Beato Władysław Findysz Beato Władysław Findysz   (©findysz.org)

Bertemu dengan Martir Pertama Polandia dari Era Komunisme

Menanggapi umat Polandia yang berkumpul dalam Audiensi Umum, Paus Leo mengenang sosok Beato Władysław Findysz martir pertama yang dibeatifikasi akibat penganiayaan komunis di Polandia. Inilah kisah romo yang, menurut Paus, “mengingatkan kita bahwa peradaban kasih dibangun dengan mengampuni dan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.”

Oleh Dorota Abdelmoula-Viet

Menanggapi para peziarah Polandia yang hadir dalam Audiensi Umum hari ini, Paus Leo XIV mengenang sosok Beato Władysław Findysz, martir pertama yang dibeatifikasi dari penganiayaan komunis di Polandia. Paus mengatakan bahwa beato ini “mengingatkan kita bahwa peradaban kasih dibangun dengan mengampuni dan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.”

Kisah Beato Findysz mengungkap sejauh mana permusuhan penguasa komunis terhadap Gereja Katolik.

Karena dituduh secara tidak benar memaksa orang-orang menjalankan praktik keagamaan, ia dijatuhi hukuman dua setengah tahun penjara. Selama menjalani masa tahanan, Romo Findysz mengalami kekerasan fisik dan psikologis, sementara pihak berwenang mencegahnya menjalani operasi kanker kerongkongan yang telah direncanakan.

Setelah dibebaskan dalam kondisi sangat lemah, ia meninggal beberapa bulan kemudian dan dikenang sebagai seorang yang kudus.

“Baik penjara maupun kematian tidak dapat memisahkannya dari Kristus ataupun dari kawanan domba yang dipercayakan kepadanya,” tulis Paus Fransiskus tentang dirinya dalam pesan untuk memperingati 50 tahun kemartirannya. “Semoga Beato Władysław menjadi ajakan bagi semua romo untuk setia, hidup kudus, dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Kristus serta saudara-saudari mereka dalam pelayanan sehari-hari. Semoga ia menjadi tanda dan teladan bagi seluruh umat beriman akan kepercayaan kepada Allah dan keterikatan radikal kepada Kristus serta nilai-nilai yang ditawarkan Injil kepada semua orang.”

Romo muda Władysław Findysz
Romo muda Władysław Findysz   (@https://www.santiebeati.it/)

Panggilan yang ditempa melalui masa kanak-kanak yang penuh kesulitan

Findysz lahir pada tahun 1907 di Krościenko Niżne, dekat Krosno di Polandia selatan, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Austria. Masa kecilnya ditandai oleh kemiskinan yang melanda wilayah tersebut dan tragedi pribadi ketika ia kehilangan ibunya sebelum berusia lima tahun.

Beberapa tahun kemudian, setelah kehancuran akibat Perang Dunia I dan 123 tahun Polandia terpecah, Polandia kembali muncul di peta Eropa sebagai negara berdaulat. Findysz tumbuh dalam bayang-bayang pengalaman perang, yang dampaknya juga dirasakan di daerah asalnya. Pada tahun 1927, setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia memutuskan untuk menjadi Romo dan masuk Seminari Tinggi di Przemyśl. Di sanalah dimulai perjalanan hidup yang membuatnya dengan heroik menghayati kata-kata Santo Paulus bahwa tidak ada sesuatu pun yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah.”

Seorang Romo di tengah luka dan kehancuran akibat perang

Setelah ditahbiskan menjadi Romo dan menjalankan pelayanan di beberapa paroki — termasuk di Borysław dan Drohobych, yang kini berada di Ukraina, karena sebagian wilayah bekas Keuskupan Przemyśl sekarang berada di luar perbatasan timur Polandia — ia ditugaskan ke Nowy Żmigród. Saat itu ia tentu tidak pernah membayangkan bahwa Gereja Santo Petrus dan Paulus, tempat ia melayani sebagai pastor paroki, kelak akan menjadi tempat ziarah yang didedikasikan untuk dirinya.

