwa tidak akan ada badai. Iman berarti: kita tidak menghadapi badai seorang diri.”

Kardinal Charles Maung Bo, Uskup Agung Yangon, Myanmar, menyampaikan hal tersebut dalam perayaan Misa pada Minggu Biasa ke-19.

Dalam homilinya, Presiden Konferensi Waligereja Myanmar itu mengingatkan umat beriman bahwa, seperti para murid yang ketakutan di tengah badai dalam bacaan Injil hari itu menurut Santo Matius, mereka dipanggil untuk meninggalkan ketakutan dan meneguhkan keberanian, dengan keyakinan bahwa Tuhan senantiasa berada di sisi mereka.

Myanmar telah mengenal banyak badai

Kardinal Bo mengatakan bahwa bacaan-bacaan Kitab Suci hari itu berbicara sangat mendalam mengenai situasi Myanmar saat ini, sebab “Myanmar telah mengenal banyak badai.”

Ia secara khusus menyebut badai konflik dan kekerasan, pengungsian dan kemiskinan, ketakutan dan ketidakpastian, dukacita dan kehilangan. Semua itu, katanya, telah “merenggut rumah, sekolah, mata pencaharian, dan terkadang juga nyawa orang-orang yang mereka kasihi.”

“Banyak keluarga,” demikian pengakuan Kardinal Bo, “bertanya: ‘Kapan badai ini akan berakhir?’ Banyak orang muda bertanya: ‘Masa depan seperti apa yang akan saya miliki?’ Banyak orang tua merasa cemas: ‘Apakah anak-anak saya akan aman?’”

Ia mengakui bahwa sebagian orang bahkan mungkin bertanya: “Di manakah Allah?”

Dalam konteks ini, Kardinal Bo mengatakan bahwa bacaan pertama, yang mengisahkan bagaimana Allah tidak meninggalkan Elia meskipun tampaknya demikian, “memberikan jawabannya.”

Allah tetap hadir, tegasnya. Namun Elia harus belajar mengenali kehadiran-Nya. Allah tidak ditemukan dalam peristiwa-peristiwa besar atau spektakuler seperti yang dibayangkan Elia, melainkan hadir dengan cara yang “hening.”

Allah menyertai umat-Nya dalam keheningan

Kardinal Bo mengatakan bahwa kehadiran Allah dapat dilihat dalam “seorang ibu yang menghibur anaknya, seorang ayah yang melindungi keluarganya, seorang imam yang tetap tinggal bersama umatnya dalam masa-masa sulit, atau para suster yang melayani keluarga-keluarga yang mengungsi.”

Pada kesempatan lain, lanjutnya, Allah hadir melalui “seseorang yang membagikan sedikit makanan kepada orang lain yang kelaparan; melalui seorang Kristiani yang berkata: ‘Aku tidak akan membenci’; melalui seseorang yang berkata: ‘Aku memilih perdamaian’; melalui seseorang yang berkata: ‘Marilah kita berdamai kembali.’”

Kardinal Bo mengakui bahwa tindakan-tindakan tersebut mungkin tampak kecil.

“Namun terkadang, hembusan lembut Allah tersembunyi dalam tindakan-tindakan kasih yang sederhana.”

Beban berat yang dipikul kaum muda

Kardinal Bo juga menyampaikan pesan iman dan penguatan kepada kaum muda, yang menurutnya kini memikul beban yang sangat berat.

Sebagian dari mereka, katanya, “mengalami pendidikan yang terputus. Sebagian terpisah dari keluarga. Sebagian kehilangan sahabat. Sebagian tidak yakin akan masa depan mereka.” Yang lain mungkin tergoda untuk percaya bahwa generasi mereka tidak memiliki masa depan.

Dalam situasi tersebut, ia menyerukan kepada kaum muda agar tidak menyerahkan masa depan mereka kepada kebencian.

“Jangan biarkan luka-luka hari ini,” katanya, “menentukan seluruh kisah hidupmu.”

Laki-laki dan perempuan yang memiliki suara hati

Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka bukan sekadar korban sejarah. Mereka dapat menjadi pembangun sejarah baru dan pembawa damai.

Kardinal Bo mengingatkan bahwa mereka dapat menjadi guru, dokter, insinyur, petani, wartawan, biarawan dan biarawati, imam, orang tua, maupun pemimpin masyarakat. Namun di atas semuanya itu, ia mengajak mereka untuk menjadi “laki-laki dan perempuan yang memiliki suara hati.”

Mengingatkan betapa pentingnya kaum muda dan talenta mereka bagi masa depan Myanmar, Kardinal Bo menegaskan:

“Yesus berkata kepada kalian hari ini: ‘Teguhkanlah hatimu. Aku ini. Jangan takut.’”

Ia juga mengatakan bahwa di tengah “dunia yang penuh kebisingan”, khususnya akibat hiruk-pikuk politik dan media sosial yang menyebarkan ketakutan, kemarahan, propaganda, dan rumor, manusia dapat semakin sulit mendengar suara Allah. Namun, apa pun yang terjadi, suara itu selalu ada dan kita harus menemukan kembali suara-Nya.

Tetaplah memandang kepada Yesus

Kardinal Bo kembali mengingatkan umat beriman bahwa Kristus menyertai kita dan bahwa iman selalu memiliki kata akhir. Karena itu, ia mengajak umat untuk senantiasa mengarahkan pandangan kepada Yesus.

Ia mengundang umat untuk bersatu dengannya dalam doa, memohon kepada Yesus agar menyertai seluruh rakyat Myanmar serta menganugerahkan kepada mereka keberanian, kebijaksanaan, dan hati yang terbuka bagi rekonsiliasi.

Kardinal Bo menutup doanya dengan harapan akan datangnya hari:

“ketika badai-badai berhenti, air mata dihapuskan, keluarga-keluarga kembali ke rumah, anak-anak kembali ke sekolah, komunitas-komunitas dibangun kembali, dan rakyat Myanmar sekali lagi dapat hidup bersama dalam damai, martabat, keadilan, dan rekonsiliasi. Amin.” 

11 Aug 2026, 10:28