Harmoni Kebijaksanaan: Musik Menjadi Katalis untuk Mendengarkan Hati
Oleh Chainarong Monthienvichienchai
Dengan jemarinya yang menari di atas gelas-gelas anggur berisi air, Weerapong Taweesak menciptakan melodi lembut yang membuat puluhan pelajar menyimak dalam keheningan. Pemain glass harp itu kemudian membagikan pengalamannya ketika tampil di sebuah penjara di Bangkok. Ia menceritakan bagaimana seni dan kesediaan untuk mendengarkan dalam keheningan mampu menembus bahkan hati manusia yang paling tertutup sekalipun.
Taweesak tampil sebagai salah satu dari empat mentor dalam MISSION POSSIBLE Youth Social Hackathon musim ketiga yang berlangsung pada 25–27 Juli.
Kegiatan selama tiga hari ini diselenggarakan bersama oleh Dewan Pendidikan Katolik Thailand dan LiCAS News di Salesian Retreat House serta Hua Hin Vittayalai School. Acara tersebut menjadi ruang bagi kaum muda untuk memperoleh inspirasi, berkolaborasi mencari solusi atas berbagai persoalan sosial, serta membangun harapan bersama melalui tema sinodal, "Together We Make a Better World Possible" (Bersama Kita Mewujudkan Dunia yang Lebih Baik).
Pada akhir kegiatan, 12 tim dari berbagai sekolah Katolik di Thailand mempresentasikan proyek mereka untuk memperoleh pendanaan awal (seed funding) agar gagasan-gagasan tersebut dapat diwujudkan menjadi aksi nyata.
Semangat sinodal melampaui perbedaan
Walaupun berakar pada tradisi Katolik, hackathon ini diikuti oleh peserta dengan latar belakang agama yang beragam. Mayoritas di antara mereka bahkan beragama Buddha.
Di tengah keberagaman tersebut, para peserta muda menghidupi semangat sinodal—sebuah konsep yang terus didorong oleh mendiang Paus Fransiskus—yang mengajak Gereja dan seluruh keluarga manusia untuk saling mendengarkan secara mendalam, berjalan bersama, dan bertindak dengan penuh harapan.
Mengubah cara berpikir
Hari pertama, 25 Juli, difokuskan untuk membantu para peserta menemukan makna dan tujuan dari proyek yang akan mereka kerjakan.
Sejumlah inovator sosial yang bertindak sebagai mentor membagikan kisah perjuangan hidup mereka, mulai dari menghadapi berbagai tantangan, bangkit dari keterpurukan, hingga menemukan harapan. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi setiap tim dalam menyempurnakan konsep proyek sosial mereka.
Salah seorang mentor menceritakan pengalamannya menghadapi kanker sebanyak tiga kali. Ia menegaskan bahwa sikap positif yang teguh mampu mengubah penderitaan yang tampaknya tak tertanggungkan menjadi sumber kekuatan.
Mentor lainnya berbagi pengalaman ketika terjun langsung menemui para pengunjuk rasa di depan Gedung Pemerintah. Menurutnya, perubahan hanya mungkin terjadi ketika seseorang bersedia hadir bersama mereka dan mendengarkan secara mendalam ketidakadilan yang mereka alami.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah penampilan Weerapong Taweesak bersama glass harp-nya.
"Menarik perhatian para narapidana adalah satu hal, tetapi memperoleh kepercayaan mereka bahwa kita benar-benar hadir bagi mereka jauh lebih sulit," katanya. "Namun ketika saya memainkan glass harp di hadapan mereka, mereka dapat merasakan bahwa saya sungguh hadir untuk mereka. Saat itulah kami siap saling mendengarkan."
Musik mengajarkan kebijaksanaan
Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh para peserta muda.
"Musik membuat kami memberikan perhatian sepenuhnya dan membantu kami mendengarkan secara mendalam apa yang disampaikannya," ujar Korn, siswa kelas 11 dari St. Peter's School di Thonburi. "Kami belajar menggunakan kebijaksanaan sejati dalam mengembangkan proyek kami, bukan hanya mengandalkan kecerdasan teknis."
Rekan sekelasnya, Noppanant, menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, penggunaan glass harp sebagai media komunikasi membuka wawasan baru mengenai cara-cara kreatif untuk menyentuh kehidupan orang lain melalui proyek-proyek sosial.
Dari gagasan menuju tindakan nyata
Memasuki sesi intensif pada 26 Juli, para pelatih profesional di bidang komunikasi mendampingi setiap tim untuk mengembangkan gagasan awal menjadi solusi yang lebih terstruktur dan siap diterapkan.
Persahabatan baru pun terjalin di antara para peserta yang berasal dari berbagai sekolah dan daerah. Berbagai gagasan yang sebelumnya bersifat individual berkembang menjadi semangat kolaborasi bersama.
Menjelang presentasi akhir pada 27 Juli, para peserta mulai melangkah melampaui teori. Mereka tidak hanya merancang solusi, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi warga yang aktif menghadirkan perubahan di tengah masyarakat.
Kepada para peserta, panitia memberikan pesan penyemangat sebelum presentasi proyek dilakukan.
"Saya sungguh percaya bahwa ketika kalian mampu mempresentasikan gagasan dan memperoleh pendanaan untuk mewujudkannya, kalian dapat mengubah hidup kalian sendiri, kehidupan orang lain, bahkan masyarakat secara luas. Namun memperoleh pendanaan bukanlah hadiah, melainkan sebuah tanggung jawab dan misi untuk mewujudkan dunia yang lebih baik."
Melalui perpaduan antara kreativitas teknologi dan empati yang mendalam terhadap sesama, para peserta MISSION POSSIBLE menunjukkan bahwa kemampuan mendengarkan dengan hati dapat menjadi fondasi bagi lahirnya inovasi yang membawa dunia menuju kehidupan yang lebih adil, manusiawi, dan harmonis.