Cari

Laporan Tahunan Talitha Kum International 2025. Laporan Tahunan Talitha Kum International 2025.  (Talitha Kum International)

Perdagangan Manusia di Era Modern: Tak Seorang Pun Boleh Diperlakukan sebagai Komoditas

Talitha Kum International merilis Laporan Tahunan 2025 yang mengungkap bahwa perdagangan manusia berkembang seiring pesatnya kemajuan teknologi. Eksploitasi dan penipuan secara daring kini menjadi salah satu cara baru pada abad ke-21 untuk menjerat para korban.

Oleh Kielce Gussie

Meskipun praktik perbudakan tradisional secara hukum telah dihapuskan, sekitar 50 juta orang di seluruh dunia masih terjebak dalam berbagai bentuk perbudakan modern.

Lebih dari itu, perdagangan manusia dan berbagai bentuk eksploitasi lainnya telah berkembang menjadi bisnis ilegal yang menghasilkan keuntungan sekitar 236 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun, menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Alih-alih berkurang di tengah dunia yang semakin modern, "persoalan perdagangan manusia justru berkembang dengan cara yang semakin kompleks," kata Sr. Abby Avelino, MM, Koordinator Internasional Talitha Kum, kepada Vatican News menjelang Hari Dunia Melawan Perdagangan Orang yang diperingati setiap 30 Juli. Tema peringatan tahun ini adalah "Trapped Behind the Scam" (Terjebak di Balik Penipuan).

Para suster dari seluruh duniaambil bagian dalam misi mengakhiri perdagangan manusia
Para suster dari seluruh duniaambil bagian dalam misi mengakhiri perdagangan manusia   (Talitha Kum International)

Menjelang peringatan tersebut, jaringan internasional para suster religius Talitha Kum merilis Laporan Tahunan 2025, yang menunjukkan bahwa selama satu tahun terakhir mereka telah menjangkau 1,21 juta orang di seluruh dunia, meningkat 29,6 persen dibandingkan tahun 2024.

Namun demikian, meskipun jangkauan pelayanan Talitha Kum terus bertambah, upaya mengakhiri perdagangan manusia tetap menjadi tantangan yang sangat mendesak karena jumlah kasus terus meningkat, terutama di kawasan Eropa dan Asia.

Teknologi: Membawa Manfaat Sekaligus Ancaman

Laporan Tahunan 2025 menunjukkan bahwa perdagangan manusia berkembang seiring dengan munculnya berbagai teknologi baru. Eksploitasi dan penipuan melalui platform digital kini menjadi salah satu cara utama pada abad ke-21 untuk menjebak para korban.

Simak pemaparan Suster Abby Avelino mengenai maraknya penipuan daring

"Banyak penyintas yang kami dampingi terjebak karena kompleksitas platform digital," ungkap Sr. Abby.

Para penyintas menceritakan bagaimana mereka menerima berbagai tawaran pekerjaan dan proses perekrutan secara daring. Namun ketika tiba di tempat tujuan, pekerjaan tersebut ternyata tidak pernah ada. Paspor mereka disita, dan kebebasan mereka dirampas.

Laporan Tahunan 2025 memaparkan sejumlah persoalan terkait perdagangan manusia- dari pencegahan dan dukungan para para survivor untuk mendapatkan keadilan, pendampingan, dan perlindungan.
Laporan Tahunan 2025 memaparkan sejumlah persoalan terkait perdagangan manusia- dari pencegahan dan dukungan para para survivor untuk mendapatkan keadilan, pendampingan, dan perlindungan.   (Talitha Kum International)

"Inilah tren yang sedang terjadi saat ini," jelas Sr. Abby. "Platform digital dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi kriminal untuk menjebak kaum muda, karena mereka sangat ingin memperoleh masa depan yang lebih baik dan pekerjaan yang layak."

Pandangan tersebut juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Amy Pope, dalam konferensi pers pada 28 Juli. Ia menyoroti meningkatnya jumlah pusat-pusat penipuan daring (online scam centers) yang melibatkan korban dari lebih dari 80 negara, terutama di kawasan Asia.

