Liburan Solidaritas Sant’Egidio bagi Pengungsi Hadirkan Harapan
Oleh Sr. Christine Masivo, CPS
Selama satu bulan, hampir 100 relawan dari berbagai negara Eropa, termasuk banyak kaum muda, akan mengikuti edisi kelima misi musim panas di Pulau Siprus yang diselenggarakan melalui program Sant’Egidio Solidarity Holiday.
Belas Kasih dan Martabat Manusia
Hingga akhir Agustus, para relawan Komunitas Sant’Egidio dari Italia, Prancis, Spanyol, dan berbagai negara Eropa lainnya akan mendampingi keluarga-keluarga pengungsi yang tinggal di Pusat Penerimaan Pengungsi Pournara, sekitar 20 kilometer dari ibu kota Nikosia, serta di Kamp Pengungsi Kofinou-Limnes.
Inisiatif ini jauh melampaui sekadar pemberian bantuan kemanusiaan. Misi tersebut menjadi wujud kehadiran, persahabatan, dan harapan, yang memungkinkan para pengungsi merasakan kembali kehangatan kemanusiaan dan solidaritas sembari membangun kembali rasa percaya diri serta martabat mereka.
Salah satu kegiatan utama dalam misi ini adalah Tenda Persahabatan (Tent of Friendship) di Pournara. Berlokasi di ruang makan berpendingin udara yang setiap malam menampung sekitar 200 pengungsi, tempat ini menghadirkan suasana yang tenang dan akrab bagi keluarga-keluarga pengungsi untuk menikmati santapan bersama. Selain memberikan kenyamanan dari teriknya musim panas, tempat ini juga menjadi ruang pemulihan emosional.
Pelukan Kasih
Para relawan menghabiskan waktu dengan mendengarkan kisah-kisah pribadi para pengungsi, membangun relasi persahabatan, serta mendampingi mereka dalam berbagai kesulitan hidup sehari-hari.
Di antara para relawan terdapat pula sejumlah pengungsi yang selama bertahun-tahun secara setia ikut melayani bersama Komunitas Sant’Egidio. Seluruh pelayanan tersebut bertujuan mengembalikan martabat dan membantu membangun masa depan baru bagi mereka yang pernah mengalami penderitaan, kemiskinan, bahkan kekerasan.
Banyak di antara para pengungsi melarikan diri dari konflik berkepanjangan dan krisis kemanusiaan di negara asal mereka.
Pengungsi asal Somalia terus berdatangan setelah puluhan tahun negaranya dilanda ketidakstabilan dan kekerasan. Sementara itu, keluarga-keluarga dari Sudan meninggalkan tanah air mereka akibat perang yang masih berlangsung dan krisis kemanusiaan yang terus memburuk.
Sejak tahun 2025, jumlah perempuan dan keluarga dari Iran yang mencari perlindungan di Siprus juga meningkat. Mereka datang untuk memperoleh kebebasan sipil dan kebebasan beragama, sementara konflik regional yang terjadi belakangan ini semakin mempercepat gelombang perpindahan tersebut.
Pengungsi dari Afghanistan juga terus mencari perlindungan meskipun sejumlah negara Eropa sedang mempertimbangkan kebijakan pemulangan mereka ke negara asal.
Selain itu, banyak pengungsi dari Republik Demokratik Kongo dan Kamerun datang dengan harapan dapat melanjutkan perjalanan menuju Eropa. Namun, tidak sedikit yang akhirnya terjebak bertahun-tahun di Siprus sambil menunggu pengakuan status hukum mereka.
Keberagaman komunitas pengungsi di Siprus pun terus bertambah seiring meningkatnya jumlah kedatangan.
Membangun Harapan melalui Pendidikan dan Persahabatan
Selain memberikan bantuan kemanusiaan, pendidikan dan pembangunan komunitas tetap menjadi bagian penting dari misi Sant’Egidio.
Saat ini, kursus bahasa Inggris diberikan kepada orang dewasa di Pournara serta kepada keluarga-keluarga pengungsi yang tinggal di Nikosia. Pelatihan tersebut bertujuan membekali mereka dengan keterampilan praktis yang dapat membantu proses integrasi dan membuka peluang di masa depan.
Di Kamp Pengungsi Kofinou-Limnes, yang menampung sekitar 400 pengungsi, School of Peace kembali membuka kegiatannya bagi hampir 50 anak.
Melalui berbagai aktivitas pendidikan, permainan, lokakarya kreatif, serta kegiatan rekreasi, para relawan menyediakan lingkungan yang aman dan penuh perhatian sehingga anak-anak dapat belajar, bermain, dan kembali merasakan kegembiraan masa kanak-kanak.
Bagi sebagian anak pengungsi tersebut, inilah pengalaman pertama mereka mengikuti proses belajar dalam lingkungan pendidikan yang terstruktur.
Liburan yang Membawa Harapan
Program Sant’Egidio Solidarity Holiday menjadi pengingat bahwa setiap tindakan kebaikan memiliki kekuatan untuk memulihkan harapan.
Dengan memilih menghabiskan musim panas bersama mereka yang terpaksa meninggalkan kampung halaman akibat perang, penganiayaan, maupun kemiskinan, para relawan menghadirkan nilai-nilai Injil tentang belas kasih, keramahtamahan, dan perdamaian.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa para pengungsi bukan sekadar penerima bantuan, melainkan pribadi-pribadi yang memiliki kisah hidup, impian, dan martabat yang luhur. Mereka layak dihormati, didampingi, serta diberi kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.