Cari

Missionaris lansia di PNG (Foto oleh Pastor Christian Sieland) Missionaris lansia di PNG (Foto oleh Pastor Christian Sieland)  (©Photo by Fr. Christian Sieland)

Warisan Para Misionaris Lanjut Usia di Papua Nugini

Setelah bertahun-tahun mengabdikan diri dalam karya misi, para misionaris lanjut usia yang pernah melayani di Papua Nugini dan kini telah kembali ke Eropa terus mewariskan kisah luar biasa tentang iman, pengorbanan, dan kasih yang tak tergoyahkan kepada masyarakat Papua Nugini. Pastor Christian Sieland, Direktur Serikat Kepausan Misi (Pontifical Mission Societies) di Papua Nugini, mengunjungi mereka dan membagikan bagaimana kerendahan hati serta komitmen mereka terhadap inkulturasi selama puluha

Oleh Sr. Christine Masivo, CPS

Pensiun dari pelayanan aktif tidak memadamkan semangat misioner para misionaris yang telah mengabdikan lebih dari lima dekade hidup mereka di Papua Nugini. Karena usia dan kondisi kesehatan, mereka akhirnya harus kembali ke negara asal mereka di Eropa. Namun, hati mereka tetap tertambat pada komunitas-komunitas yang pernah mereka layani. Bahkan, banyak di antara mereka sebenarnya ingin tetap tinggal di tanah misi dan dimakamkan di bumi yang telah mereka abdikan sepanjang hidup.

Papua Nugini dikenal sebagai negara dengan keragaman budaya yang luar biasa, memiliki lebih dari 800 bahasa dan tradisi yang hidup. Namun, banyak komunitas di daerah terpencil masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan pelayanan pemerintah. Di wilayah-wilayah seperti itulah Gereja dan para misionaris kerap menjadi penyedia utama pendidikan, layanan kesehatan, dan pendampingan masyarakat.

Misi yang Tak Pernah Berakhir

Baru-baru ini, Pastor Christian Sieland, Direktur Nasional Serikat Kepausan Misi di Papua Nugini, mengunjungi para anggota Serikat Sabda Allah (SVD) dan Suster Misionaris Abdi Roh Kudus (SSpS) yang kini tinggal di rumah-rumah perawatan di Belanda dan Jerman.

Menurut kantor berita Fides, sebagian besar misionaris yang dikunjungi kini berusia akhir 80-an hingga awal 90-an. Di antara mereka terdapat Uskup Emeritus Menurut kantor berita kepausan Fides, sebagian besar misionaris yang dikunjungi kini berusia akhir 80-an atau awal 90-an. Te Maarssen, SVD, yang mengabdikan hampir enam puluh tahun hidupnya bagi Gereja di Papua Nugini. Kongregasi SVD sendiri memainkan peranan penting dalam karya evangelisasi Papua Nugini sejak tiba di Madang pada tahun 1896.

"Apa yang paling mengesankan bagi saya dari para imam SVD," kenang Pastor Sieland, "adalah tidak satu pun dari mereka menyesali keputusan menjadi misionaris. Jika diberi kesempatan untuk mengulang hidup, mereka akan memilih jalan yang sama."

Pembangun Gereja dan Bangsa

Para misionaris itu mengenang Papua Nugini dengan penuh rasa syukur dan kasih, bukan dengan mengingat kesulitan yang mereka alami pada masa-masa awal karya misi. Percakapan mereka dipenuhi kisah tentang orang-orang yang mereka dampingi, persahabatan yang terjalin, dan komunitas-komunitas iman yang mereka bangun.

Missionaris dalam misi mereka di Papua Nugini
Missionaris dalam misi mereka di Papua Nugini

Pastor Sieland menegaskan bahwa kontribusi mereka jauh melampaui pewartaan Injil. Sambil mewartakan Kabar Baik, mereka juga meletakkan dasar bagi berdirinya sekolah, rumah sakit, paroki, dan berbagai lembaga sosial yang ikut membentuk Papua Nugini modern. Meski demikian, kerendahan hati mereka tetap menjadi teladan.

