Kardinal Pizzaballa: “Gaza adalah Bencana. Jangan Tinggalkan Tanah Suci Sendirian”
Oleh Guglielmo Gallone
“Ada kebutuhan akan empati terhadap mereka yang tidak berpikir seperti kita,” kata Pierbattista Pizzaballa setelah menerima Penghargaan Limes untuk Dialog dan Perdamaian dari majalah geopolitik Italia Limes pada Senin, 29 Juni, di Bergamo, Italia.
“Gaza adalah sebuah bencana,” tegas Kardinal tersebut dalam percakapannya dengan pemimpin redaksi Limes, Lucio Caracciolo.
Patriark Latin Yerusalem itu berbicara mengenai kunjungannya ke Jalur Gaza pada 22–23 Juni bersama Theophilos III, Patriark Ortodoks Yunani Yerusalem.
“Kota-kota telah diratakan dengan tanah, dihancurkan, dihapus dari peta. Rafah sudah tidak ada lagi. Yang paling mengesankan bagi saya adalah perjalanan melalui jalan-jalan darurat, melewati tenda-tenda dan saluran pembuangan. Di situlah warga Gaza hidup,” jelasnya.
“Satu hal yang tidak dapat disampaikan oleh gambar-gambar adalah baunya. Dan salah satu bencana terbesar saat ini adalah tikus-tikus yang menggigit. Mereka terutama menggigit anak-anak, dan Gaza penuh dengan anak-anak. Anda melihat mereka di mana-mana, tetapi alih-alih pergi ke sekolah, mereka bermain dalam keadaan kotor di samping saluran pembuangan.”
Tidak Ada Tanda-Tanda Perbaikan
Situasi tersebut, lanjut Kardinal Pizzaballa, tidak menunjukkan tanda-tanda membaik bahkan setelah gencatan senjata.
“Meskipun sebagian makanan kini dapat masuk, hampir semua hal lainnya masih dilarang. Barang-barang yang dikategorikan sebagai dual-use goods tidak diizinkan masuk. Dan yang dimaksud dual-use bahkan mencakup bangku sekolah, pensil, buku tulis, serta kaca untuk jendela. Kami ingin membuka kembali sekolah-sekolah, tetapi hampir semua kebutuhan tidak tersedia. Kami berusaha bertahan dengan mendaur ulang apa pun yang bisa kami temukan di sana-sini.”
Ia juga menekankan bahwa para tenaga kesehatan menyampaikan kepadanya bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah tenaga profesional yang terlatih untuk menangani trauma psikologis yang dialami anak-anak dan para ibu.
“Ini adalah persoalan yang harus ditangani dengan kepekaan yang semestinya. Saya akan mengatakannya secara tidak terlalu diplomatis, tetapi saya merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Saya sungguh tidak dapat memahaminya.”
Sementara itu, muncul laporan mengenai serangan udara Israel yang menghancurkan puluhan tenda yang menampung keluarga-keluarga Palestina yang mengungsi di kawasan padat penduduk di Jalur Gaza.
Perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas terpaksa menghabiskan malam di ruang terbuka. Delapan orang dilaporkan tewas di wilayah Gaza bagian tengah dan selatan, sementara dua orang lainnya tewas di utara Khan Younis akibat serangan pesawat nirawak.
Situasi di Wilayah Pendudukan
Situasi yang sama mengkhawatirkannya juga terjadi di Tepi Barat, wilayah Negara Palestina.
“Tidak ada supremasi hukum,” kata Patriark tersebut. “Hukum tidak berlaku, dan bahkan jika berlaku, itu bukan untuk warga Palestina. Para pemukim Israel dapat melakukan apa saja. Mereka mendirikan pos pemeriksaan di mana-mana, menebang pohon, dan mencegah orang-orang mengolah tanah mereka. Penyerangan, pencurian, dan penghinaan telah menjadi kejadian sehari-hari.”
Menurutnya, berbagai insiden tersebut terus berlangsung karena hampir tidak pernah mendapat hukuman.
“Kami sering meminta tentara Israel (IDF) untuk turun tangan dan menahan para pemukim, tetapi ketika mereka tiba, para pemukim sudah pergi—seolah-olah ada yang memberi tahu mereka terlebih dahulu—dan akhirnya IDF justru melampiaskan kemarahannya kepada kami.”
Upaya untuk Dialog dan Perdamaian
Meski menggambarkan Gaza yang hancur menjadi puing-puing, anak-anak yang bermain di dekat saluran pembuangan dan digigit tikus, serta kekerasan para pemukim di Tepi Barat, Kardinal Pizzaballa tetap menegaskan pentingnya dialog.
