Renungan Hari Minggu: Membangun Kerajaan Allah
Oleh Romo Luke Gregory OFM*
Dalam perjalanan kita sebagai orang beriman, kita terus diingatkan akan tanggung jawab bersama untuk membangun Kerajaan Allah dan mengulurkan tangan kepada sesama, siapa pun mereka. Panggilan untuk bertindak ini berakar kuat dalam ajaran Yesus, yang menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran mendalam melalui kisah-kisah sederhana.
Salah satu perumpamaan tersebut adalah Perumpamaan tentang Penabur dalam Injil hari ini, yang sangat menyentuh dan relevan bagi misi kita. Kisah ini berlatar di tepi danau, ketika Yesus, dikelilingi kerumunan besar, naik ke sebuah perahu untuk mengajar orang-orang yang berkumpul di pantai. Sungguh mengesankan membayangkan begitu banyak orang yang rindu mendengarkan-Nya, menggambarkan kerinduan universal manusia akan pengertian dan harapan. Ketika Yesus mulai berbicara, Ia mengisahkan seorang penabur, sosok yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari, yang tindakannya menjadi metafora kuat tentang menabur dan menuai secara rohani.
Penabur itu pergi menaburkan benih. Tugas itu tampak sederhana, tetapi hasilnya sangat beragam, menggambarkan berbagai cara manusia menerima pesan Kristus. Sebagian benih jatuh di pinggir jalan dan segera dimakan burung-burung. Gambaran ini mengingatkan kita akan berbagai gangguan dan cobaan yang sering mengelilingi hidup kita sehingga banyak orang mengabaikan sabda Allah yang sebenarnya mampu mengubah hidup mereka.
Dalam dunia yang dipenuhi kebisingan dan kekacauan, kita dipanggil untuk tetap waspada agar pesan itu tidak terlepas dari genggaman kita maupun dari mereka yang ada di sekitar kita. Ada pula benih yang jatuh di tanah berbatu. Benih itu segera tumbuh, tetapi tidak memiliki akar yang cukup dalam untuk bertahan menghadapi terik matahari. Bagian perumpamaan ini berbicara banyak tentang antusiasme sesaat dan pentingnya memelihara iman. Perumpamaan ini memperingatkan kita terhadap komitmen yang dangkal dan menegaskan perlunya akar yang kuat dalam kehidupan rohani. Untuk membangun Kerajaan Allah, kita tidak cukup hanya terinspirasi; kita juga harus siap menghadapi tantangan, menumbuhkan keteguhan hati dalam diri sendiri dan mendorong orang lain melakukan hal yang sama. Kita juga menjumpai benih yang jatuh di tengah semak duri. Duri-duri itu melambangkan kekhawatiran dan keinginan duniawi yang dapat menjerat kita, menghambat pertumbuhan dan buah yang dapat kita hasilkan. Terlalu mudah bagi kita untuk teralihkan oleh berbagai hal dalam hidup dan kehilangan fokus, terutama dalam masyarakat yang terus-menerus menarik perhatian kita ke berbagai arah.
Sebagai pengelola dan penjaga iman, kita tidak hanya dipanggil untuk bertumbuh secara pribadi, tetapi juga membantu sesama melepaskan diri dari duri-duri yang menjerat mereka. Tugas kita melampaui perjalanan pribadi; kita dipanggil untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan orang lain berkembang.
Akhirnya, ada benih yang jatuh di tanah yang subur dan menghasilkan panen berlimpah—seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, dan tiga puluh kali lipat. Di sinilah hakikat Kerajaan Allah dinyatakan. Ketika Sabda Allah menemukan hati yang terbuka, Sabda itu berkembang dan menghasilkan buah melampaui segala harapan kita. Ini mengingatkan kita bahwa upaya menyebarkan Injil dan membantu sesama dapat menghasilkan perubahan yang luar biasa.
Saat kita menaburkan benih iman, kasih, dan belas kasih, kita tidak hanya memenuhi panggilan kita, tetapi juga mengambil bagian dalam karya Roh Kudus yang memelihara dan melipatgandakan kontribusi kita bagi Kerajaan Allah. Dengan menghayati perumpamaan ini, kita menyadari peran penting kita sebagai penabur. Tanggung jawab kita adalah secara aktif membagikan kasih Allah dan mencari mereka yang paling membutuhkan-Nya.
Tugas itu kadang tampak sangat besar, tetapi kita tidak dipanggil untuk melaksanakannya sendirian. Kita adalah bagian dari komunitas yang lebih besar, tubuh orang-orang beriman yang dipersatukan oleh tujuan yang sama. Kita didorong untuk bekerja bersama, saling menginspirasi, dan saling meneguhkan dalam pelayanan.
Membangun Kerajaan Allah adalah usaha yang inklusif yang mengajak kita menjalin relasi dengan semua orang di sekitar kita. Setiap pribadi yang kita jumpai adalah bagian berharga dari ciptaan Allah dan layak menerima kebaikan, penghormatan, serta pengertian. Kita didorong untuk menjangkau sesama dan meruntuhkan tembok-tembok yang sering memisahkan kita dari mereka.
Perumpamaan ini bukan hanya tentang pertumbuhan pribadi, tetapi juga tentang kemajuan bersama. Kita harus tetap terbuka dan menyadari bahwa setiap perjumpaan dapat menjadi kesempatan untuk menaburkan benih iman. Entah melalui tindakan kebaikan, kesaksian hidup, atau sekadar hadir bagi seseorang yang membutuhkan, setiap usaha kecil dapat menjadi bagian dari rencana besar Allah. Kita juga perlu bersabar, percaya bahwa Allah bekerja menurut waktu-Nya sendiri dan memahami bahwa tidak setiap benih yang kita taburkan akan segera menghasilkan buah.
Ketika merenungkan sabda Yesus, kita memperoleh penghiburan karena Ia memahami pergumulan kita. Ia mengetahui tantangan menaburkan benih di dunia yang sering tampak acuh tak acuh atau bahkan memusuhi pesan Injil. Namun, Ia tetap memanggil kita untuk berharap.
Kita harus mengingat bahwa bahkan tindakan kasih yang paling kecil sekalipun dapat memiliki daya dan makna yang besar, menghasilkan buah dengan cara-cara yang mungkin tidak pernah kita lihat. Karena itu, marilah kita membawa pelajaran ini dalam hati. Marilah kita berusaha membangun Kerajaan Allah dengan tekun, menaburkan benih iman, kasih, dan harapan ke mana pun kita pergi. Marilah kita saling menguatkan dalam misi ini, menopang satu sama lain melalui doa dan tindakan nyata.
Marilah kita menanggapi panggilan perumpamaan ini. Semoga kita memiliki telinga yang mau mendengar dan hati yang siap taat, mewujudkan semangat kemurahan hati dan pelayanan yang diteladankan Yesus. Apa pun situasinya, kita dapat percaya bahwa usaha kita membangun Kerajaan Allah dan mendukung sesama tidak akan sia-sia; kita adalah bagian dari kisah ilahi yang jauh lebih besar daripada diri kita sendiri. Marilah kita menghayati peran sebagai penabur, memelihara benih-benih harapan dalam hidup kita dan hidup orang lain, sebab kitalah para pembangun Kerajaan-Nya di dunia ini.
*Kustodi Tanah Suci