Dom Inácio Saúre, Uskup Agung Nampula bersama Paus Leo XIV Dom Inácio Saúre, Uskup Agung Nampula bersama Paus Leo XIV 

Para Uskup Mozambik: Kematian Uskup Osório Dapat Menjadi Jalan Pembaruan

Setelah pertemuan dengan Paus Leo XIV di Vatikan, para uskup Mozambik mengatakan bahwa pembunuhan Uskup Osório Afonso harus menjadi jalan menuju kebenaran, rekonsiliasi, dan pembaruan bagi Gereja maupun negara.

Oleh Romo Bernardo Suate

Para uskup Mozambik mengatakan bahwa kedekatan dan solidaritas Paus Leo XIV tampak nyata bukan hanya melalui apa yang beliau tulis dan sampaikan di depan publik, tetapi juga dalam perjumpaan yang mereka alami secara langsung bersamanya.

“Dalam pertemuan kami, kami menyadari betapa baik beliau memahami realitas yang sedang kami alami di Mozambik,” kata para uskup.

Gereja di Mozambik telah menjalani tragedi ini dengan kesedihan dan keprihatinan mendalam sejak munculnya berita pembunuhan Uskup Osório pada pagi hari tanggal 6 Juni. Konferensi Waligereja menunjuk Uskup Estêvão Ângelo Fernando dari Alto Molócuè sebagai wakil untuk mendampingi situasi di Keuskupan Quelimane.

Banyak pertanyaan yang belum terjawab

Presiden Konferensi Waligereja, Uskup Inácio Saure, mengatakan bahwa secara resmi masih sangat sedikit yang diketahui mengenai keadaan seputar kematian uskup tersebut.

“Satu-satunya informasi yang diumumkan kepada publik adalah bahwa uskup ditembak dengan senjata api kaliber besar—bukan pistol biasa, melainkan senjata perang,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa setelah pembunuhan itu, Kanselir Keuskupan, yang merupakan salah satu kolaborator terdekat Uskup Osório, ditangkap. Belakangan, seorang imam lain, Romo Celso, juga ditahan, sementara telepon genggam Uskup Osório dan Uskup Estêvão Ângelo Fernando—yang ditunjuk sebagai Administrator Apostolik Quelimane—disita.

Menurut Uskup Saure, seluruh penyelidikan masih berada di tangan Dinas Investigasi Kriminal Nasional Mozambik (SERNIC).

“Sebagai Gereja, kami belum menerima informasi resmi apa pun mengenai apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Para uskup menegaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan mendasar masih belum terjawab: siapa yang membunuh Uskup Osório? Siapa yang memerintahkan kejahatan itu? Dan apa motifnya?

Keprihatinan terhadap spekulasi

Para uskup juga menyampaikan keprihatinan atas laporan yang beredar di surat kabar dan media sosial yang menyebut bahwa pembunuhan tersebut semata-mata merupakan akibat ketegangan internal dalam Gereja.

Uskup Agung João Carlos dari Maputo mengatakan bahwa pembunuhan itu sangat mengguncang umat beriman, yang terus bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang uskup dibunuh di rumahnya sendiri.

Ia menambahkan bahwa di Mozambik, spekulasi sering muncul ketika penyelidikan masih berlangsung, dan laporan media kadang-kadang memajukan teori yang belum terbukti sehingga menghambat pencarian kebenaran yang tenang dan objektif.

Seruan untuk memeriksa diri Gereja

Para uskup mengakui bahwa kematian Uskup Osório juga mendorong Gereja untuk merefleksikan secara jujur berbagai tantangan internal yang dihadapinya.

Di antaranya adalah kebutuhan akan konsistensi yang lebih besar antara apa yang dikhotbahkan sebagian imam dan kaum hidup bakti dengan cara hidup mereka. Mereka juga memperingatkan praktik para dermawan kaya yang bertindak sebagai “bapak baptis” bagi para seminaris, sehingga menciptakan hubungan yang kemudian dapat memengaruhi kebebasan dan pelayanan para imam di masa depan.

Pencarian akan kebenaran

Mengenang sejarah Mozambik dalam beberapa dekade terakhir, para uskup menyatakan kesedihan bahwa penyelidikan atas pembunuhan sejumlah politisi terkemuka, pejabat tinggi negara, dan jurnalis jarang berhasil mengungkap kebenaran secara penuh.

Tanpa mengetahui siapa pelakunya, siapa yang memerintahkannya, dan siapa yang bertanggung jawab secara hukum, rekonsiliasi yang sejati dalam masyarakat akan sulit diwujudkan.

Meski demikian, Uskup Saure menegaskan bahwa harapan tidak boleh hilang.

“Kunjungan kami ke Roma juga merupakan cara untuk menegaskan kembali bahwa kami ingin sungguh-sungguh didampingi oleh seluruh Gereja, sehingga bersama-sama kami dapat mencari jawaban yang dapat dipercaya dan berakar pada kebenaran.”

Harapan yang lahir dari tragedi

Terlepas dari rasa sakit akibat kematian Uskup Osório, para uskup meyakini bahwa jalan ke depan mulai terbentuk dan diperkuat melalui kunjungan mereka ke Roma.

Uskup Agung João Carlos mengatakan bahwa Takhta Suci, Paus Leo, dan para kolaboratornya percaya bahwa Mozambik dapat bertumbuh melalui pengalaman yang menyakitkan ini.

“Kita dapat mencapai suatu titik ketika mulai memahami bagaimana kejahatan bekerja di tengah-tengah kita,” katanya. “Dengan demikian kita dapat menjadi lebih waspada dan tampil lebih kuat menghadapi kejahatan.”

Meneruskan warisan Uskup Osório

Para uskup mengatakan bahwa langkah berikutnya adalah membagikan buah-buah kunjungan mereka kepada Konferensi Waligereja dan melanjutkan perjalanan yang sudah dimulai—perjalanan menuju kebenaran, harapan, rekonsiliasi, dan pemurnian untuk menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh kematian uskup tersebut.

Mereka menegaskan bahwa perjalanan ini tidak boleh dilakukan sendirian, melainkan bersama-sama dalam semangat sinodalitas melalui berbagai inisiatif di keuskupan-keuskupan yang akan meneruskan warisan Uskup Osório, yang mereka gambarkan sebagai gembala sejati yang memberikan hidupnya dalam pewartaan Injil.

“Martir iman”

Bagi Uskup Inácio Saure, Uskup Osório “dibunuh karena ia mencintai kehidupan.”

“Dom Osório adalah seorang martir iman,” katanya. “Gereja para martir adalah Gereja yang kuat, Gereja yang teguh. Begitulah Gereja di Mozambik menjalani saat ini—dengan harapan yang besar. Pada akhirnya, kemartiran memperkuat Gereja. Kemartiran membawa penderitaan yang luar biasa, tetapi juga membuat Gereja semakin kuat.”

10 Jul 2026, 15:13