2022.06.30 San Pietro e San Paolo, Santi Pietro e Paolo

Refleksi Pesta Santo Petrus dan Paulus : Runtuhnya Ego

Dalam perayaan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, Romo Marion Nguyen, OSB, membagikan refleksinya atas bacaan liturgi hari ini dengan tema: “Runtuhnya Ego dalam Keheningan dan Pertobatan Diri.”

Oleh Romo Marion Nguyen, OSB

Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus menempatkan kita di hadapan dua pilar agung Gereja universal. Jika kita melihat sosok Paulus, pertobatannya tampak berlangsung secara langsung, jelas, dan spektakuler: cahaya yang menyilaukan di jalan menuju Damsyik (Kis. 9:3–6), suara dari surga, dan perubahan hidup yang radikal.

Namun bagaimana kita memahami pertobatan Petrus?

Titik balik hidupnya tidak terjadi dalam satu momen yang mencolok, melainkan melalui perjalanan yang jauh lebih halus, rapuh, dan menyakitkan. Meski demikian, pada akhirnya Petrus dan Paulus memiliki kebutuhan yang sama: pertobatan.

Pertobatan Petrus, justru karena tidak diiringi kegemparan dan ditandai oleh pengalaman kegagalan pribadi, terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan kita dan kompleksitas zaman ini.

Puncak perjalanan tersebut terjadi di tepi Danau Galilea, dalam dialog terkenal antara Yesus dan Petrus yang dicatat dalam Yohanes 21:15–19. Untuk memahami kedalaman pemulihan itu, menarik untuk mempertemukan wawasan para Bapa Gereja, khususnya Santo Agustinus, dengan analisis filologis kontemporer yang dikembangkan Kardinal Albert Vanhoye dalam karyanya Pietro e Paolo (Peter and Paul: Biblical Spiritual Exercises).

Dalam komentarnya atas Injil Yohanes (Iohannis Evangelium Tractatus, 123, 5), Santo Agustinus merangkum dinamika psikologis dan spiritual teks tersebut dengan sangat indah. Ia menulis bahwa “kasih harus mengakui sebanyak ketakutan pernah menyangkal” (reddatur trinae negationi trina confessio, ne minus amori lingua serviat quam timori).

Tujuan utama pertanyaan Yesus bukanlah menginterogasi Petrus, melainkan membangun sebuah ordo amoris—tatanan kasih yang benar—di mana kasih manusia dipulihkan dan dimurnikan dari setiap bentuk kesombongan.

Kardinal Vanhoye mengembangkan gagasan Agustinus tersebut melalui pembacaan mendalam terhadap teks Yunani dalam Pietro e Paolo.

Pada dua pertanyaan pertama (Yoh. 21:15–16), Yesus menggunakan kata kerja agapao, yang menunjuk pada kasih total, ilahi, dan mutlak:

“Apakah engkau mengasihi Aku (agapas me) lebih daripada mereka ini?”

Petrus, yang masih terluka oleh ingatan akan kesombongannya di masa lalu—ketika di Ruang Perjamuan ia dengan penuh keyakinan berkata, “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu” (Yoh. 13:37), sebelum akhirnya menyangkal Yesus tiga kali (Yoh. 18:15–27)—tidak lagi berani menempatkan dirinya di atas orang lain.

Karena itu ia menjawab dengan menggunakan kata kerja phileo, yang menunjuk pada kasih persahabatan manusiawi yang tulus:

“Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu (philo se).”

Dalam percakapan ini tampak kelembutan pedagogis yang luar biasa. Yesus menunjukkan kesabaran dan kasih yang tak terbatas terhadap rasa malu Petrus. Ia tidak menghapus masa lalu begitu saja, tetapi juga tidak meninggalkan rasul-Nya karena kelemahan dan kegagalannya.

Sebaliknya, pada pertanyaan ketiga (Yoh. 21:17), Yesus melakukan apa yang dapat disebut sebagai mukjizat belas kasih pastoral. Ia turun ke tingkat pengalaman Petrus dan menggunakan kata kerja yang sama:

“Apakah engkau mengasihi Aku (phileis me)?”

Pada saat itulah ego Petrus benar-benar runtuh.

Petrus memahami bahwa Kristus tidak menuntut kesempurnaan tanpa cacat, melainkan kejujuran yang total dan tanpa topeng. Yang runtuh sesungguhnya bukanlah Petrus, melainkan ilusi tentang siapa dirinya yang selama ini ia bangun.

Hanya kepada seorang pemimpin yang telah dikosongkan dari dirinya sendiri dan mengalami pertobatan semacam itulah Yesus dapat mempercayakan misi universal:

“Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh. 21:17).

Kardinal Vanhoye menegaskan bahwa penekanan kalimat itu sepenuhnya terletak pada kepemilikan kawanan tersebut: domba-domba itu milik Kristus, bukan milik Petrus.

Pesan ini memiliki relevansi yang sangat mendesak bagi dunia saat ini.

Kita hidup dalam masyarakat yang didominasi oleh “kepemimpinan berbasis personalitas”, sebuah ekosistem digital yang menilai seseorang berdasarkan citra yang dibangunnya sendiri—mulai dari para pemimpin dunia hingga para kreator konten yang sukses di TikTok atau YouTube.

Setiap hari kita tenggelam dalam arus media tersebut, mengonsumsi berbagai kontennya dari menit ke menit. Karena itu kita tidak boleh meremehkan pengaruhnya terhadap jiwa kita.

Budaya ini terus-menerus menggoda manusia untuk memuja ego, menyembunyikan kelemahan, dan mencari pengakuan berdasarkan citra kekuatan atau dukungan sosial.

Namun sebelum mengkritik budaya tersebut, ada pertanyaan yang lebih personal yang perlu diajukan kepada diri sendiri.

Siapa di antara kita yang, setelah bertahun-tahun menjalani pernikahan, persahabatan, kehidupan keluarga, atau hidup berkomunitas, tidak menyadari bahwa cinta sejati pada akhirnya akan menyingkapkan semua ilusi?

Mereka yang hidup bersama kita cukup lama pada akhirnya akan mengenal bukan hanya kekuatan kita, tetapi juga kelemahan kita.

Karena itu pertanyaannya bukanlah apakah topeng yang kita bangun akan runtuh atau tidak. Pertanyaannya adalah apakah kita bersedia membiarkan keruntuhan itu menjadi awal dari pertobatan yang lebih dalam, sebagaimana yang dialami Petrus.

Teladan kedua “pangeran” Gereja universal menunjukkan arah yang berbeda dari budaya zaman ini.

Petrus menjadi batu karang Gereja bukan ketika ia merasa dirinya paling kuat, melainkan ketika ia berhenti merasa perlu tampak kuat.

Gembala yang dipercaya untuk menggembalakan kawanan Kristus pertama-tama adalah seorang murid yang telah belajar membiarkan ilusi tentang kemandiriannya sendiri mati di bawah tatapan penuh belas kasih Tuhan yang bangkit.

Romo Marion Nguyen, OSB adalah Abas Biara Santo Martinus, Lacey, Washington, Amerika Serikat.

28 Jun 2026, 10:58