Hackathon Sosial Kaum Muda Ditutup dengan Berbagai Gagasan Mengenai Kesehatan Mental dan Ekologi
Oleh Chainarong Monthienvichienchai & June Nattha Nuchsuwan
Dengan memilih platform digital yang dirancang khusus sebagai sarana utama untuk menciptakan perubahan sosial, para agen perubahan muda tersebut mempresentasikan berbagai solusi nirlaba yang inovatif guna menjawab sejumlah tantangan sosial, ekologis, dan kemanusiaan yang terus dihadapi Thailand.
Kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh Catholic Education Council of Thailand dan LiCAS News di Salesian Retreat House serta Hua Hin Vittayalai School, di kota resor Hua Hin, dengan tema "Together We Make a Better World Possible" (Bersama Kita Mewujudkan Dunia yang Lebih Baik).
Melanjutkan kesuksesan penyelenggaraan tahun 2024 dan 2025, Youth Social Hackathon tahun ini ditutup dengan presentasi singkat berdurasi lima menit dari setiap tim peserta. Memperebutkan dana awal (seed funding), para "peretas" muda tersebut memaparkan proyek-proyek yang ditujukan untuk melayani kepentingan bersama, bukan untuk memperoleh keuntungan komersial.
Iman yang diwujudkan dalam tindakan dan panggilan sinodal
Hari terakhir diawali dengan Ibadat Sabda yang dipimpin oleh Uskup Emeritus Joseph Prathan Sridarunsil dari Keuskupan Surat Thani, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Komunikasi Sosial Thailand.
Dalam homilinya, Uskup Prathan mengajak para siswa untuk menghayati panggilan Injil sebagai "garam dan terang dunia" dengan menjaga kebaikan dalam masyarakat serta menghadirkan berbagai solusi yang membawa pembaruan.
Mengingatkan bahwa usaha manusia memperoleh kekuatan sejatinya dari rahmat Allah, Uskup Prathan menegaskan, "Bersama Tuhan, bahkan misi yang tampaknya mustahil dapat menjadi Mission Possible."
Sepanjang kegiatan, para penyelenggara terus mendorong setiap tim agar model teknologi yang mereka kembangkan mencerminkan semangat sinodal, yakni saling mendengarkan secara mendalam, berjalan bersama, dan melibatkan mereka yang berada di pinggiran masyarakat.
Walaupun para peserta berasal dari berbagai latar belakang agama, kelompok yang mayoritas beragama Buddha tersebut menyambut baik visi pastoral ini.
"Sesi ini bukan sekadar mengembangkan inovasi teknis. Ini menjadi pengalaman nyata tentang Gereja yang mau mendengarkan, mempercayai, dan memberdayakan kaum muda sehingga melahirkan gagasan-gagasan yang benar-benar berdampak dalam kehidupan nyata," ujar salah seorang mentor kegiatan.
Solusi terbaik untuk kesehatan mental dan martabat ekologis
Tim yang seluruh anggotanya perempuan dari Assumption Convent School, Bangkok, yang dikelola oleh Suster-suster St. Paul de Chartres, menerima hibah awal (seed funding) terbesar senilai 110.000 Baht Thailand atau sekitar US$3.200.
Proposal mereka berfokus pada krisis kesehatan mental yang semakin meningkat di kalangan remaja Thailand, yang diperparah oleh tekanan akademik, konektivitas digital, kecemasan ekonomi, serta berbagai persoalan pribadi lainnya.
Pranchalee Chitvimolrat, siswi kelas 11 di Assumption Convent School, menjelaskan bahwa timnya menghabiskan lebih dari dua bulan untuk mengadakan diskusi mingguan sebelum akhirnya menentukan fokus proyek mereka.
"Meskipun sekolah kami sangat memprioritaskan kesehatan mental dan bahkan menyediakan layanan konseling langsung dari psikiater, krisis depresi di kalangan anak-anak tetap berlangsung," kata Pranchalee dengan senyum gembira setelah timnya memperoleh hibah tersebut.
"Kami menyadari bahwa perasaan-perasaan kecil namun penting sering diabaikan hingga berkembang menjadi stres berat atau bahkan tindakan menyakiti diri sendiri. Karena itu, kami ingin mendeteksi akar masalah sejak dini," tambahnya.
Melalui dana hibah tersebut, tim berencana mengembangkan aplikasi seluler yang mampu memantau kondisi emosional sejak tahap awal serta membangun hubungan antarmanusia melalui sistem dukungan dari teman sebaya (peer support).
Walaupun pengembangan aplikasi akan dikerjakan bersama para pengembang profesional, Pranchalee menegaskan bahwa seluruh konsep dan rancangan pengalaman pengguna tetap sepenuhnya berada di tangan tim mereka.
Sementara itu, tim dari Theppamit Suksa School di Surat Thani, Thailand selatan, menerima hibah sebesar 75.000 Baht Thailand atau sekitar US$2.200. Mereka menempuh perjalanan selama tujuh jam untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Proyek mereka menerapkan prinsip sinodalitas dalam pengelolaan sampah dan pemberdayaan pekerja sektor informal.