Menurutnya, kebutuhan akan dialog saat ini bahkan semakin mendesak karena “7 Oktober tetap sangat membekas dalam psikologi masyarakat Yahudi dan Israel. Sejak hari itu, batas-batas terakhir seakan runtuh.”
Patriark Latin Yerusalem tersebut mengakui bahwa Israel saat ini “merupakan campuran dari banyak hal.”
“Ada berbagai kelompok di dalamnya, tetapi dengan penuh penyesalan saya harus mengatakan bahwa kelompok yang paling keras adalah kalangan militer religius.”
“Sangat sulit membangun hubungan yang jernih dan tenang dengan mereka,” lanjutnya.
“Kelompok-kelompok paling ekstrem dalam masyarakat Yahudi memang belum menjadi mayoritas, tetapi mereka memperoleh semakin banyak dukungan dan pengaruh politik. Dampaknya, bagaimanapun, justru memecah belah masyarakat Israel sendiri.”
Bagaimana Israel Sedang Berubah
Pemimpin redaksi Limes, Lucio Caracciolo, merujuk pada konsep masyarakat Israel yang terpecah ke dalam sejumlah “suku”.
Gagasan tersebut pertama kali dikemukakan oleh mantan Presiden Israel, Reuven Rivlin, pada tahun 2015 untuk menggambarkan masyarakat yang terfragmentasi menjadi empat kelompok demografis utama yang hidup hampir terpisah satu sama lain, dengan sistem pendidikan dan gaya hidup masing-masing: Zionis sekuler, Yahudi nasionalis religius, Yahudi ultra-Ortodoks, dan warga Arab Israel.
Menurut Kardinal Pizzaballa, perpecahan tersebut, ditambah dengan pertumbuhan populasi Haredi—komunitas Yahudi ultra-Ortodoks yang tidak mengakui Negara Israel—semakin memperkuat ketidakpastian dalam masyarakat Israel.
“Israel terus merasa dikelilingi oleh negara-negara Arab. Hal ini juga memengaruhi berbagai keputusan yang diambil Israel.”
Ia juga menyoroti perubahan yang terjadi di Yerusalem.
“Yerusalem sedang berubah secara demografis, geografis, tetapi terutama dalam batas-batas internal dan psikologisnya. Cara orang mengalami dan memandang kota ini sedang berubah. Hingga beberapa waktu lalu, Kota Tua Yerusalem didominasi oleh penduduk Arab. Kini sangat umum melihat orang Yahudi, termasuk Yahudi religius, di mana-mana. Pertumbuhan penduduk Arab lebih lambat, sementara komunitas Kristen semakin menyusut.”
“Alasan meningkatnya bentrokan juga berkaitan dengan hal ini, yakni karena orang-orang kini lebih sering dan lebih mudah bertemu satu sama lain.”
“Kita sekarang hidup dalam gelembung-gelembung yang terpisah. Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas Arab Yerusalem hanya sedikit terlibat dalam perkembangan politik di Gaza dan Tepi Barat, bukan karena kurangnya solidaritas, melainkan karena kontrol militer yang ketat dan juga demi melindungi apa yang masih tersisa dari karakter khas Yerusalem. Jantung dari semuanya ada di sana.”
Kita Milik Tanah Itu
“Kita telah melewati bertahun-tahun penggunaan bahasa yang penuh kekerasan dan eksklusif, serta cara berpikir yang diremehkan lalu perlahan-lahan menjadi semakin umum,” katanya, seraya menggemakan peringatan Paus Leo XIV yang menyebut “krisis bahasa” sebagai salah satu akar terdalam dari berbagai konflik masa kini.
Karena itu, seruan Patriark tersebut terutama ditujukan kepada opini publik dan media.
“Jurnalisme yang membantu orang memahami sangatlah penting. Teruslah membicarakan persoalan ini dan jangan mengikuti tren sesaat. Surat kabar memberitakannya untuk sementara waktu lalu berhenti. Tanah itu adalah milik kita—atau lebih tepatnya, kitalah yang menjadi milik tanah itu.”
“Orang-orang Israel sering bertanya kepada kami, ‘Mengapa Anda tidak juga berbicara tentang Sudan Selatan?’ Jawabannya sederhana: karena kami tidak memiliki hubungan yang sama dengan Sudan Selatan seperti yang kami miliki dengan tanah ini,” kata Kardinal Pizzaballa.
“Kita tidak boleh mengisolasi manusia. Kita membutuhkan empati, pemahaman, dan dialog, tanpa membangun tembok-tembok baru. Anda harus membantu kami keluar dari sumur itu dan tidak membiarkan kami tetap terperangkap di dalamnya.”