Cari

Kardinal Michael Czerny saat memimpin Misa pembukaan Sidang Raya AMECEA. Kardinal Michael Czerny saat memimpin Misa pembukaan Sidang Raya AMECEA. 

Kardinal Czerny: Dengan Sabar Bangun Jembatan Persekutuan yang Autentik

Dalam Misa pembukaan Sidang Raya Asosiasi Konferensi Waligereja Anggota Afrika Timur, Kardinal Michael Czerny mendorong umat Kristiani untuk dengan sabar mengubah dunia dengan membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri mereka sehingga menghadirkan persekutuan.

Oleh Isabella H. de Carvalho

Jangan kehilangan harapan di tengah kesulitan, dan dengan sabar bangunlah jembatan-jembatan persekutuan untuk mengubah dunia serta berbagai situasi penderitaan yang ada di dalamnya. Seruan itu disampaikan Kardinal Michael Czerny, Prefek Dikasteri untuk Pengembangan Manusia Integral, dalam Misa pembukaan Sidang Raya Asosiasi Konferensi Waligereja Anggota Afrika Timur (Association of Member Episcopal Conferences in Eastern Africa/AMECEA).

“Hidup di dunia ini, kita sebagai orang Kristiani dipanggil untuk mengubah dan mentransfigurasikannya menurut cara Roh Kudus, dari dalam,” katanya dalam liturgi yang dirayakan di Nairobi, Kenya, pada Minggu, 19 Juli 2026.

Kardinal Czerny berada di Nairobi pada 18–22 Juli untuk mengikuti Sidang Raya ke-21 AMECEA, yang menghimpun delapan konferensi waligereja nasional dari sembilan negara di Afrika Timur.

Sidang tersebut berlangsung di Catholic University of Eastern Africa dan dihadiri sekitar 140 uskup dari Sudan, Sudan Selatan, Etiopia, Eritrea, Uganda, Kenya, Tanzania, Malawi, Zambia, serta wilayah terkait di Djibouti dan Somalia.

Tema sidang tahun ini adalah “Perjalanan Sinodal AMECEA Bersama Kaum Muda: Membangun Jembatan Persekutuan, Harapan, Keadilan, dan Tata Kelola yang Baik.”

Membangun Jembatan Persekutuan

Dalam homilinya, Kardinal Czerny merefleksikan perumpamaan tentang ragi yang diambil dari Injil hari itu. Perumpamaan tersebut menggambarkan Kerajaan Allah seperti ragi yang tersembunyi di dalam adonan tepung hingga seluruh adonan mengembang.

“Gambaran ini dengan jelas mendorong suatu karya yang tenang, mendalam, dan efektif untuk mengubah situasi penderitaan dan ketidakadilan,” jelas Kardinal. “Ini bukan soal menampilkan diri secara mencolok, melainkan menjalani hidup sehari-hari dengan diam-diam mengubah dunia dari dalam, dalam persekutuan yang mendalam dengan Allah dan sesama.”

Ia menegaskan bahwa Roh Kudus yang bekerja dalam diri setiap orang Kristiani membantu mengubah dunia, termasuk melalui kemampuan membaca tanda-tanda zaman dan keberanian untuk menjangkau sesama.

Dalam konteks itu, Kardinal Czerny secara khusus mengajak kaum muda untuk “membangun jembatan-jembatan persekutuan yang autentik”, bukan dengan “meniru atau menyesuaikan diri secara membabi buta dengan cara-cara dunia, sehingga mengaburkan identitas Kristiani atau melemahkan tuntutan Injil”, melainkan dengan menjadi sumber kehidupan seperti ragi.

“Dengan cara inilah kita sungguh bekerja sama membangun Kerajaan Allah, menjalankan peran kita sebagai ‘ragi’ dalam berbagai konteks kehidupan yang berbeda-beda,” tegasnya.

Misa yang Dirayakan di Nairobi
Misa yang Dirayakan di Nairobi

Dengan Sabar Membangun Jembatan

Mengutip perumpamaan lain dalam Injil, yakni tentang gandum dan lalang yang tumbuh bersama, Kardinal Czerny menyoroti sikap pemilik ladang yang tidak segera mencabut lalang untuk memisahkannya dari gandum.

Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan “kesabaran, kebijaksanaan, dan iman”. Meskipun sang petani melihat adanya kejahatan yang diwakili lalang, ia tidak tergoda mengambil tindakan yang tergesa-gesa dan menghukum, yang justru dapat merusak kebaikan yang sedang bertumbuh, meski belum tampak.

Bagi Kardinal Czerny, pendekatan yang “bijaksana dan sabar” ini seharusnya membantu semua umat Kristiani mengembangkan “diplomasi sehari-hari”, yakni membangun jembatan di antara sesama, baik di dalam Gereja maupun dalam kehidupan masyarakat.

“Terlalu mudah bagi kita untuk terjebak dalam penilaian yang tergesa-gesa dan tidak adil,” ujarnya.

Dengan Berani Mengecam Kejahatan

Pada bagian akhir homilinya, Kardinal Czerny merefleksikan perumpamaan tentang biji sesawi yang menggambarkan bahwa Kerajaan Surga dapat bertumbuh bahkan dari benih yang paling kecil.

Dengan mengutip ensiklik Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV, Kardinal menegaskan bahwa perumpamaan itu “mengajak kita hidup dalam harapan yang mendalam, yang mampu menantang berbagai penafsiran paling negatif terhadap realitas, sehingga kita dapat dengan penuh keyakinan melihat kekuatan sebuah benih kecil yang, di tengah begitu banyak kesulitan, tetap mampu ‘bertunas dan bertumbuh’.”

“Bapa Suci memperingatkan kita terhadap apa yang disebutnya sebagai realisme palsu, yakni sikap pasif dan menyerah,” lanjutnya. “Sebaliknya, beliau menekankan pentingnya mengecam kejahatan dengan berani. Sebagai orang Kristiani, kita dipanggil bukan hanya untuk berhenti pada kecaman—yang memang perlu tetapi tidak cukup—melainkan berusaha mengenali dan mengikuti jalan-jalan baru yang sudah dibukakan Tuhan di hadapan kita.”

“Mari kita menyimpan dalam hati seruan Injil melalui gambaran benih itu,” tegas Kardinal. “Marilah kita memohon kepada Tuhan agar semakin mampu membangun ‘jembatan-jembatan harapan’, sehingga kita dapat berdoa dan bekerja bersama: ‘Datanglah Kerajaan-Mu!’”

Ia menutup homilinya dengan doa agar semua peserta memperoleh rahmat dari surga untuk mampu membangun “jembatan-jembatan persekutuan, harapan, keadilan, dan tata kelola yang baik.”

20 Jul 2026, 12:24