2022.09.30 Sunday Gospel Reflections

Renungan Hari Minggu : Lemah Lembut dan Rendah Hati

Saat Gereja merayakan Hari Minggu Biasa Pekan Ke-14, Romo Edmund Power, OSB, mengajak umat merenungkan tema: “Lemah Lembut dan Rendah Hati.”

Oleh: Romp Edmund Power, OSB

Apakah sulit bagi kita untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada kasih Allah?

Injil hari ini sungguh istimewa. Teks ini tampak berdiri sendiri, seolah terlepas dari rangkaian peristiwa sebelum dan sesudahnya. Sebelumnya Yesus mengecam kota-kota Galilea seperti Korazim, Betsaida, dan Kapernaum karena tidak menanggapi karya-karya besar yang telah dilakukan-Nya. Namun tiba-tiba nada-Nya berubah secara drastis.

Kita bahkan tidak mengetahui dengan pasti di mana Yesus berada atau siapa yang mendengarkan-Nya saat itu. Seakan-akan Ia melangkah keluar dari alur kisah Injil dan berdiri langsung di hadapan kita.

Kata-kata pembuka-Nya merupakan doa kepada Bapa, mirip dengan gaya Injil Yohanes. Namun tanpa terasa doa itu berubah menjadi sebuah undangan. Kepada siapa undangan itu ditujukan? Kepada semua orang tanpa kecuali.

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat."

Bukankah kita juga, setidaknya pada saat-saat tertentu dalam hidup, termasuk di antara mereka yang letih dan berbeban berat? Bukankah ada kerinduan dalam hati untuk melepaskan segala kekhawatiran, mempercayakan diri kepada Tuhan, dan membiarkan diri kita ditopang oleh-Nya?

Lalu, apa yang akan kita temukan jika datang kepada Yesus?

Pertama, kita akan menemukan pewahyuan tentang Bapa. Yesus memperkenalkan kita kepada kedalaman kasih Allah yang menciptakan dan memelihara kehidupan. Hanya Sang Putra yang sungguh mengenal Bapa, tetapi Ia ingin mengajak kita masuk ke dalam pengenalan itu.

Kedua, kita menemukan istirahat. Dalam dunia yang penuh tekanan, tuntutan, kecemasan, dan ketidakpastian, Yesus menawarkan sesuatu yang sangat sederhana namun sangat berharga: ketenangan dan kelegaan. Dalam Injil Markus, Yesus pernah berkata kepada para murid-Nya, “Marilah ke tempat yang sunyi dan beristirahatlah seketika.” Tuhan memahami kebutuhan manusia akan jeda, keheningan, dan pemulihan.

Mungkin Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk lebih bijaksana terhadap diri sendiri: menerima keterbatasan kita, menghargai kebutuhan kita yang nyata, dan menemukan keseimbangan yang sehat dalam hidup.

Ketiga, Yesus menawarkan kehadiran-Nya yang terus-menerus. Ia tidak hanya berkata, “Belajarlah dari-Ku,” tetapi juga mengundang kita untuk hidup dalam persatuan dengan-Nya. Dalam bagian Injil ini, kata ganti yang merujuk kepada Yesus—Aku, Ku, dan milik-Ku—muncul berulang kali, seolah menegaskan bahwa hidup bersama-Nya adalah hidup yang tidak pernah dijalani sendirian.

Beban kehidupan tetap ada. Salib tidak hilang begitu saja. Bahkan mungkin “kuk” yang disebut Yesus mengingatkan kita pada salib yang harus dipikul oleh setiap murid-Nya.

Namun yang paling mengesankan adalah ajakan-Nya untuk meneladan diri-Nya:

"Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati."

Betapa berbeda pesan ini dengan budaya dunia yang sering mengagungkan kekuasaan, dominasi, kekuatan militer, dan kesombongan. Apakah mungkin hidup dengan kelembutan dan kerendahan hati di tengah dunia seperti itu?

Mungkin saja, jika kita sungguh percaya pada apa yang dikatakan Santo Paulus dalam bacaan kedua: bahwa kita hidup bukan menurut daging, melainkan menurut Roh. Mungkin saja, jika kesetiaan kita diberikan kepada Raja yang datang dengan rendah hati, seperti yang digambarkan Nabi Zakharia: seorang raja yang sederhana dan penuh damai.

Jika demikian, maka menyerahkan diri kepada kasih Allah bukanlah sesuatu yang mustahil. Justru di sanalah kita menemukan kebebasan, ketenangan, dan kekuatan sejati untuk menjalani hidup.

04 Jul 2026, 10:41