Pope menjelaskan bahwa skala perdagangan manusia saat ini sangat besar. Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) melaporkan bahwa kejahatan penipuan menghasilkan kerugian hingga miliaran dolar Amerika Serikat setiap tahunnya. Di Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, kompleks-kompleks penipuan diperkirakan mempekerjakan ratusan ribu pekerja yang menjadi korban perdagangan manusia.

Melawan Penipuan Melalui Edukasi

Salah satu cara Talitha Kum menghadapi kejahatan tersebut adalah dengan memberikan edukasi kepada kelompok yang paling rentan menjadi sasaran perdagangan manusia secara daring, yaitu kaum muda.

"Kami berupaya menggerakkan jaringan kami untuk memberikan pendidikan bukan hanya kepada kaum muda, tetapi juga kepada siapa pun yang berpotensi terjebak di platform digital," kata Sr. Abby.

Melalui program Talitha Kum Youth Ambassadors, para peserta mendapatkan pelatihan mengenai perdagangan manusia, cara mengenalinya, serta langkah-langkah untuk menghadapinya. Setelah itu mereka diutus kembali ke komunitas dan negara masing-masing untuk membantu teman-teman sebaya memahami bahaya yang sama.

Karena para pelaku perdagangan manusia kini memanfaatkan media sosial sebagai sarana utama, Talitha Kum juga menggunakan platform yang sama sebagai media edukasi. Jaringan tersebut mengembangkan berbagai akun media sosial, program televisi, serta siaran radio untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya perdagangan manusia secara daring.

Para Penyintas Menjadi Bagian dari Solusi

Laporan Tahunan 2025 juga membahas berbagai aspek penanganan perdagangan manusia, mulai dari pencegahan, pendampingan para penyintas, akses terhadap keadilan, kerja sama, hingga advokasi. Namun, Sr. Abby memberikan perhatian khusus pada pendampingan para penyintas.

"Para penyintas adalah bagian dari solusi," tegasnya. "Ini bukan semata-mata soal menyelamatkan mereka. Kita juga perlu memberikan ruang kepada para penyintas agar suara, kebutuhan, kesempatan, dan pendampingan berkelanjutan mereka benar-benar diperhatikan."

Bersama pendekatan yang berpusat pada penyintas (survivor-centered approach), Sr. Abby juga menyerukan perubahan yang bersifat sistemik, yakni dengan mengatasi akar persoalan yang mendorong terjadinya perdagangan manusia.

"Orang berpindah karena kemiskinan. Orang berpindah karena ketidaksetaraan. Orang berpindah karena konflik. Karena itu kita harus berjalan bersama agar benar-benar dapat membangun dunia tanpa perdagangan manusia," tegasnya.

Namun, menurutnya, upaya mengakhiri kejahatan tersebut harus dimulai dari tingkat akar rumput, terlebih karena "pola kejahatan para pelaku perdagangan manusia kini semakin kompleks." Oleh sebab itu, pencegahan, advokasi, perlindungan, serta pendampingan bagi para penyintas menjadi sangat penting.

Meski demikian, Sr. Abby menegaskan bahwa masyarakat di mana pun juga perlu mendorong para pemimpin lokal maupun dunia untuk mengatasi berbagai akar persoalan yang terus memicu perdagangan manusia.

Pendidikan Menjadi Kunci

Sr. Abby menegaskan bahwa mengakhiri perdagangan manusia tidak mungkin dilakukan oleh satu orang, satu negara, ataupun satu organisasi saja. Salah satu kunci utamanya adalah pendidikan.

"Bahkan anak-anak, sejak usia sedini mungkin, perlu belajar bagaimana perdagangan manusia menyebar, bukan hanya dalam konteks global atau lokal, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan dan di setiap tingkat," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hal yang tidak kalah penting adalah menyadari bahwa di balik angka-angka statistik dan berbagai data tersebut terdapat manusia, kisah hidup, dan kehidupan nyata yang terdampak.

Karena itulah, bekerja bersama menjadi inti dari misi Talitha Kum.

Sebagaimana ditegaskan dalam misinya:

"Tak seorang pun boleh diperlakukan sebagai komoditas."

29 Jul 2026, 14:25