Dari Paroki ke Tingkat Nasional: Perjuangan Lima Tahun Charis India Membela Kehidupan
Oleh Agnel Maria – Bangalore, India
Lebih dari 5.000 orang berkumpul di Stella Maris College, Chennai, pada 9 Agustus 2026 untuk mengikuti Aksi Jalan Nasional untuk Kehidupan yang kelima di India. Gerakan ini mencerminkan perjuangan berkelanjutan keluarga, mahasiswa, dan para relawan awam yang selama lima tahun bekerja di paroki, perguruan tinggi, dan komunitas masing-masing untuk membela kehidupan anak yang belum lahir.
Upaya tersebut menjadi semakin kompleks di tengah masyarakat India yang memiliki keragaman agama dan budaya yang sangat besar.
Gerakan yang berakar di komunitas
Aksi tahun ini diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Madras-Mylapore dan diorganisasi oleh CHARIS India di bawah Konferensi Waligereja India (CBCI).
Apa yang pada awalnya hanya berupa pertemuan tahunan kemudian berkembang menjadi sebuah jaringan nasional yang lebih terstruktur.
Untuk pertama kalinya, Keuskupan Agung membentuk Sel Pro-Life di setiap paroki. Langkah tersebut menjadi fondasi organisasi yang melibatkan para relawan awam terlatih untuk mendampingi keluarga dalam persoalan kehidupan, jauh sebelum kehamilan yang mengalami krisis berpotensi berujung pada aborsi.
Kaum awam memimpin gerakan
Uskup Agung Francis Kalist, yang telah mendampingi Aksi Jalan untuk Kehidupan sejak awal pembentukannya, secara terbuka mengakui dari mana kekuatan gerakan tersebut berasal.
Ia menegaskan bahwa inisiatif tersebut pada dasarnya merupakan gerakan kaum awam. Keluarga dan para relawan awamlah yang pertama kali menyampaikan keprihatinan tersebut kepadanya, bahkan sebelum persoalan itu secara resmi dibahas dalam forum CBCI.
Hal tersebut menunjukkan sebuah kenyataan penting: dalam komunitas Katolik India yang luas dan terdesentralisasi, perubahan yang bermakna sering kali justru berawal dari tingkat akar rumput, bukan dari instruksi kelembagaan.
Uskup Agung Francis Kalist juga menggemakan seruan untuk bertindak dengan mengutip pengingat dari Venerabilis Fulton Sheen bahwa "kalian, umat, yang harus menyelamatkan Gereja dan membela kehidupan."
Melindungi mereka yang tidak mampu bersuara
Kardinal Antony Poola, Presiden CBCI, menjelaskan tujuan kegiatan tersebut dalam perspektif yang sama. Menurutnya, misi Gereja adalah melindungi mereka yang tidak mampu membela diri, khususnya anak-anak yang belum lahir dan menghadapi risiko aborsi serta kaum lanjut usia yang rentan terhadap eutanasia.
Ia mendesak keuskupan-keuskupan dan lembaga-lembaga Katolik di seluruh India untuk memastikan bahwa komitmen tersebut diwujudkan dalam tindakan yang berkelanjutan.
Ia juga memperingatkan agar jangan sampai terjadi masa depan ketika lembaga-lembaga masih tetap berdiri, sementara orang-orang yang seharusnya mereka layani sudah tidak ada lagi.
Para pemimpin Gereja hadir
Aksi Jalan tersebut dihadiri sejumlah pemimpin Gereja, yang semakin menegaskan arti pentingnya kegiatan ini pada tingkat nasional.
Kardinal Antony Poola, Uskup Agung Hyderabad dan Presiden CBCI, hadir sebagai tamu utama sekaligus memimpin kegiatan tersebut.
Ia didampingi Uskup Agung George Antonysamy, Uskup Agung Madras-Mylapore sekaligus Presiden Dewan Uskup Tamil Nadu, yang keuskupan agungnya menjadi tuan rumah kegiatan.
Hadir pula Uskup Agung Francis Kalist, Uskup Agung Pondicherry-Cuddalore, Penasihat Episkopal CHARIS India dan penanggung jawab Pro-Life CBCI, yang lima tahun lalu menginisiasi Aksi Jalan tersebut.
Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh di luar hierarki Gereja.
Thiru J. C. D. Prabhakar, Ketua Majelis Legislatif Tamil Nadu, turut hadir. Kehadirannya menunjukkan bahwa pesan Aksi Jalan untuk Kehidupan semakin mendapat perhatian melampaui batas-batas denominasi.
Dr. Paul Dhinakaran, pemimpin utama Jesus Calls Ministry, juga hadir dan memberikan dimensi ekumenis dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran bersama para tokoh Gereja, legislatif, dan pelayanan Kristen tersebut mencerminkan cakupan gerakan yang ingin menyuarakan pembelaan terhadap anak-anak yang belum lahir melampaui batas denominasi dan institusi.
Hari untuk bersaksi dan mengenang
Rangkaian kegiatan memadukan kesaksian publik dengan keterlibatan pribadi.
Acara tersebut mencakup Run for Life sejauh lima kilometer di sekitar Marina Beach, Pameran Pro-Life, serta Seminar Kehidupan yang diikuti ribuan kaum muda sebelum Aksi Jalan dimulai.
Dalam pameran tersebut, organisasi seperti Life For All, Eva Pro Life, dan Saved Pearl Foundation berinteraksi langsung dengan para mahasiswa dan keluarga.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Perayaan Ekaristi untuk mengenang anak-anak yang kehilangan nyawa akibat aborsi di India. Perayaan tersebut menjadi kesempatan bagi keluarga-keluarga yang hadir untuk mengenang mereka sekaligus memperbarui komitmen.
Tongkat estafet diserahkan kepada Hyderabad
Sebelum kegiatan berakhir, panji Aksi Jalan Nasional untuk Kehidupan, bersama gambar Bunda Maria dari Guadalupe, secara resmi diserahkan kepada perwakilan Keuskupan Agung Hyderabad dan Dewan Uskup Katolik Telugu.
Penyerahan tersebut menegaskan bahwa Aksi Jalan Nasional untuk Kehidupan keenam akan berlangsung di Hyderabad pada 8 dan 9 Agustus 2027.
Bagi sebuah negara yang ditandai keragaman budaya dan agama yang sangat besar, para penyelenggara kembali menunjukkan pada 9 Agustus 2026 sebuah pendekatan yang terukur dan bertahap. Gerakan tersebut tidak bertumpu pada keseragaman, melainkan pada keterlibatan yang berkelanjutan di tingkat paroki, keluarga, dan percakapan pribadi.