"Pada awalnya kami memiliki begitu banyak gagasan yang berbeda," ujar Kritapob Kaewhitnui, siswa kelas 11.
"Namun setelah benar-benar mendengarkan setiap anggota tim, termasuk mereka yang mewakili kelompok-kelompok yang berada di pinggiran masyarakat, kami memutuskan untuk mengatasi persoalan sampah," katanya.
Tim tersebut mengusulkan aplikasi seluler ringan yang menghubungkan para pengumpul sampah informal dengan rumah tangga yang ingin menjual barang-barang bekas mereka.
Platform digital itu diharapkan dapat membuat rute pengumpulan sampah menjadi lebih efisien, mengurangi biaya pembuangan bagi masyarakat, sekaligus memberikan penghasilan yang lebih adil dan lebih pasti bagi para pekerja sanitasi informal yang selama ini sering kurang mendapat perhatian.
Foto: Para “hackers” muda memilih solusi massalah sosial kronis di dalam komunitas mereka di hari terakhjir MISSION POSSIBLE Thailand Musim 3, 27 Juli 2026. (Foto oleh Komsos Katolik Thailand)
Dana hibah sebesar 40.000 Baht Thailand atau sekitar US$1.200 juga diberikan kepada Don Bosco Technical School, satu-satunya sekolah kejuruan yang berpartisipasi pada musim ini.
Proposal mereka lahir dari keprihatinan terhadap stigma yang masih melekat pada siswa sekolah kejuruan di Thailand, yang kerap dipandang kurang berpendidikan dan kurang berperilaku baik.
Mereka berharap dapat mengubah pandangan tersebut melalui sebuah platform digital yang menghubungkan masyarakat yang tidak mampu memperbaiki mobil maupun mesin mereka dengan para siswa sukarelawan. Program ini akan dimulai dari sekolah mereka sendiri dan kemudian diperluas ke sekolah-sekolah kejuruan di seluruh Thailand.
Dukungan dari Vatikan dan Korps Diplomatik
Para peserta juga menerima berbagai pesan dukungan dari para pemimpin Gereja yang menyampaikan sambutan pada sesi pembukaan acara.
Dalam pesan video dari Vatikan, Suster Nina Benedikta Krapić, MVZ, Wakil Direktur Kantor Pers Takhta Suci, memuji para peserta karena memandang inovasi melalui perspektif kepedulian terhadap sesama.
Suster Krapić, yang hadir secara langsung pada dua penyelenggaraan sebelumnya, mengatakan bahwa pertumbuhan relasi antarpeserta jauh lebih berharga daripada hasil teknologi yang mereka ciptakan.
"Mendengarkan gagasan-gagasan kalian dan melihat kreativitas kalian memberi saya harapan besar akan masa depan," katanya.
"Sering kali kalian bahkan lebih berani daripada orang dewasa dalam mempertahankan martabat manusia," tambah pakar komunikasi tersebut.
Merujuk pada ajaran sosial Gereja Katolik, Suster Krapić juga mengutip ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, seraya mengingatkan bahwa "kualitas suatu peradaban diukur bukan dari kekuatan sarana yang dimilikinya, melainkan dari kepedulian yang mampu diberikannya."
Pastor François-Xavier Collin dari Nunsiatur Apostolik di Thailand juga mengingatkan bahwa hackathon ini bukan sekadar kompetisi akademik atau teknologi.
Ia mengajak para peserta untuk mengembangkan "sikap hati", bersikap jujur dalam mengenali luka-luka sosial, serta saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
"Jika kalian menyampaikan kebenaran dengan jujur dan dari hati, Allah dapat berbicara melalui kalian kepada kami dan kepada seluruh dunia," tegas Pastor Collin.
Saat MISSION POSSIBLE Youth Social Hackathon 2026 berakhir, ketujuh puluh peserta meninggalkan Hua Hin dengan membawa penghargaan, purwarupa teknologi, dan rencana aksi yang siap diterapkan di komunitas mereka masing-masing.
Gagasan-gagasan penuh harapan yang mereka presentasikan mencerminkan semangat kegiatan ini, yakni memadukan teknologi dengan sikap mendengarkan secara empatik, inklusivitas, dan pelayanan kepada masyarakat yang rentan.
MISSION POSSIBLE merupakan program unggulan LiCAS News untuk pemberdayaan kaum muda yang diselenggarakan bersama lembaga-lembaga pendidikan Katolik dan organisasi yang berfokus pada pengembangan kaum muda.
MISSION POSSIBLE Youth Social Hackathon pertama kali diselenggarakan di Thailand pada tahun 2024. Program ini kemudian diperluas ke Filipina pada tahun 2025, dan para penyelenggara berencana menghadirkannya di negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Artikel ini awalnya diterbitkan di https://www.licas.news/. Hak cipta dilindungi undang-undang. Publikasi ulang tanpa izin oleh pihak ketiga tidak diperkenankan.