Para Uskup Amerika Serikat Mengajak Umat Mendukung Gereja di Afrika
Oleh Deborah Castellano Lubov
Melalui Solidarity Fund for the Church in Africa, umat Katolik di Amerika Serikat memiliki kesempatan untuk memberikan dukungan nyata bagi Gereja di Afrika.
Dana solidaritas tersebut dibentuk hampir dua dekade lalu oleh Konferensi Waligereja Amerika Serikat (USCCB) untuk membantu Gereja Katolik di benua yang pertumbuhan imannya sangat pesat, namun memiliki kemampuan yang terbatas dalam memenuhi kebutuhan pastoral serta menghadapi berbagai kesulitan yang berat.
Setelah Perjalanan Apostolik Paus Leo XIV ke empat negara di Afrika pada 13–23 April 2026, para Uskup Amerika Serikat kembali mengajak umat beriman untuk ikut ambil bagian dalam kepedulian Paus terhadap benua tersebut melalui dukungan kepada Solidarity Fund for the Church in Africa. Sepanjang tahun 2025, dana tersebut telah menyalurkan 97 hibah dengan nilai lebih dari 3 juta dolar Amerika Serikat.
Hibah Mendukung Berbagai Proyek di Seluruh Afrika
Ketua Subkomisi Gereja di Afrika USCCB, Uskup Agung Thomas Zinkula, menjelaskan bahwa sumbangan umat Katolik di Amerika Serikat melalui dana solidaritas tersebut mendukung berbagai proyek yang membangun dasar-dasar perdamaian, sekaligus membiayai karya evangelisasi, pengembangan panggilan hidup, kepedulian terhadap lingkungan, pembinaan kepemimpinan, serta berbagai pelayanan Gereja lainnya.
"Saya berdoa agar persembahan tersebut terus bertambah sebagai tanggapan atas seruan Bapa Suci untuk mewujudkan perdamaian dan rekonsiliasi di Afrika," kata Uskup Agung Zinkula.
"Saya telah menyaksikan sendiri dampak dari bantuan yang Anda berikan dan dapat memastikan bahwa apa pun yang Anda sumbangkan akan digunakan secara bijaksana dan tepat sasaran."
Pada musim panas ini, banyak keuskupan di Amerika Serikat akan mengadakan kolekte khusus di paroki-paroki untuk mendukung dana tersebut. Selain itu, umat juga dapat memberikan sumbangan secara daring melalui program #iGiveCatholic.
Uskup Agung Zinkula kembali mengingatkan bahwa Paus Leo XIV telah mengajak seluruh Gereja untuk menunjukkan solidaritas kepada saudari dan saudara seiman di Afrika.
"Itulah tepatnya yang diwujudkan oleh Solidarity Fund for the Church in Africa," ujarnya.
Dukungan Nyata bagi Masyarakat yang Menghadapi Berbagai Kesulitan
USCCB juga memberikan beberapa contoh proyek yang didukung melalui hibah tahun 2025.
Di Mali, tempat banyak anak bertumbuh dengan menganggap perang dan terorisme sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, salah satu hibah digunakan untuk menyelenggarakan perkemahan Kitab Suci intensif bagi lebih dari 200 orang muda dari seluruh negeri. Dalam kegiatan tersebut mereka mempelajari nilai-nilai Injil serta ajaran Konsili Vatikan II mengenai kebebasan beragama dan dialog antaragama.
Di Sudan, yang saat ini menghadapi krisis kemanusiaan terbesar di dunia akibat perang, hibah tersebut mendukung 223 katekis awam di kawasan Pegunungan Nuba dan wilayah Abyei melalui penyediaan transportasi, konsumsi, akomodasi, serta bahan-bahan pelatihan untuk mengikuti kursus selama tiga bulan mengenai evangelisasi, pelayanan pastoral, dan persiapan sakramen.
USCCB menyatakan bahwa para katekis tersebut kini lebih siap melayani masyarakat yang juga mencakup ribuan orang yang mengungsi akibat kekerasan di wilayah yang hanya dilayani oleh sedikit imam.
Menjadi Wujud Solidaritas dan Kehadiran Pastoral
Ketika perang dan konflik di kawasan Tanduk Afrika semakin dimanfaatkan oleh para pelaku perdagangan manusia untuk mengeksploitasi kelompok-kelompok rentan, hibah lainnya digunakan untuk mendukung lokakarya bagi para pemimpin Gereja di seluruh kawasan tersebut.
Lokakarya itu bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai perdagangan manusia, menyusun strategi pencegahan, serta melatih para pelayan pastoral agar mampu mendampingi para korban.
Di Burkina Faso, tempat para uskup menetapkan visi agar seluruh keuskupan mampu mandiri secara finansial meskipun menghadapi kekerasan dan kemiskinan yang meluas, dana solidaritas digunakan untuk melatih para staf dari kelima belas keuskupan serta Konferensi Waligereja nasional dalam menyusun rencana berkelanjutan untuk mengelola dan mendukung pelayanan Gereja.
Sementara itu, di Republik Afrika Tengah, di mana kondisi jalan yang buruk membuat banyak komunitas hidup terisolasi, hibah tersebut memungkinkan para Suster Marianis melatih para "Relawan Injil" serta menyediakan sepeda bagi mereka untuk mendistribusikan Kitab Suci dan rosario.
Menurut para Uskup Amerika Serikat, keberadaan sepeda-sepeda tersebut telah sangat meningkatkan pelayanan pastoral karena memungkinkan para relawan menjangkau ribuan keluarga yang sebelumnya sulit diakses.