Melampaui Tragedi Kapal Karam: Mentransformasi Fenomena Migrasi Global
Oleh Pastor John Lydon, OSA*
Melihat masa kepausan Paus Leo XIV yang masih relatif singkat hingga saat ini, kita dapat dengan mudah mengenali sejumlah perhatian utama yang muncul ketika beliau membaca “tanda-tanda zaman” dan membantu Gereja membedakan kebijaksanaan Allah dalam menanggapi berbagai tantangan tersebut.
Salah satunya adalah krisis migran dan pengungsi, yang kerap menjadi isu politik yang memecah belah di banyak negara Eropa dan Amerika Utara. Pesan Paus merupakan kritik langsung terhadap cara pandang masa kini yang semakin sempit dalam merespons fenomena global tersebut.
Kunjungan beliau baru-baru ini ke Kepulauan Canary, kunjungannya ke Lampedusa pada 4 Juli, serta kunjungan ke tempat kelahiran Bunda Cabrini, semuanya menunjukkan betapa pentingnya isu ini dalam visinya mengenai mandat Injil bagi Gereja.
Kunjungan ke Kepulauan Canary merupakan tanda paling jelas sejauh ini tentang bagaimana Paus menantang retorika publik yang berkembang mengenai migran dan pengungsi.
Paus mengatakan bahwa kita harus menghadapi “kapal karam yang sunyi yang terjadi setelah kedatangan: ketika seseorang ditinggalkan sendirian di sebuah kota, tanpa suara, tanpa ikatan sosial, tanpa pekerjaan atau rasa aman, dan rentan terhadap mereka yang memanfaatkan kelemahannya” (Paus Leo XIV di Tenerife).
Sangat menggoda untuk hanya merespons dengan mengelola keadaan darurat ketika masalah muncul ke permukaan. Namun, kita tidak dapat membatasi diri pada solusi sementara; kita membutuhkan perubahan sistemik yang berlandaskan belas kasih. Kita perlu melihat dan mengurangi penyebab migrasi, lalu memperlakukan dengan belas kasih mereka yang datang, yang wajah-wajahnya mencerminkan wajah Kristus yang menderita.
Di balik gambar-gambar para migran yang tiba, terdapat berbagai penyebab kompleks yang perlu ditangani. Di balik wacana politik populer yang menentang migran, kita perlu melangkah lebih dalam dan melihat ketakutan yang mendorong kita mengambil sikap yang jauh dari apa yang dituntut oleh iman kita.
Paus Fransiskus berbicara tentang “globalisasi ketidakpedulian”, sedangkan Paus Leo berbicara tentang “globalisasi ketidakberdayaan”. Keduanya merupakan dua sisi dari mata uang yang sama dan menuntut adanya dialog, kajian yang mendalam, solidaritas, serta belas kasih agar kita dapat merespons sebagai satu keluarga Allah.
Sebagaimana diingatkan Paus dengan sangat kuat saat kunjungannya ke Tenerife, Kepulauan Canary:
“Suara hati manusia, terlebih lagi suara hati seorang Kristen, tidak dapat tetap acuh tak acuh di hadapan kuburan-kuburan di laut ini. Setiap nyawa yang hilang di rute-rute ini merupakan kegagalan bagi keluarga manusia.” (Paus Leo XIV di Tenerife).
Dalam ensikliknya Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV memberikan kompas moral bagi transformasi ini. Ia menegaskan:
“Ujian nyata bagi keadilan sosial saat ini adalah bagaimana kita memperlakukan para migran, pengungsi, dan mereka yang terpaksa berpindah karena kemiskinan, kekerasan, perubahan iklim, dan bencana lingkungan. Cara suatu masyarakat memperlakukan mereka menunjukkan apakah rasa keadilannya digerakkan oleh ketakutan atau oleh semangat persaudaraan.” (Magnifica Humanitas).
Lebih lanjut, Paus mengajak kita untuk menyadari bahwa membangun kembali dunia yang terluka berarti mengakui bahwa:
“Di tengah keberagaman suara dan pandangan... terdapat kemungkinan yang bercahaya: membangun bersama, mengubah keberagaman menjadi sumber daya, serta menjadikan sikap mendengarkan dan dialog sebagai landasan bersama untuk menumbuhkan keadilan dan persaudaraan.” (Magnifica Humanitas, no. 10).
Keyakinan bahwa lembaga-lembaga akademik memiliki kewajiban moral untuk bersatu dan menjadi “rasi bintang harapan”, sebagaimana dikatakan Paus, berarti kita harus bersama-sama mencari cara untuk mengatasi penyebab migrasi dan menemukan metode terbaik untuk mengintegrasikan para migran ke dalam masyarakat baru mereka. Kita harus digerakkan untuk bertindak oleh “jeritan” mereka yang menderita.
Didorong oleh keyakinan tersebut, segera setelah kunjungan Paus, kami berkumpul di Universidad de La Laguna di Tenerife untuk mengikuti simposium “Refugees & Migrants in Our Common Home”.
Kami tidak berkumpul untuk mendengarkan kuliah-kuliah pasif, melainkan untuk mempertemukan para akademisi, pemimpin organisasi non-pemerintah (LSM), dan para migran guna bersama-sama menyusun rencana aksi konkret dalam empat bidang utama: pendidikan, penelitian, advokasi, dan pelayanan.
Tujuan kami adalah membantu membangun respons yang lebih terintegrasi terhadap pesan Paus:
“Integrasi berarti mencegah terjadinya kapal karam yang kedua. Integrasi berarti membantu mereka yang datang dalam keadaan terluka agar tidak selamanya terjebak dalam penderitaan mereka, tetapi mampu bangkit kembali, mengenali anugerah yang mereka miliki, dan mempersembahkannya bagi komunitas.” (Paus Leo XIV di Tenerife).
Karena itu, kami memulai dengan mendengarkan jeritan para migran yang, seperti dikatakan Paus pada kesempatan lain, merupakan “pembawa pesan harapan”.
Harapan itu memiliki wajah manusia.
Kami melihatnya terwujud di Kepulauan Canary melalui kesaksian Ousman Umar, yang berhasil bertahan hidup setelah perjalanan brutal selama lima tahun melintasi delapan negara, menyeberangi gurun dan lautan sejak usia 12 tahun, sambil menyaksikan sebagian besar rekan perjalanannya meninggal dunia.
Kini, setelah meraih gelar MBA, ia memimpin sebuah LSM yang mempromosikan kesempatan pendidikan dan ekonomi di kampung halamannya di Ghana, sehingga kaum muda lainnya tidak merasa terpaksa mempertaruhkan nyawa dengan bermigrasi.
Para pengungsi lainnya dari Pusat Buen Samaritano juga membagikan kisah-kisah mereka yang penuh penderitaan tentang perjuangan bertahan hidup dan akhirnya berhasil berintegrasi ke dalam masyarakat yang lebih luas.
Dengan mempertemukan para akademisi, LSM, dan para migran serta membangun kemitraan, kami berupaya membangun jembatan-jembatan dialog yang dapat menghasilkan perubahan, mendorong integrasi migran ke dalam masyarakat, dan membuat kehadiran mereka dipandang sebagai berkat bagi semua pihak.
Membangun jembatan-jembatan tersebut secara terpadu merupakan salah satu sumbangan khusus yang dapat diberikan oleh jaringan universitas.
Tantangan yang ada di hadapan kita jauh melampaui pesisir Kepulauan Canary.
Meskipun Tenerife saat ini menjadi pusat penderitaan, kapal karam martabat manusia terjadi setiap hari di berbagai perbatasan rumah bersama kita.
Solusi bagi krisis global ini tidak akan tercapai melalui upaya-upaya yang terpecah-pecah, melainkan melalui mobilisasi komunitas dunia yang dipersatukan oleh tanggung jawab bersama.
Kesaksian-kesaksian yang dibagikan selama hari-hari ini di Kepulauan Canary sungguh mengharukan. Kata-kata Paus memberikan inspirasi sekaligus tantangan bagi kita semua.
Berbagai presentasi yang disampaikan para peserta benar-benar memperlihatkan sebuah rasi bintang yang bersinar terang di tengah apa yang sering kali menjadi lautan kegelapan dalam masyarakat kita saat ini.
Kita semua berbagi tugas yang mulia dan mendesak untuk meruntuhkan prasangka serta merancang jembatan-jembatan sistemik yang akan membawa kita menuju masa depan yang lebih adil dan inklusif.
Sebagaimana ditegaskan Paus dalam kata-kata penutupnya di Spanyol:
“Angkatlah pandanganmu! Ya, marilah kita mengarahkan mata kita kepada Kristus yang Tersalib... dan dengan dibimbing oleh Maria, marilah kita melanjutkan perjalanan kita dengan penuh harapan!” (Paus Leo XIV di Tenerife).
Pekerjaan kita untuk mengubah kondisi dan pola pikir saat ini menuju masa depan yang lebih baik bagi para migran, pengungsi, dan sesungguhnya bagi seluruh masyarakat, baru saja dimulai.
* Pastor John Lydon, OSA, adalah imam Ordo Santo Agustinus, Direktur Mother Cabrini Institute on Immigration di Villanova University (Amerika Serikat), serta salah satu koordinator inisiatif global “Refugees & Migrants in Our Common Home.”