Organisasi-organisasi Kristen Desak Irlandia Sebagai Pemimpin Uni Eropa Upayakan Keadlian Iklim
Oleh Francesca Merlo
Menurut siaran pers Gerakan Laudato Si’, ketika Irlandia memulai masa enam bulan Kepresidenannya di Dewan Uni Eropa, sebuah koalisi yang terdiri atas lebih dari 170 organisasi Kristen menyerukan kepada Pemerintah Irlandia agar menempatkan keadilan iklim dan kepedulian terhadap ciptaan sebagai inti agenda Eropa.
Mewakili lebih dari 33 juta umat Kristiani di 21 negara anggota Uni Eropa, koalisi tersebut meluncurkan seruan mereka di bawah tema Europe, Be Faithful for Our Common Home (“Eropa, Setialah bagi Rumah Kita Bersama”). Mereka memperingatkan bahwa upaya Eropa meningkatkan daya saing tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kohesi sosial, aksi iklim, pembangunan pedesaan, maupun martabat manusia.
Seruan itu disampaikan pada hari Rabu ketika delegasi dari Komisi Konferensi Waligereja Uni Eropa (COMECE) dan Konferensi Gereja-Gereja Eropa (CEC), bersama perwakilan Konferensi Waligereja Katolik Irlandia dan sejumlah pemimpin senior Protestan, bertemu dengan Taoiseach (Perdana Menteri) Irlandia, Micheál Martin, di Dublin pada awal masa Kepresidenan Uni Eropa oleh Irlandia.
Menurut COMECE, para perwakilan Gereja menyerahkan sebuah dokumen posisi kepada Pemerintah Irlandia yang menyatakan dukungan terhadap upaya memperkuat daya saing Eropa, namun sekaligus mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus tetap berakar pada solidaritas, tanggung jawab lingkungan, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Koalisi Kristen yang lebih luas menyuarakan keprihatinan serupa ketika para menteri Uni Eropa yang membidangi daya saing berkumpul di Kastel Dublin pada 9–10 Juli. Mereka berpendapat bahwa keamanan dan kemakmuran jangka panjang Eropa bergantung pada pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, bukan memperdalam ketergantungan tersebut.
Terinspirasi oleh Laudato si’
Terinspirasi oleh ensiklik Paus Fransiskus Laudato si’ dan ensiklik Paus Leo XIV Magnifica Humanitas, koalisi tersebut menegaskan bahwa krisis ekologis tidak dapat dipisahkan dari persoalan keadilan, perdamaian, dan martabat manusia.
Siaran pers itu mengingatkan kembali pidato terbaru Paus Leo XIV dalam Austrian World Summit, ketika beliau menyebut krisis lingkungan sebagai “bukan persoalan yang terpisah, melainkan aspek ekologis dari krisis sosial-ekonomi kontemporer.” Dokumen itu juga menyoroti seruan Paus Fransiskus dalam Laudato si’ untuk menggantikan bahan bakar fosil dengan sumber energi terbarukan dan mendengarkan sekaligus “jeritan bumi dan jeritan kaum miskin.”
Uskup Martin Hayes, Koordinator Laudato Si’ Konferensi Waligereja Katolik Irlandia, menyambut baik kampanye tersebut. Ia mengatakan bahwa Kepresidenan Uni Eropa oleh Irlandia merupakan kesempatan untuk mempromosikan “pendekatan yang terpadu dalam melindungi rumah kita bersama dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.”
Ia menambahkan bahwa prioritas Uni Eropa di bidang daya saing, nilai-nilai, dan keamanan harus tetap seimbang. Menurutnya, Eropa “mungkin harus menerima pertumbuhan yang lebih rendah” demi menjawab kebutuhan negara-negara miskin yang paling terdampak perubahan iklim.
Seruan untuk tindakan politik
Kampanye ini muncul setelah gelombang panas paling parah yang pernah tercatat di Eropa dan ketika diskusi mengenai anggaran tujuh tahunan Uni Eropa berikutnya mulai berlangsung.
Menurut koalisi tersebut, enam perusahaan minyak dan gas terbesar di Eropa mencatat keuntungan gabungan sebesar 22 miliar dolar Amerika Serikat pada kuartal pertama tahun 2026, sementara jutaan orang masih merasakan dampak kenaikan biaya energi dan semakin seringnya bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Direktur Eksekutif Gerakan Laudato Si’, Dr. Lorna Gold, mengatakan bahwa para pemimpin politik harus memilih “jalan keberanian, perdamaian, dan kebaikan bersama.” Ia menyerukan peningkatan investasi secara signifikan pada energi terbarukan, elektrifikasi, dan efisiensi energi, serta penerapan pajak permanen atas keuntungan berlebih dari bahan bakar fosil.
Sean Farrell, Direktur Eksekutif Trócaire, menegaskan bahwa komunitas-komunitas yang paling sedikit berkontribusi terhadap perubahan iklim justru terus menanggung dampak yang paling menghancurkan. Menurutnya, Eropa memiliki tanggung jawab moral untuk menghapus penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap sekaligus menyediakan pendanaan iklim yang adil bagi negara-negara yang berada di garis depan krisis tersebut.
Empat prioritas
Koalisi tersebut menyerukan kepada para pemimpin Eropa agar segera mengadopsi empat langkah utama: strategi yang mengikat secara hukum untuk menghapus batu bara pada 2030, gas pada 2035, dan minyak pada 2040, disertai penghentian segera eksplorasi bahan bakar fosil baru; pajak permanen atas keuntungan tak terduga perusahaan bahan bakar fosil; peningkatan besar investasi dalam energi terbarukan, efisiensi energi, elektrifikasi, dan ekonomi sirkular; serta penguatan pendanaan iklim dalam Kerangka Keuangan Multi-Tahunan Uni Eropa berikutnya.
Di antara organisasi yang mendukung inisiatif ini terdapat Trócaire, Christian Aid Ireland, Jesuit Centre for Faith and Justice, Knock Shrine, Misean Cara, Gerakan Laudato Si’, Caritas Europa, dan CIDSE.
Menurut siaran pers tersebut, ketika Irlandia juga tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah bersama konferensi internasional mengenai penghentian penggunaan bahan bakar fosil bersama Tuvalu pada awal tahun 2027, para penggagas kampanye meyakini bahwa masa Kepresidenan Irlandia memberikan peluang penting bagi Eropa untuk menunjukkan kepemimpinan dalam menanggapi apa yang mereka sebut sebagai salah satu tantangan moral yang paling menentukan pada zaman ini.