Nunsius Apostolik Pimpin Misa Peringatan Hari Pembebasan Guam
Oleh Deborah Castellano Lubov
Nunsius Apostolik untuk Selandia Baru sekaligus Delegatus Apostolik untuk Kepulauan Pasifik, Uskup Agung Gábor Pintér, memimpin Misa pada 21 Juli 2026 untuk memperingati 82 tahun pembebasan Guam dari pendudukan Pasukan Kekaisaran Jepang. Perayaan Ekaristi berlangsung di Katedral-Basilika Dulce Nombre de Maria, Hagatña.
Perwakilan Paus untuk kawasan Pasifik itu memimpin Misa bersama Uskup Agung Agaña, Uskup Agung Ryan P. Jimenez, serta para imam Keuskupan Agung Agaña, sambil menyampaikan kedekatan rohani Paus Leo XIV kepada masyarakat Guam.
Setiap tanggal 21 Juli, Guam memperingati Hari Pembebasan melalui berbagai kegiatan sebagai ungkapan syukur kepada Allah sekaligus untuk menghormati prajurit Marinir dan Angkatan Darat Amerika Serikat yang berjuang mengembalikan kebebasan bagi masyarakat pulau tersebut.
Misa, yang dilanjutkan dengan Ibadat Peringatan secara khidmat di Basilika, juga menjadi penghormatan bagi iman dan keberanian mereka yang menderita dan wafat selama perang.
Invasi dan Pembebasan Guam
Pada 8 Desember 1941, banyak umat berkumpul untuk merayakan Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda sekaligus menghormati pelindung Guam, Santa Marian Kamalen, di lokasi Katedral Agaña yang lama. Namun, perayaan itu terhenti ketika pesawat-pesawat tempur Jepang mulai membombardir pulau tersebut.
Perang pun dimulai, dan Guam, sebuah wilayah kecil milik Amerika Serikat, terseret ke dalam Perang Dunia II.
Meski tidak banyak dikenang seperti serangan terhadap Pearl Harbor yang terjadi sehari sebelumnya, Guam diserbu pasukan Jepang hanya sekitar empat jam setelahnya, pada 8 Desember 1941.
Hingga akhirnya pulau itu dibebaskan pada 21 Juli 1944, masa pendudukan tersebut membawa penderitaan yang mendalam bagi masyarakat Guam.
Kedekatan Rohani Paus dan Penekanan pada Perdamaian
Dalam Misa tersebut, Nunsius Apostolik berbicara di hadapan lebih dari 800 umat, termasuk para penyintas Perang Dunia II, Gubernur Guam, serta para pemimpin pemerintahan, militer, dan masyarakat sipil.
Ia mengatakan, "Bapa Suci meminta saya meyakinkan Anda semua akan doa-doanya bagi masyarakat Guam, bagi Keuskupan Agung Agaña, bagi setiap keluarga, dan terutama bagi mereka yang hingga kini masih menyimpan kenangan akan penderitaan yang dialami selama masa-masa kelam Perang Dunia II."
Ribuan orang lainnya mengikuti perayaan tersebut secara langsung melalui siaran daring Basilika, baik dari Guam maupun dari berbagai negara.
Nunsius Apostolik juga kembali menyampaikan seruan-seruan Paus Leo XIV mengenai pentingnya perdamaian dan perlucutan senjata, sambil mengajak umat mendoakan bangsa-bangsa yang masih dilanda perang dan konflik.
Memilih Dialog, Bukan Penghancuran
"Dengan demikian, doa kita pagi ini tidak hanya ditujukan bagi Guam," katanya. "Kita berdoa bagi setiap tempat di mana kekerasan masih melukai anak-anak Allah."
"Kita berdoa agar para pemimpin politik memilih dialog, bukan penghancuran, dan agar kekuatan militer senantiasa digunakan untuk melayani perdamaian dan keadilan."
Dalam sambutan pembukanya, Uskup Agung Pintér juga mengenang mereka yang menderita selama masa perang.
"Kita mengenang laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang perjalanan hidupnya berakhir pada tahun-tahun tragis tersebut," katanya. "Kita mengenang mereka yang tidak pernah kembali ke rumah. Kita mengenang mereka yang luka-lukanya tetap membekas lama setelah senjata-senjata terdiam."
Kebangkitan Kristus sebagai Jawaban atas Penderitaan
Dalam homilinya, Nunsius Apostolik merefleksikan bacaan Injil hari itu dari Injil Santo Matius serta kisah Nabi Yunus yang diselamatkan dari perut ikan besar.
"Bagi orang Kristiani, tanda Yunus menunjuk langsung kepada Kristus sendiri," kata Uskup Agung Pintér. "Sebagaimana Yunus berada selama tiga hari di dalam perut ikan besar sebelum keluar dalam keadaan hidup, demikian pula Yesus berada selama tiga hari di dalam makam sebelum bangkit dari antara orang mati."
Ia menegaskan bahwa jawaban terbesar Allah atas penderitaan manusia adalah Kebangkitan.
"Meskipun Salib tampak sebagai sebuah kekalahan," katanya, "Paskah justru menyatakan kemenangan," dan "Kebangkitan menjadi sebuah awal yang baru."
Uskup Agung Jimenez Bersyukur atas Anugerah Kebebasan
Merefleksikan makna perayaan tersebut, Uskup Agung Ryan P. Jimenez mengatakan bahwa Misa Hari Pembebasan menjadi momen yang sungguh mempersatukan seluruh umat.
"Misa Hari Pembebasan di Katedral-Basilika dengan indah memperlihatkan seperti apa Gereja dipanggil untuk menjadi: satu Tubuh Kristus," katanya.
Ia menambahkan bahwa kehadiran para imam, biarawan-biarawati, umat awam, para pemimpin sipil, anggota angkatan bersenjata, para veteran, dan masyarakat dari berbagai lapisan kehidupan mengingatkan bahwa "persatuan terdalam kita tidak ditemukan dalam perbedaan-perbedaan kita, melainkan dalam Kristus."
"Bersama-sama," lanjut Uskup Agung Jimenez, "kita mengucap syukur atas anugerah kebebasan, mendoakan perdamaian yang lestari, menghormati mereka yang telah memberikan pengorbanan besar bagi bangsa kita, dan mempercayakan Guam kepada kasih pemeliharaan Allah."
"Itu merupakan tanda yang sangat mendalam bahwa ketika kita berkumpul di sekitar Ekaristi, kita menjadi satu keluarga, satu komunitas, dan satu umat yang dipersatukan di dalam Tuhan."