"Mereka tidak pernah membanggakan apa yang telah mereka capai karena semua yang mereka lakukan semata-mata demi kemuliaan Allah," ujar Pastor Sieland.

Mewartakan Injil Melalui Budaya

Para misionaris perintis sungguh membenamkan diri dalam budaya setempat. Mereka datang pada tahun 1950-an dan 1960-an, mempelajari bahasa-bahasa lokal, hidup bersama masyarakat, menghayati cara hidup mereka, serta berusaha memahami tradisi mereka sebelum mewartakan Injil.

"Mereka tidak menolak adat-istiadat masyarakat setempat, tetapi justru menemukan nilai-nilai yang sudah ada di dalamnya," kata Pastor Sieland. "Mereka dengan bijaksana membedakan unsur-unsur budaya yang sejalan dengan nilai-nilai Injil dan unsur-unsur yang perlu diperbarui melalui terang iman."

Sebagian misionaris bahkan menyusun kamus dan tata bahasa bagi sejumlah bahasa yang sebelumnya hanya diwariskan secara lisan, sehingga turut melestarikan warisan budaya yang sangat berharga.

Misi dalam Kesederhanaan dan Kerendahan Hati

Para misionaris ini melayani di desa-desa terpencil tanpa jalan, tanpa fasilitas modern, dan tanpa berbagai kenyamanan hidup. Namun, mereka tetap bertahan dengan penuh kesederhanaan dan ketekunan. Kehidupan bersama masyarakat setempat mengajarkan kepada mereka bahwa kesejahteraan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan materi.

"Mereka menemukan masyarakat yang memiliki ikatan mendalam dengan tanah leluhur, budaya, dan kehidupan komunal, di mana banyak nilai Injil sesungguhnya telah hidup jauh sebelum Kekristenan hadir," kata Pastor Sieland.

Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai "terjangkit virus Papua Nugini", yakni cinta yang begitu mendalam kepada masyarakat setempat hingga mengubah hati seorang misionaris untuk selamanya.

Warisan bagi Generasi Misionaris Masa Depan

"Kesaksian hidup para misionaris lanjut usia ini tetap sangat relevan, terutama ketika Gereja semakin mengandalkan kepemimpinan lokal," ujar Pastor Sieland.

Ia mengakui bahwa semangat para misionaris awal itu kadang tidak lagi tampak pada sebagian misionaris yang datang sekarang, karena sebagian besar fondasi karya misi telah dibangun oleh para pendahulu mereka.

Para misionaris masa kini memang melanjutkan karya yang telah dirintis generasi pertama. Namun, semangat perintis yang penuh keberanian dan antusiasme pada masa-masa awal memiliki keunikan tersendiri.

Pastor Sieland mengajak para imam dan misionaris muda untuk mendekati setiap budaya dengan keterbukaan, rasa hormat, dan kerelaan untuk belajar. Evangelisasi yang sejati, katanya, tidak dimulai dengan memaksakan budaya sendiri, melainkan dengan menemukan karya Allah yang telah lebih dahulu hadir dalam kehidupan masyarakat yang dilayani.

Bagi Pastor Sieland, kehidupan para misionaris yang telah pensiun menjadi pengingat bahwa warisan terbesar seorang misionaris tidak diukur dari banyaknya bangunan yang didirikan atau angka-angka statistik, melainkan dari kehidupan yang dipersembahkan melalui pelayanan yang rendah hati, kasih yang bertahan sepanjang hayat, dan Injil yang dihayati secara autentik. Kesaksian mereka terus menginspirasi Gereja untuk menghidupi perutusan yang ditandai dengan penghormatan terhadap budaya, inkulturasi, dan pengabdian tanpa pamrih kepada umat Allah.

09 Jul 2026, 10:26