Cari

Kardinal Luis Antonio Tagle memimpin Misa beatifikasi Pastor Fransiskus Xaverius Trương Bửu Diệp, imam asal Vietnam yang dikenal karena pengabdian tanpa pamrih kepada umatnya dan pengorbanannya hingga akhir hayat. Kardinal Luis Antonio Tagle memimpin Misa beatifikasi Pastor Fransiskus Xaverius Trương Bửu Diệp, imam asal Vietnam yang dikenal karena pengabdian tanpa pamrih kepada umatnya dan pengorbanannya hingga akhir hayat.

Kardinal Tagle: Martir Membantu Dunia yang Bingung Menemukan Kebenaran Kristus

Kardinal Luis Antonio Tagle, Pro-Prefek Dikasteri untuk Evangelisasi, memimpin Misa beatifikasi Pastor Fransiskus Xaverius Trương Bửu Diệp, imam Vietnam yang dikenal karena pengabdiannya kepada umat dan pengorbanannya hingga akhir hayat. Pastor Diệp tewas pada 1946, di tengah situasi penuh kekerasan pasca-Perang Dunia II, setelah memilih menyerahkan dirinya demi menyelamatkan puluhan umat yang ditawan oleh kelompok bersenjata.

Oleh Isabella H. de Carvalho

Kardinal Luis Antonio Tagle menegaskan bahwa kesaksian hidup dan kemartiran Beato baru, Pastor Francis Xavier Trương Bửu Diệp, mengajak umat Kristiani untuk menjawab panggilan Yesus dengan mewartakan kasih-Nya melalui tindakan nyata, terutama dengan melayani sesama dan ikut memikul penderitaan mereka.

Pesan tersebut disampaikan Kardinal Tagle saat memimpin Misa Beatifikasi Pastor Diệp di Vietnam pada 2 Juli 2026 sebagai utusan khusus Paus Leo XIV.

Imam yang Menyerahkan Hidup bagi Umatnya

Pastor Francis Xavier Trương Bửu Diệp dikenal sebagai imam paroki di Tắc Sậy, Vietnam Selatan, yang melayani umat dengan penuh pengabdian hingga akhir hidupnya. Ketika situasi keamanan memburuk setelah Perang Dunia II, ia menolak meninggalkan umat yang dipercayakan kepadanya.

Pada tahun 1946, sekelompok milisi yang terdiri dari tentara Jepang yang membelot menangkap Pastor Diệp bersama sekitar 70 orang lainnya dan mengancam akan membakar mereka hidup-hidup. Demi menyelamatkan mereka, Pastor Diệp menawarkan dirinya sebagai pengganti para tawanan.

Para sandera akhirnya dibebaskan, sementara tubuh Pastor Diệp yang telah dimutilasi kemudian ditemukan di sebuah kolam.

Dalam homilinya, Kardinal Tagle mengatakan bahwa Beato Diệp tidak pernah goyah dalam mewujudkan kasih dan keadilan Kristus bagi kaum miskin, serta menunjukkan cinta yang merangkul semua orang tanpa membedakan agama maupun latar belakang.

“Ia setia mengikuti Yesus Sang Gembala Baik yang tidak meninggalkan kawanan-Nya untuk diterkam serigala, pencuri, dan perampok,” kata Kardinal Tagle.

Dunia Membutuhkan Saksi Kebenaran

Misa beatifikasi berlangsung di tempat ziarah Tắc Sậy, Provinsi Cà Mau, lokasi jenazah Pastor Diệp dimakamkan dan dihormati oleh banyak peziarah.

Kardinal Tagle menegaskan bahwa seorang martir adalah “misionaris sejati” karena melalui hidup dan kematiannya ia menjadi saksi Kristus serta pewarta kebenaran Injil.

“Martir sejati membantu dunia yang bingung menemukan kebenaran Yesus. Dunia membutuhkan para martir dan pembawa kebenaran. Janganlah kita menambah jumlah penyebar kebohongan, kebencian, perpecahan, dan kekerasan,” ujarnya.

Menurut Kardinal Tagle, kesaksian Beato Diệp menunjukkan bagaimana terang Kristus tetap dapat bersinar meskipun banyak pihak berusaha memadamkannya.

Ia kemudian mengajak umat untuk bertanya pada diri sendiri:

“Mana yang akan kita pilih: menyebarkan berita palsu atau ajaran Yesus? Mengikuti tren dunia atau hidup dalam kasih dan kesederhanaan Kristus? Membanggakan pencapaian duniawi atau membanggakan Yesus?”

Kardinal Luis Antonio Tagle dalam Misa beatifikasi Pastor Fransiskus Xaverius Trương Bửu Diệp yang berlangsung di Tắc Sậy, Vietnam selatan, 2 Juli 2026.
Kardinal Luis Antonio Tagle dalam Misa beatifikasi Pastor Fransiskus Xaverius Trương Bửu Diệp yang berlangsung di Tắc Sậy, Vietnam selatan, 2 Juli 2026.   (AFP or licensors)

Menjawab Panggilan Kristus

Kardinal Tagle menekankan bahwa murid sejati adalah mereka yang mencintai Yesus, tinggal bersama-Nya, dan bersedia ikut menanggung penderitaan demi Injil.

Beato Diệp, katanya, mengundang umat untuk memilih Kristus setiap hari melalui keputusan-keputusan konkret dalam hidup.

“Apa yang akan kita pilih: menjadi kaya melalui korupsi atau tetap miskin tetapi jujur? Menumpuk harta yang tidak diperlukan atau membagikannya kepada mereka yang membutuhkan? Mencari kenyamanan diri sendiri atau ikut memikul penderitaan orang lain?”

Menaruh Harapan pada Kristus

Pada bagian akhir homilinya, Kardinal Tagle mengingatkan bahwa para martir mampu bertahan karena menaruh harapan sepenuhnya pada kebangkitan Kristus dan Kerajaan Allah.

“Beato Francis Xavier mengajak kita menaruh harapan hanya kepada Yesus dan Kerajaan-Nya. Hanya harapan seperti itulah yang memberi makna dan menopang hidup serta perutusan kita, bukan harta dunia yang fana.”

Ia kembali mengajak umat berefleksi:

“Apakah kita mengandalkan kekayaan dunia atau kekayaan abadi dalam Kerajaan Allah? Popularitas dan jumlah pengikut di media sosial atau janji Yesus yang selalu menyertai kita? Senjata perang atau anugerah damai dari Kristus?”

Kardinal Tagle menutup homilinya dengan memohon perantaraan Bunda Maria dan Beato Francis Xavier Trương Bửu Diệp, seraya mengutip Sabda Bahagia dalam Injil Matius:

“Berbahagialah para pembawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”

Kardinal Luis Antonio Tagle menyampaikan homili dalam Misa beatifikasi Pastor Fransiskus Xaverius Trương Bửu Diệp yang berlangsung di Tắc Sậy, Vietnam selatan, 2 Juli 2026.
Kardinal Luis Antonio Tagle menyampaikan homili dalam Misa beatifikasi Pastor Fransiskus Xaverius Trương Bửu Diệp yang berlangsung di Tắc Sậy, Vietnam selatan, 2 Juli 2026.   (AFP or licensors)
02 Jul 2026, 12:37