Ziarah Maria di Flores Menginspirasi Kepedulian pada Ciptaan
Oleh Romo Kasmir Nema, SVD – Labuan Bajo, Indonesia
Sebuah ziarah Maria yang melintasi perbukitan dan desa-desa di Pulau Flores mengajak umat Katolik memperdalam bukan hanya devosi mereka kepada Bunda Maria, tetapi juga komitmen untuk merawat ciptaan.
Pada 10 Juli, Uskup Labuan Bajo, Maksimus Regus, membuka Prosesi Agung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Santo Yosef Pekerja Lengkong Cepang, yang menandai dimulainya perjalanan patung Maria Diangkat ke Surga melalui puluhan paroki menjelang puncak Festival Golo Koe pada Agustus mendatang.
Tahun ini, ziarah tersebut membawa pesan yang khas. Dengan tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”, Keuskupan Labuan Bajo menghubungkan devosi Maria dengan tanggung jawab ekologis, sejalan dengan seruan Paus Fransiskus dalam Laudato si’ mengenai pertobatan ekologis yang berakar pada iman.
Ziarah dengan misi ekologis
Fokus ekologis tersebut sudah tampak ketika festival secara resmi diluncurkan pada 4 Juni, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Berbicara di Pantai Sudamala, Labuan Bajo, Uskup Regus mengatakan bahwa umat manusia sedang menghadapi tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Ia mengajak semua orang, apa pun agamanya, untuk menjalani pertobatan ekologis yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Peluncuran tersebut diisi dengan aksi bersih pantai, penanaman pohon kelapa di sepanjang pesisir, dan pelepasan burung merpati sebagai simbol perdamaian dan kepedulian terhadap ciptaan.
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi juga mengajak para peserta memastikan bahwa pesan ekologis festival benar-benar menjadi komitmen hidup, bukan sekadar tema seremonial.
Kesaksian persaudaraan
Ziarah tersebut juga menampilkan tradisi kerukunan antarumat beragama yang hidup di wilayah tersebut.
Ketika patung Maria melewati Desa Nanga Lili, warga Muslim menyambut prosesi dengan tarian tradisional Manggarai sebagai bentuk keramahan yang mencerminkan eratnya hubungan antarumat beragama.
Patung kemudian diarak menuju Paroki Santo Yosef Pekerja diiringi doa Rosario dan lagu-lagu Maria. Setibanya di sana, umat menyambutnya dengan kain songket tradisional sebagai simbol penghormatan dan penghargaan.
“Maria selalu membawa Kristus”
Dalam Misa pembukaan, Uskup Regus merenungkan peristiwa Maria mengunjungi Elisabet dan mengingatkan umat bahwa ke mana pun Maria pergi, ia selalu membawa orang kepada Putranya.
Mengingat kunjungan Maria kepada Elisabet, ia mengatakan bahwa ziarah ini mengajak keluarga dan komunitas untuk menyerahkan harapan mereka kepada Kristus. Ia menambahkan bahwa umat Kristiani juga dipanggil menjadi pembawa harapan, sukacita, dan kasih di dunia.
Perayaan Ekaristi tersebut dikonselebresikan oleh para imam Kuria Keuskupan dan Kevikepan Wae Nakeng.
Ketua Panitia Festival Golo Koe, Romo Ivan Selman, mengatakan bahwa ziarah Maria merupakan jantung spiritual festival tersebut.
Sebelum ribuan orang berkumpul di Labuan Bajo untuk perayaan puncak, jelasnya, Maria terlebih dahulu mengunjungi setiap paroki sebagai ungkapan panggilan Gereja untuk berjalan bersama dalam persekutuan.
Iman, budaya, dan kepedulian terhadap rumah bersama
Kini memasuki penyelenggaraan yang kelima, Festival Golo Koe telah menjadi salah satu perayaan religius dan budaya terkemuka di Indonesia serta masuk dalam daftar Top 10 Kharisma Event Nusantara, program pariwisata nasional.
Terletak di dekat Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo mengalami pertumbuhan pariwisata yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Keuskupan memandang festival ini sebagai kesempatan untuk memadukan iman, budaya lokal, dan tanggung jawab lingkungan, dengan mengajak para pengunjung menikmati bukan hanya keindahan Flores, tetapi juga tanggung jawab untuk melindungi ekosistemnya yang rapuh.
Perayaan puncak festival yang dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Agustus akan mencakup pertunjukan budaya, tarian Caci khas Manggarai, perayaan Ekaristi meriah, serta berbagai inisiatif lingkungan yang melibatkan kaum muda, sekolah, dan komunitas lokal, termasuk penanaman pohon dan kegiatan bersih pantai.
Sementara itu, patung Maria Diangkat ke Surga akan melanjutkan ziarahnya melalui Kevikepan Wae Nakeng, Pacar, dan Labuan Bajo sebelum tiba di Katedral Roh Kudus pada awal Agustus untuk Prosesi Agung Maria.
Bagi Uskup Regus, perjalanan ini terutama merupakan masa doa dan pembaruan—yang dimulai dari hati umat beriman dan meluas menjadi kasih terhadap sesama serta rumah bersama yang dipercayakan kepada semua orang.