Umat Katolik Myanmar Rayakan Kembalinya Katedral Loikaw
Oleh Sr. Christine Masivo, CPS
Keuskupan Loikaw di Negara Bagian Kayah, Myanmar, menerima secercah harapan di tengah konflik yang terus berlangsung dengan dikembalikannya Katedral Kristus Raja beserta pusat pastoralnya, yang sejak November 2023 diduduki oleh militer.
Kompleks gerejawi tersebut digunakan sebagai pangkalan militer selama konflik yang meletus setelah kudeta militer Myanmar pada Februari 2021.
Tanda Harapan bagi Komunitas Katolik
Uskup Celso Ba Shwe menyampaikan rasa syukur dan sukacitanya atas pengembalian katedral tersebut. Ia menggambarkan peristiwa itu sebagai momen yang memberikan harapan baru bagi komunitas Katolik setempat.
Meski demikian, Uskup Ba Shwe mengakui bahwa bangunan katedral dan pusat pastoral masih membutuhkan perbaikan besar sebelum dapat kembali berfungsi sepenuhnya sebagai pusat ibadah dan pelayanan pastoral.
Sebagian renovasi telah dilakukan, tetapi pusat pastoral tersebut masih belum memiliki fasilitas dasar seperti listrik dan air bersih.
Secara bertahap, umat mulai kembali ke wilayah tersebut sehingga keuskupan dapat mulai menata kembali berbagai kegiatan pastoral.
Namun, Uskup Ba Shwe sendiri belum kembali menetap di Loikaw. Menurutnya, misi pelayanannya saat ini tetap berada di tengah umat yang mengungsi akibat konflik.
Gereja Hadir di Tengah Para Pengungsi
Menurut Kantor Berita Fides Vatikan, konflik di Myanmar telah memicu salah satu krisis kemanusiaan paling serius di negara itu dan memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka.
Uskup Ba Shwe mengatakan lebih dari 300.000 pengungsi internal kini tersebar di ratusan kamp yang berada di wilayah keuskupannya.
Saat ini ia tinggal di Gereja Bunda Allah Sbansu dan secara rutin mengunjungi kamp-kamp pengungsi serta komunitas-komunitas yang tersebar di berbagai wilayah.
Banyak paroki masih kosong dan ditutup karena keluarga-keluarga mencari perlindungan di hutan, desa-desa terpencil, maupun tempat penampungan sementara.
“Kehadiran Gereja di kamp-kamp pengungsian merupakan bentuk baru pelayanan misioner,” kata Uskup Ba Shwe.
Para imam dan pekerja pastoral hidup bersama para pengungsi, berbagi kesulitan hidup sehari-hari, sekaligus memberikan dukungan rohani.
“Ini merupakan cara yang berbeda untuk menjadi imam,” ujarnya.
“Pelayanan pastoral tidak lagi terbatas pada bangunan gereja, melainkan dijalankan di mana pun umat berada.”
Meskipun berada dalam situasi sulit, para imam tetap melayani umat dan merayakan sakramen-sakramen Gereja.
Pendidikan dan Solidaritas di Tengah Krisis
Uskup Ba Shwe juga menyoroti kuatnya semangat solidaritas yang berkembang di antara masyarakat.
“Ada semangat solidaritas dalam komunitas yang membuat mereka saling menopang satu sama lain, sambil bekerja sama dengan para donatur agar banyak orang dapat bertahan hidup,” katanya.
Menurutnya, komitmen bersama tersebut mencerminkan kehadiran Allah di tengah umat-Nya, sementara iman tetap menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat yang menantikan hari ketika mereka dapat kembali ke rumah masing-masing.
Krisis berkepanjangan juga berdampak pada dunia pendidikan. Dengan terbatasnya akses sekolah, muncul kekhawatiran terhadap masa depan generasi muda Myanmar.
Sebagai tanggapan atas situasi tersebut, para biarawati dan pekerja Gereja menyelenggarakan sekolah-sekolah informal serta berbagai kegiatan pendidikan dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Seruan untuk Rekonsiliasi
Di tengah berbagai kebutuhan kemanusiaan yang mendesak, Uskup Ba Shwe tetap menyerukan rekonsiliasi nasional.
Ia meyakini bahwa perdamaian yang sejati hanya dapat tercapai melalui dialog dan persatuan antara para pemimpin politik, kelompok-kelompok bersenjata, dan pihak berwenang.
“Kami menginginkan perdamaian dan rekonsiliasi,” katanya.
“Tanpa rekonsiliasi, tidak akan ada perdamaian.”
Melalui doa, pendampingan, dan kedekatan dengan mereka yang menderita, Gereja di Myanmar terus memberikan kesaksian tentang harapan, sambil percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.