Wilayah multikultural dan multireligius tempat ia melayani menjadi titik perjumpaan berbagai tradisi dan budaya. Romo muda ini dikenal karena kehangatan dan kepeduliannya yang luar biasa kepada seluruh penduduk, sekaligus karena ketegasannya, terutama terhadap dirinya sendiri.

Umat parokinya membawa luka yang masih segar dan mendalam akibat Perang Dunia II. Pemerintah Jerman secara paksa memindahkan seluruh penduduk kota, termasuk Romo Findysz, dan kota Nowy Żmigród hampir seluruhnya hancur. Setelah kembali pada 23 Januari 1945, Romo tersebut mengabdikan diri untuk membangun kembali kehidupan paroki dan membantu warga yang terdampak perang. Tak lama kemudian, ia menghadapi ancaman lain: represi dari pemerintah komunis dan kampanye sistematis mereka untuk menghapus kehidupan beragama.

Foto terakhir Romo Findysz, ketika kesehatannya telah rusak akibat pemenjaraan dan kurangnya perawatan medis
Foto terakhir Romo Findysz, ketika kesehatannya telah rusak akibat pemenjaraan dan kurangnya perawatan medis

“Ia dilahirkan untuk menjadi Romo”

“Pada masa-masa yang sangat sulit itu, ketika tanah ini berada di bawah pendudukan,” kenang salah seorang sahabatnya, Mieczysław Brożyna, “ia berusaha memberi kami harapan dengan mengatakan bahwa semua ini akan berlalu, dan akan tiba saatnya ketika orang-orang memandang kehidupan secara berbeda. Ia tahu bagaimana berempati kepada orang lain dan menghibur mereka. Ia membantu orang miskin dan orang sakit.”

Romo Findysz mempertaruhkan nyawanya untuk membantu orang-orang yang dianiaya atau berada dalam bahaya kematian, tanpa memandang kebangsaan atau agama mereka, termasuk orang-orang Yahudi yang ia bantu melarikan diri ke Hungaria. “Ia ingin membawa seluruh paroki kepada Allah. Ia merasa bertanggung jawab atas setiap orang dan setiap keluarga. Ia sendiri membantu orang-orang dan meminta orang lain membantu mereka yang membutuhkan. Saya pikir ia dilahirkan untuk menjadi Romo.”

Rasul persatuan di antara umat

Romo Findysz memahami bahwa tahun-tahun sulit setelah perang dapat memperdalam perpecahan di tengah bangsa yang telah sangat menderita akibat perang dan pendudukan. Selain memberikan bantuan praktis kepada umat parokinya, ia menjadi pembela persatuan nasional dan pewarta harapan yang tak tergoyahkan dalam setiap aspek kehidupan. Ia melakukan hal itu berseberangan dengan kebijakan negara komunis pascaperang, yang berusaha menyingkirkan Allah dari kehidupan publik serta melakukan represi terhadap Gereja Katolik dan para Romonya.

Ia populer di kalangan kaum muda dan dihormati oleh umat parokinya. Tak lama kemudian, ia menjadi duri dalam daging bagi penguasa komunis. Sejak 1946, ia telah berada di bawah pengawasan Kantor Keamanan, sebuah kepolisian politik rahasia yang digunakan rezim untuk menghancurkan oposisi dan mengendalikan masyarakat. Pada 1952, otoritas sekolah menghentikannya dari tugas mengajar katekese di sekolah menengah setempat. Kemudian, pihak berwenang dua kali menolak memberikan izin kepadanya untuk tinggal di wilayah perbatasan, sehingga ia tidak dapat menjalankan pelayanan pastoral di sebagian wilayah parokinya.

Namun, masa penganiayaan terberat yang dialaminya bertepatan dengan berlangsungnya Konsili Vatikan II.

“Aksi Kebaikan Konsili”

Ketika Paus Yohanes XXIII, dalam Konsili, mengajak umat beriman memberikan dukungan rohani melalui doa dan “karya-karya kebaikan”, Kardinal Stefan Wyszyński menanggapinya dengan meluncurkan sebuah inisiatif di Polandia yang dikenal sebagai “Aksi Kebaikan Konsili”. Inisiatif ini mendorong tindakan nyata kasih dan doa dalam keluarga-keluarga serta komunitas-komunitas Polandia sebagai bentuk dukungan terhadap upaya Konsili memperbarui kehidupan moral Gereja.

“Semangat pengampunan, rekonsiliasi dan kerukunan, memaafkan kesalahan-kesalahan kalian, baik yang nyata maupun yang dibayangkan, mengulurkan tangan persaudaraan dalam persahabatan, senyuman dan tatapan penuh kebaikan kepada semua orang — inilah bentuk bantuan terbaik dan paling efektif bagi persatuan umat Kristiani,” tulis para uskup pada waktu itu.

Aksi-Aksi Kebaikan Konsili menjadi unsur penting dalam program pastoral Polandia yang berkaitan dengan Konsili dan menjadi fenomena dalam skala yang jarang terlihat dalam Gereja universal.

Romo Findysz juga bergabung dalam inisiatif ini dan mendorong umat parokinya untuk ambil bagian. Setelah menjalani operasi tiroid dan mengalami masalah pada suaranya, ia menulis lebih dari seratus surat kepada umat paroki sebagai ungkapan kepedulian pribadi dan penuh perhatian. Dalam surat-surat tersebut, antara lain, ia mendorong mereka untuk memelihara kehidupan sakramental, membebaskan diri dari kecanduan, serta mencari rekonsiliasi dan mengakhiri konflik dalam keluarga maupun antara para tetangga.

Kepada mereka yang hidup dalam hubungan yang bukan perkawinan sakramental, ia mengingatkan perlunya berdamai dengan Allah dan menata kembali keadaan mereka dalam Gereja, serta menawarkan bantuan agar mereka dapat melangsungkan perkawinan sakramental. Sebagian penerima surat merasa tersinggung oleh imbauan tersebut dan mengajukan pengaduan kepada pemerintah komunis. Pengaduan-pengaduan itu kemudian dijadikan dasar untuk menuduh Romo Findysz memaksa warga menjalankan praktik dan ritus keagamaan, yang berujung pada proses hukum dan sebuah persidangan sandiwara.

Dipenjarakan karena imannya

Pada 1963, ia ditangkap dan dipenjarakan di penjara kastel di Rzeszów. Penghinaan serta kekerasan fisik dan psikologis yang dialaminya di penjara menjadi tanda nyata kebencian penguasa terhadap dirinya. Ia antara lain dituduh melanggar Konstitusi dan hati nurani masyarakat serta memaksa orang-orang mengakui iman Katolik. Dalam sebuah persidangan sandiwara, ia dijatuhi hukuman dua setengah tahun penjara.

Ia menjalani dua bulan pertama hukumannya di Rzeszów. Pada 25 Januari 1964, ia dipindahkan ke Penjara Pusat di Jalan Montelupich, Kraków. Meskipun pada saat itu telah dikonfirmasi bahwa ia menderita kanker dan sangat membutuhkan perawatan, pihak penjara dan otoritas kehakiman menolak memberinya perawatan medis yang layak serta mencegahnya menjalani operasi kanker kerongkongan yang telah dijadwalkan sebelumnya, meskipun otoritas keuskupan dan pengacaranya telah melakukan intervensi.

Akibatnya, ditambah kekerasan fisik dan psikologis yang dialaminya, kondisi kesehatannya memburuk dengan cepat. Pada 29 Februari 1964, ia dibebaskan secara bersyarat dalam keadaan sangat lemah. Ia kembali ke Nowy Żmigród dan meninggal pada 21 Agustus 1964, dikenang sebagai seorang yang kudus. Ia dibeatifikasi di Warsawa pada 19 Juni 2005.

Kerumunan umat beriman dalam pemakaman Romo Findysz.
Kerumunan umat beriman dalam pemakaman Romo Findysz.
19 Aug 2026, 16:34