Cari

Biara Kfifan /Antonio El Helou/Georges Mourad Biara Kfifan /Antonio El Helou/Georges Mourad  (© Kfifan Monastery/Antonio El Helou/Georges Mourad)

Umat Kristen Lebanon Mengenang Bruder Estephan, Sang Rahib Pegunungan

Ketika umat Kristen Lebanon berziarah menuju biara pegunungan yang pernah menjadi tempat tinggal Bruder Estephan Nehmé, pemimpin biara tersebut mengatakan kepada Vatican News bahwa “doa umat yang begitu banyak ini akan menjadikannya seorang santo.”

Oleh Joseph Tulloch – Kfifan, Lebanon

Moto hidup Bruder Estephan Nehmé, rahib Lebanon yang sederhana dan dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2010, adalah Allah Yarani, yang berarti “Allah melihatku.”

Pada Sabtu, 27 Juni, slogan tersebut tercetak pada spanduk-spanduk yang dibawa dalam prosesi melintasi pegunungan Lebanon. Para peziarah yang menuju Biara Kfifan—tempat Bruder Estephan menghabiskan sebagian besar hidupnya—memperingati 16 tahun beatifikasinya. Mereka berharap suatu hari nanti ia akan dinyatakan sebagai santo.

“Kami berdoa agar ia menjadi santo,” kata pemimpin Biara Kfifan, Pastor Estephan Farah, kepada Vatican News. “(Bruder Nehmé) melakukan banyak mukjizat.”

Rahib yang wafat pada tahun 1938 itu, lanjut Pastor Farah, “hidup di tengah-tengah kami.” Ia menambahkan, “Doa umat yang begitu banyak ini akan menjadikannya seorang santo.”

Para pelajar mengikuti prosesi ziarah.
Para pelajar mengikuti prosesi ziarah.   (© Kfifan Monastery/Antonio El Helou/Georges Mourad)

Kelompok peziarah tersebut, yang sebagian besar terdiri dari umat Kristen setempat namun juga diikuti sejumlah kecil peserta Muslim, berangkat dari Kota Batroun di Lebanon utara pada tengah hari.

Mereka berjalan menanjak menuju pegunungan selama lebih dari lima jam sambil membawa bendera Lebanon dan gambar Bruder Estephan. Di setiap desa yang mereka lewati, semakin banyak orang bergabung, sehingga ketika tiba di Kfifan jumlah peserta telah mencapai lebih dari seribu orang.

Saat tinggal di biara pegunungan tersebut, Bruder Estephan mengabdikan dirinya pada pekerjaan manual, baik di ladang maupun dalam pekerjaan konstruksi. Ia dikenal karena kesederhanaan dan kerendahan hatinya.

Para peserta prosesi membawa bendera Lebanon.
Para peserta prosesi membawa bendera Lebanon.   (© Kfifan Monastery/Antonio El Helou/Georges Mourad)

“Bruder Estephan saat ini mengajarkan kepada kita untuk hidup sederhana dalam keseharian,” kata Pastor Farah.

“Apa yang ia jalani setiap hari adalah doa, kerja, dan kesetiaan pada panggilannya.”

Dalam homilinya pada Misa yang mengikuti prosesi tersebut, Uskup Maronit Batroun, Uskup Munir Khairallah, membandingkan spiritualitas Bruder Estephan dengan spiritualitas Santo Charbel Makhlouf, yakni “spiritualitas asketis yang bertumpu pada hubungan langsung dengan Allah melalui doa, hidup sederhana, dan kerja mengolah tanah.”

Menurut Uskup Khairallah, Bruder Estephan “menjadikan semboyan ‘Allah melihatku’ sebagai pedoman hidupnya dan menghabiskan seluruh hidupnya dengan senantiasa memandang ke surga dalam doa.”

Prosesi tersebut berlangsung ketika Israel terus melancarkan serangan mematikan di Lebanon selatan.

Di antara para peserta hadir pula empat perwira Angkatan Darat Italia dari MIBIL, misi militer bilateral Italia di Lebanon. Uskup Khairallah menyampaikan terima kasih kepada mereka atas kontribusinya dalam “memajukan perdamaian di Lebanon dan di seluruh Timur Tengah.”

Merefleksikan iman yang ditunjukkan oleh ratusan peziarah tersebut, Pastor Farah mengatakan bahwa hal itu “menunjukkan kepada kita bahwa perdamaian adalah apa yang kita inginkan.”

“Pesan para santo adalah berkumpul bukan untuk perang, melainkan untuk perdamaian.”

Umat beriman berkumpul untuk menghormati Bruder Estephan.
Umat beriman berkumpul untuk menghormati Bruder Estephan.   (© Kfifan Monastery/Antonio El Helou/Georges Mourad)
01 Jul 2026, 10:22