Cari

Gereja Katolik di Papua Nugini Gereja Katolik di Papua Nugini 

125 Tahun Iman Katolik Tumbuh di Papua Nugini

Dari 14 hingga 17 Agustus 2026, Keuskupan Bougainville merayakan 125 tahun kehadiran misioner Katolik di wilayah utara negara tersebut. Perayaan ini menjadi penghormatan bagi generasi para misionaris, katekis, dan umat beriman setempat yang mempertahankan kehidupan Gereja di tengah perang, krisis, dan perubahan sosial.

Oleh Sr. Christine Masivo, CPS

Ketika Keuskupan Bougainville di Papua Nugini menandai 125 tahun sejak kedatangan para misionaris Katolik pertama, perayaan tersebut bukan sekadar mengenang masa lalu.

Selama lebih dari satu abad, Gereja telah melewati berbagai kesulitan dan perang di negara tersebut dan berkembang menjadi komunitas lokal yang hidup dengan lebih dari 200.000 umat Katolik yang tersebar di 35 paroki.

Dari Stasi Misi Menjadi Paroki

Berakar pada kedatangan awal para misionaris Marist di Pokpok pada 1901 dan Buin pada 1903, Gereja lokal berkembang berkat dedikasi para misionaris dan katekis awam.

Iman tetap bertahan melewati Perang Dunia II dan krisis Bougainville—konflik yang berlangsung dari 1988 hingga 1998 antara pemerintah Papua Nugini dan kelompok-kelompok separatis di Pulau Bougainville.

Puncak perayaan ulang tahun yang berlangsung pada 14–17 Agustus 2026 akan membawa sejarah tersebut ke masa kini.

Kardinal Luis Antonio Tagle akan memimpin Misa Yubileum meriah pada 16 Agustus di Katedral Our Lady of the Assumption di Hahela.

Kunjungan tersebut juga mencakup pelayanan pastoral di paroki dan rumah sakit, pertemuan dengan para pemimpin daerah, serta pemberkatan sebuah gedung keuskupan yang baru.

Menuju Kepemimpinan Lokal

Direktur Nasional Serikat Karya Kepausan Romo Christian Sieland tumbuh besar di Papua Nugini pada masa ketika hampir 90 persen Gereja lokal terdiri atas para misionaris asing, menurut kantor berita Fides milik Vatikan.

“Ayah saya adalah seorang misionaris awam yang direkrut oleh Misereor di Jerman, dan ia bekerja bersama para imam serta bruder dan suster selama lebih dari 20 tahun,” katanya.

Kini Romo Sieland menjadi imam lokal yang berada pada momen penting dalam peralihan dari Gereja misioner menuju Gereja yang sepenuhnya lokal. “Saya percaya nilai paling penting yang saya warisi adalah rasa hormat dan penghargaan,” ujar Sieland. “Panggilan saya sendiri dibentuk oleh keluarga dan kesaksian para misionaris.”

Setelah menjadi relawan bersama Serikat Sabda Allah (SVD) di Papua Nugini dari 1999 hingga 2000, persahabatannya dengan para misionaris membangkitkan panggilan untuk menjadi imam.

Iman, Budaya, dan Rekonsiliasi

Gereja di Papua Nugini telah melewati berbagai generasi pelayanan misioner. Dekade 1990-an dan 2000-an membawa peningkatan signifikan dalam panggilan dari masyarakat pribumi, yang melahirkan generasi pemimpin Kristiani lokal saat ini.

Papua Nugini merupakan salah satu negara dengan keragaman budaya terbesar di dunia, dengan lebih dari 800 bahasa serta banyak komunitas etnis dan suku. Keragaman tersebut dapat menciptakan perpecahan, tetapi sekaligus dapat menjadi sumber persatuan yang mendalam.

Gereja telah membantu membangun persatuan tersebut melalui pendirian sekolah, penyediaan layanan kesehatan, dan pembentukan komunitas-komunitas pastoral yang mempertemukan masyarakat melampaui batas-batas kesukuan.

“Dalam dewan pastoral paroki, bukan sesuatu yang luar biasa melihat anggota komunitas yang secara historis merupakan rival bekerja bersama sebagai satu keluarga Kristiani,” kata Romo Sieland.

Namun, berbagai tantangan serius masih tetap ada.

Pertikaian-pertikaian kecil, perpecahan politik, tuduhan terkait ilmu sihir, kekerasan, serta sistem pembalasan tradisional masih menyebabkan penderitaan di sejumlah komunitas. “Gereja berusaha menghadapi realitas tersebut dengan kepekaan pastoral sekaligus kejelasan mengenai praktik-praktik yang tidak sesuai dengan iman Kristiani,” jelasnya.

Pusat-pusat pastoral menyediakan pelatihan mengenai penyelesaian konflik, mediasi perdamaian, serta pendampingan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga dan tuduhan ilmu sihir.

Para mediator yang dilatih Gereja terkadang dipanggil untuk memasuki wilayah-wilayah yang sedang mengalami konflik antarsuku.

Romo Sieland menyoroti pelayanan tersebut dengan mengatakan bahwa melalui karya seperti itu, Injil menjadi lebih dari sekadar pesan yang diwartakan dari mimbar. Injil menjadi kekuatan nyata bagi penyembuhan dan rekonsiliasi.

Masa Depan Gereja Melanesia

Papua Nugini memiliki keragaman suku dan budaya yang sangat kaya, dan inkulturasi tetap menjadi sebuah perjalanan yang terus berlangsung.

“Bangsa kita harus didorong untuk mempertahankan bahasa, warisan budaya, dan nilai-nilai mereka, sekaligus menjadikan Injil sungguh-sungguh milik mereka sendiri,” kata Romo Sieland.

Rasa hormat dan penghargaan terhadap masa lalu sangat penting agar iman dapat semakin berakar.

“Papua Nugini diberkati dengan santo nasional mereka, Santo Peter ToRot, yang memberikan gambaran kuat mengenai persatuan,” kata Romo Sieland.

Meskipun berasal dari Rabaul, umat Katolik di seluruh negeri menganggapnya sebagai milik mereka karena ia dikenang sebagai seorang katekis, martir, dan umat Katolik yang setia.

“Hal ini menunjukkan peluang luar biasa yang kita miliki untuk membangun persekutuan yang sejati.”

Setelah 125 tahun di Bougainville dan lebih dari satu abad evangelisasi Katolik di berbagai wilayah Papua Nugini lainnya, Gereja kini berdiri di ambang tahap baru.

Para misionaris masa lalu telah meletakkan fondasinya. Gereja lokal masa kini harus membangun di atas fondasi tersebut. Tantangannya besar, tetapi demikian pula harapannya.

Jika iman, budaya, rekonsiliasi, dan kepemimpinan lokal terus berkembang bersama, generasi mendatang tidak hanya akan mewarisi Gereja yang berhasil bertahan melewati sejarahnya, tetapi juga Gereja yang mampu mengubah masa depan. 

14 Aug 2026, 12:49