Uskup Grasselli: Pengalaman Misi Bantu Kita Rasakan Penyelenggaraan Ilahi
Oleh Debora Donnini – Porto San Giorgio
Suasana penuh sukacita dan antusiasme terasa di “Tenda Pertemuan” (Tent of Gathering) di Porto San Giorgio, tempat sekitar 800 imam berkumpul untuk mengikuti retret yang diselenggarakan oleh Jalan Neokatekumenal.
Sebagian besar peserta merupakan imam yang dibentuk di 37 seminari misioner diosesan Redemptoris Mater yang tersebar di Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, mulai dari Vancouver di Kanada hingga Kota Meksiko, serta Belém di Brasil yang memiliki misi khusus dalam evangelisasi wilayah Amazon.
Pada Jumat malam, 19 Juni, para imam dijadwalkan menghadiri pertunjukan karya simfoni ciptaan Kiko Argüello di lapangan depan Basilika Rumah Kudus Loreto (Basilica of the Holy House of Loreto).
Selanjutnya, mulai Sabtu, mereka akan berangkat berpasangan untuk menjalani pengalaman misioner selama empat hari di berbagai wilayah Italia. Dalam misi tersebut, mereka akan mewartakan Injil tanpa membawa uang, sebagai bentuk kepercayaan penuh kepada penyelenggaraan Allah.
Pengalaman Iman yang Mendalam
Rektor Seminari Redemptoris Mater Newark, Monsinyur Renato Grasselli, mengatakan bahwa kegiatan misioner tersebut merupakan pengalaman iman yang sangat penting dan telah dijalani oleh banyak imam sejak masa pembentukan mereka di seminari.
Menurutnya, hingga saat ini sebanyak 130 imam yang dibentuk di Seminari Newark telah ditahbiskan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 45 persen menjalankan tugas misioner di berbagai wilayah Amerika Serikat maupun negara-negara lain di dunia. Sementara itu, sisanya melayani dalam karya pastoral di keuskupan agung masing-masing.
Mgr Grasselli juga mengungkapkan kegembiraannya karena para imam dari kawasan Amerika yang mengikuti kegiatan ini dijadwalkan menghadiri Audiensi Umum Paus pada Rabu mendatang setelah menyelesaikan tugas evangelisasi mereka.
Menemukan Penyelenggaraan Allah
Merefleksikan makna kegiatan tersebut, Mgr Grasselli menggambarkan pengalaman misioner itu sebagai perjumpaan nyata dengan Penyelenggaraan Ilahi.
Menurutnya, ketika para imam berangkat tanpa membawa bekal materi dan hanya mengandalkan iman, mereka dapat mengalami secara konkret bagaimana Allah menyertai dan menopang orang-orang yang menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya dalam pewartaan Injil.
Ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut membantu para imam menyadari bahwa Allah senantiasa hadir dan bekerja melalui berbagai cara yang sering kali tidak terduga, terutama ketika seseorang melangkah dalam iman dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya.