Cari

Washington, D.C. Washington, D.C. 

Para Uskup AS Serukan Pengakhiran Bias Rasial dalam Penegakan Hukum Imigrasi

Menyusul sejumlah operasi penegakan hukum imigrasi yang berujung pada hilangnya nyawa dalam beberapa waktu terakhir, Uskup Daniel E. Garcia dan Uskup Brendan J. Cahill menerbitkan sebuah refleksi pastoral yang menyerukan agar penegakan hukum imigrasi selalu menghormati martabat setiap pribadi yang dianugerahkan Allah serta menolak dehumanisasi terhadap para imigran.

Oleh Deborah Castellano Lubov

“Sebagai umat Katolik, kami percaya bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, kami berduka atas setiap situasi ketika kehidupan manusia berakhir secara tidak wajar.”

Dengan kata-kata tersebut, Uskup Daniel E. Garcia, Ketua Subkomisi untuk Promosi Keadilan dan Rekonsiliasi Rasial Konferensi Waligereja Amerika Serikat (USCCB), bersama Uskup Brendan J. Cahill, Ketua Komite Migrasi, membuka refleksi pastoral yang mereka terbitkan menyusul sejumlah operasi penegakan hukum imigrasi yang baru-baru ini menyebabkan hilangnya nyawa di Amerika Serikat.

Refleksi para uskup yang dipublikasikan pada 20 Juli 2026 melalui situs resmi Konferensi Waligereja Amerika Serikat itu mengungkapkan dukacita atas nyawa yang hilang. Sembari menegaskan pentingnya tugas otoritas sipil, mereka menekankan bahwa penegakan hukum tidak boleh mengorbankan martabat maupun kehidupan manusia.

Kekuasaan Negara Harus Berada dalam Batas Hukum Moral

Dalam pernyataan tersebut, para uskup kembali menegaskan:

“Kami terus mengakui peran sah otoritas sipil untuk menegakkan hukum secara manusiawi dan dengan menghormati hak-hak asasi yang mendasar, termasuk hak atas hidup dan hak atas proses hukum yang adil.”

Uskup Garcia dan Uskup Cahill menegaskan bahwa “kekuasaan negara harus selalu dijalankan dalam batas-batas hukum moral.”

“Untuk itu,” lanjut mereka, “kami menyerukan akuntabilitas, transparansi, dan keadilan, yang menuntut dilakukannya reformasi yang bermakna terhadap sistem imigrasi kita.”

Keprihatinan atas Profiling Rasial

Mengingat kembali pernyataan para uskup Amerika Serikat pada November tahun lalu, keduanya menegaskan kembali:

“Kami merasa prihatin ketika melihat di tengah masyarakat kita muncul iklim ketakutan dan kecemasan terkait praktik profiling dan penegakan hukum imigrasi.”

Menurut mereka, praktik profiling rasial tidak hanya melanggar martabat yang dianugerahkan Allah kepada setiap manusia, tetapi juga menimbulkan luka yang mendalam bagi individu, keluarga, dan komunitas.

Profiling rasial, kata mereka, menumbuhkan rasa takut, mengikis kepercayaan, dan meningkatkan risiko terjadinya tindakan yang tidak adil, bahkan berujung pada tragedi.

Para uskup juga mengakui bahwa keprihatinan pastoral yang mereka sampaikan berbeda dengan apa yang mungkin diperbolehkan oleh hukum sipil.

Merendahkan Martabat Manusia Tidak Boleh Dinormalisasi

“Setiap tindakan yang merendahkan atau mengabaikan martabat seseorang atau sekelompok orang,” tegas Uskup Garcia dan Uskup Cahill, “tidak boleh dinormalisasi dalam masyarakat kita.”

Mereka menyebut dua contoh sikap yang tidak boleh dianggap biasa, yaitu “dehumanisasi terhadap para imigran, tanpa memandang status hukum mereka” serta “penghinaan terhadap aparat penegak hukum.”

Pada bagian akhir refleksi mereka, kedua uskup mengajak umat untuk berdoa bagi jiwa mereka yang meninggal, bagi keluarga yang ditinggalkan, bagi bangsa Amerika Serikat, serta bagi semua orang yang mengemban tugas pelayanan publik.

Mereka juga berdoa “agar berakhir retorika yang merendahkan martabat manusia, prasangka rasial, dan kekerasan, serta agar tumbuh kembali komitmen untuk mengakui martabat yang melekat pada setiap pribadi sebagai anak Allah.”

“Kami memohon,” demikian penutup pernyataan mereka, “perantaraan Maria, Bunda kita, yang menjadi teladan iman yang sempurna di tengah duka, kesulitan, dan ketidakpastian.”

21 Jul 2026, 11:36