Kardinal Kikuchi: 'Gereja di Asia hidup dalam beragam realitas, namun memiliki satu iman'
Oleh Deborah Castellano Lubov
"Selama tiga hari ini, kami memiliki kesempatan untuk semakin memahami realitas kami sendiri di Asia dan menyadari bahwa, meskipun hidup dalam situasi yang sangat beragam, kami dipersatukan dalam satu iman, satu Tubuh Kristus."
Demikian disampaikan Kardinal Tarcisius Isao Kikuchi, SVD, Uskup Agung Tokyo sekaligus Sekretaris Jenderal FABC, ketika merefleksikan Sidang Pleno FABC yang dibuka pada Senin di Jakarta, Indonesia, dan akan berakhir pada hari Minggu. Lebih dari 120 kardinal dan uskup dari berbagai negara Asia berkumpul untuk berdoa serta merenungkan misi Gereja di seluruh benua Asia.
Kardinal Kikuchi memimpin Perayaan Ekaristi pada hari pembukaan sidang. Selama beberapa hari terakhir, para peserta saling berbagi pengalaman, dan pada hari Kamis para delegasi mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka.
Di sela-sela sidang pleno, Vatican News berbincang dengan Uskup Agung Tokyo mengenai jalannya sidang, situasi Gereja di Jepang, serta ensiklik Paus Leo XIV Magnifica humanitas.
Tanya: Yang Mulia, menurut Anda apa buah-buah utama Sidang Pleno FABC sejauh ini? Apa tema dan prioritas utama dalam pembahasan Anda?
Kardinal Kikuchi: Gereja di Asia hidup dalam keragaman budaya, bahasa, politik, dan ekonomi. Namun ada satu kesamaan di antara sebagian besar dari kami: kami merupakan kelompok minoritas di tengah masyarakat, kecuali di Filipina.
Sejauh ini kami baru menjalani tiga hari refleksi dan saling berbagi pengalaman. Pada hari pertama, para peserta menyampaikan presentasi video singkat berdurasi tiga menit. Hari Rabu diisi dengan doa dan Percapakan dalam Roh yang dipimpin Kardinal Tagle. Kemudian pada hari Kamis kami mendalami perubahan lanskap sosial-politik di Asia sekaligus berbagi mengenai realitas Gereja-Gereja lokal kami.
Melalui tiga hari tersebut, kami semakin memahami realitas kami masing-masing di Asia dan semakin menyadari bahwa meskipun hidup dalam konteks yang sangat beragam, kami dipersatukan dalam satu iman, satu Tubuh Kristus. Kami berbagi tantangan dan peluang misi berdasarkan situasi setempat, serta menemukan sejumlah unsur yang sama, terutama pentingnya dialog.
Kami terus mencari cara terbaik untuk menjadi jembatan, sekaligus pembangun jembatan di antara masyarakat dan bersama masyarakat melalui dialog—dengan berbagai budaya, dengan sesama, khususnya mereka yang miskin, di tengah keberagaman agama, serta dalam menanggapi krisis ekologis.
T: Umat Katolik di Jepang merupakan persentase yang relatif kecil dari populasi. Sebagai Uskup Agung Tokyo, bagaimana Anda melihat pembahasan dalam Sidang Pleno ini akan membantu Gereja di Jepang memberikan kesaksian, bahkan mewartakan iman, dalam konteks tersebut?
Kardinal Kikuchi: Menurut statistik resmi Gereja, jumlah umat Katolik di Jepang kurang dari setengah juta orang. Namun, pada kenyataannya terdapat sedikitnya setengah juta umat Katolik migran yang juga tinggal di negara ini. Sistem pendataan resmi Gereja di Jepang belum sepenuhnya mencakup umat Katolik migran tersebut. Sebagai contoh, diperkirakan ada sekitar 40.000 warga Filipina yang tinggal di wilayah Keuskupan Agung Tokyo, dan banyak kaum muda Vietnam yang bekerja di Jepang dengan visa sementara juga merupakan umat Katolik.
Melalui perjumpaan kami dengan para Uskup dari berbagai negara Asia, kami mengadakan diskusi yang sangat bermanfaat mengenai kenyataan hidup umat Katolik migran serta bertukar pandangan tentang pendampingan pastoral bagi mereka. Kami semua sepakat bahwa kehadiran umat Katolik migran merupakan kontribusi yang sangat berarti bagi Gereja setempat. Mereka memperkaya keberagaman Gereja dan memungkinkan Gereja menjadi saksi persatuan di tengah keberagaman, khususnya dalam masyarakat yang kerap cenderung pada sikap eksklusif dan nasionalisme, seperti di Jepang.
Dengan menjadi komunitas yang hidup dalam "persatuan dalam keberagaman," Gereja di Jepang dapat mewartakan nilai-nilai Injil melalui keberadaannya sendiri, sebagai komunitas yang terdiri dari orang-orang dari berbagai bangsa yang berjalan dan berdoa bersama. Sinodalitas menjadi kunci bagi kesaksian tersebut.
T: Sebagai Uskup Agung Tokyo, bagaimana ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica humanitas, diterima di Jepang? Mengingat Jepang merupakan salah satu pemimpin dunia dalam inovasi teknologi, apakah menurut Anda dokumen ini mendapat perhatian masyarakat Jepang? Bagian mana yang menurut Anda paling relevan bagi konteks Jepang?
Kardinal Kikuchi: Ensiklik baru Magnifica humanitas telah diberitakan oleh sejumlah media di Jepang. Bahkan sejak terpilih sebagai Paus, perkataan dan tindakan Paus Leo terus mendapat perhatian luas dari media Jepang.
Pada saat yang sama, karena ensiklik tersebut membahas isu kecerdasan buatan (AI), yang juga menjadi perhatian nasional Jepang saat ini, minat terhadap isi dokumen tersebut cukup besar. Namun, terjemahan resminya ke dalam bahasa Jepang masih sedang dipersiapkan, dan kami menantikan penerbitannya. Setelah terjemahan resmi tersedia, barulah kami dapat melihat bagaimana tanggapan masyarakat luas terhadap ensiklik tersebut.