Caritas Indonesia Bergerak Menanggapi Gempa Bumi di Flores
Oleh Gabriel Abdi Susanto
Caritas Indonesia telah menggerakkan jaringan kemanusiaan Gereja Katolik di berbagai keuskupan sebagai tanggapan atas gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu dini hari. Gempa tersebut memicu tsunami dan menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah.
Gempa terjadi pada pukul 04.58.24 WIB, dengan pusat gempa berada sekitar 30 kilometer di sebelah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Gempa tersebut menimbulkan tsunami dengan perubahan muka air laut tertinggi tercatat mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende.
Peringatan tsunami secara resmi dicabut pada pukul 07.31.30 WIB, setelah berlangsung sekitar dua jam 33 menit.
Laporan awal menunjukkan bahwa gempa terasa kuat di berbagai wilayah Flores serta sebagian wilayah Sumba, Adonara, dan Solor. Kabupaten Nagekeo, Ngada, Ende, Sikka, Manggarai, dan Manggarai Barat menjadi wilayah yang diprioritaskan untuk dilakukan asesmen lebih lanjut.
Pada saat laporan ini ditulis, data resmi yang telah dihimpun mengenai korban meninggal, korban luka, warga yang mengungsi, serta rumah-rumah yang rusak masih dalam proses verifikasi.
Menurut data awal Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada sore hari 15 Agustus, sebanyak 38 orang dilaporkan meninggal dunia.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah infrastruktur, termasuk Pelabuhan Lorenz Say yang dilaporkan roboh serta kerusakan pada terminal penumpang Pelni di Maumere. Laporan mengenai kerusakan rumah dan bangunan umum, serta kemungkinan terjadinya longsoran batu, masih dalam proses verifikasi.
Caritas mengaktifkan tanggapan seluruh Gereja
Caritas Indonesia segera berkoordinasi dengan Keuskupan Ruteng, Labuan Bajo, Kupang, Maumere, dan Ende untuk memantau situasi serta melakukan penilaian dampak bencana di wilayah masing-masing.
“Caritas Indonesia bergerak cepat menanggapi bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan Gereja Katolik di Indonesia,” kata Romo Fredy Rante Taruk, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia.
Ia mengatakan Caritas telah berkoordinasi dengan tim-tim Caritas di keuskupan serta Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), guna memastikan respons awal dapat segera dilakukan.
“Mulai hari ini, mobilisasi para relawan dan tim Caritas di setiap keuskupan sudah berlangsung, termasuk memberikan bantuan dan mendukung upaya evakuasi bagi masyarakat yang terdampak gempa,” tambahnya.
Respons tersebut dilakukan dengan semangat “Satu Gereja, Satu Tanggapan”, yang menyatukan berbagai unsur Gereja Katolik untuk bekerja sama dalam semangat persaudaraan dan solidaritas.
“Caritas mengerahkan seluruh komponen Gereja untuk bekerja bersama, membangun sinergi dan saling mendukung, sehingga kita dapat merespons situasi kemanusiaan dengan cepat dan efektif serta menjangkau masyarakat dan komunitas yang terdampak,” kata Romo Fredy.
Paroki-paroki turut bergerak
Gereja-Gereja lokal di keuskupan-keuskupan yang terdampak, dengan dukungan para uskup, juga mendorong paroki-paroki untuk mengambil peran aktif dalam tanggap darurat.
Menurut laporan situasi Caritas, paroki-paroki diminta melakukan koordinasi di tingkat lokal dan mengumpulkan informasi mengenai dampak bencana di komunitas masing-masing, sebelum meneruskannya kepada pihak keuskupan.
Caritas Ruteng, misalnya, telah mengevakuasi para pasien dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat dan mendirikan tenda-tenda darurat bagi para pasien sebagai langkah pencegahan terhadap gempa susulan serta kemungkinan kerusakan bangunan rumah sakit.
Caritas Indonesia juga mengaktifkan Jaringan Respons Darurat Karina (KERNET) utama untuk berbagi informasi dan melakukan koordinasi darurat di antara jaringan Caritas.
Setelah berkoordinasi dengan berbagai keuskupan di NTT, Caritas Indonesia memutuskan untuk melaksanakan tanggap darurat melalui jaringan nasional Caritas Indonesia dan mengaktifkan Dana APP Tanggap Darurat Nasional.
Caritas Indonesia juga mengaktifkan Tim Respons Krisis (CRT) Keuskupan Maumere untuk mendukung.
Kebutuhan mendesak
Penilaian awal yang dilakukan jaringan Caritas mengidentifikasi sejumlah kebutuhan mendesak, antara lain dukungan evakuasi dan keselamatan, air bersih, makanan siap santap, perlengkapan tempat tinggal sementara, perlengkapan kebersihan, layanan kesehatan darurat, serta bantuan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil dan ibu menyusui, penyandang disabilitas, serta mereka yang membutuhkan obat-obatan secara rutin.
Caritas juga menekankan pentingnya informasi yang dapat dipercaya dan koordinasi hingga tingkat paroki, terutama karena gempa susulan masih terjadi dan informasi yang keliru dapat menimbulkan risiko tambahan bagi masyarakat yang terdampak.
Romo Fredy menegaskan bahwa tanggapan Gereja tidak terbatas pada Caritas sebagai sebuah lembaga, tetapi melibatkan seluruh komunitas Gereja.
Karena itu, “Satu Gereja, Satu Tanggapan” menjadi semangat yang memandu respons kemanusiaan Gereja Katolik: keuskupan, paroki, tim Caritas, para relawan, dan berbagai unsur Gereja bekerja bersama agar bantuan dapat secepat mungkin menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Situasi masih terus berkembang. Caritas Indonesia akan terus memperbarui informasi seiring tersedianya hasil asesmen cepat serta data resmi dari lembaga-lembaga pemerintah dan jaringan Caritas.