2022.09.30 Sunday Gospel Reflections

Refleksi Hari Tuhan: “Roti Bekal dalam Perjalanan Hidup”

Saat Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus Yang Mahakudus, Romo Edmund Power merefleksikan tema: “Roti Bekal dalam Perjalanan Hidup”.

Oleh Romo Edmund Power, OSB

Di sebagian besar negara berbahasa Inggris, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus Yang Mahakudus, yang lebih dikenal sebagai Corpus Christi, dirayakan pada hari Minggu setelah Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

Perayaan yang baru muncul pada milenium kedua ini—ditetapkan pada abad ke-13—sesungguhnya merupakan pengembangan devosional dari perayaan utama Ekaristi pada Kamis Putih. Perayaan Kamis Putih sendiri menempatkan misteri Tubuh dan Darah Kristus secara kokoh dalam konteks Trihari Suci Paskah.

Injil hari ini diambil dari Yohanes 6, ketika Yesus menyatakan, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga.” Namun Gereja mengajak kita memulai permenungan melalui pengalaman Keluaran bangsa Israel.

Selain menjadi peristiwa yang menentukan dalam sejarah Israel, perjalanan panjang melintasi padang pasir dan bebatuan, menyeberangi perairan yang mengancam namun juga diselingi saat-saat penghiburan dan ketenangan, merupakan gambaran yang melambangkan perjalanan hidup kita sendiri, baik sebagai komunitas orang beriman maupun sebagai pribadi-pribadi yang mencari wajah Allah.

Bacaan pertama, meskipun singkat, menawarkan sejumlah terang yang dapat menjadi pedoman dalam perjalanan hidup. Ada tujuh hal yang dapat direnungkan.

Yang pertama adalah panggilan untuk terus berjalan. “Ingatlah seluruh perjalanan yang telah ditempuh atas pimpinan Tuhan, Allahmu.” Tidak boleh ada berhenti. “Tidur yang mematikan,” sebagaimana disebut oleh Bapa monastik Yohanes Kasianus, tidak boleh sampai memadamkan kerinduan hati manusia.

Yang kedua adalah bahwa perjalanan selalu dijalani dalam kebersamaan dan solidaritas dengan sesama. Musa berbicara kepada seluruh bangsa secara kolektif. Mereka berjalan bersama dan saling menopang satu sama lain. Hal ini mengingatkan bahwa Ekaristi adalah sakramen persekutuan yang lahir dari Tubuh Kristus sekaligus membentuk kita menjadi Tubuh Kristus.

Yang ketiga adalah hasrat, energi yang mendorong kita terus maju. “Ia merendahkan hatimu dan membiarkan engkau lapar.” Lapar dan haus mempertajam kerinduan manusia serta membuka hati kita terhadap Ekaristi.

Yang keempat adalah penderitaan dan kesulitan yang harus dihadapi dalam perjalanan hidup. Kitab Suci menggambarkannya sebagai “padang gurun yang besar dan dahsyat, dengan ular-ular berbisa dan kalajengking.” Pengalaman penderitaan dapat memperdalam kerinduan kita akan anugerah yang hendak diberikan Tuhan.

Yang kelima adalah makanan yang disediakan Tuhan. “Ia memberi engkau makan dengan manna.” Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya berjalan tanpa bekal.

Yang keenam adalah sabda, khususnya Sabda Allah. “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari segala yang keluar dari mulut Tuhan.” Ungkapan ini mengingatkan kita akan hubungan erat antara Sabda Allah dan Ekaristi.

Yang ketujuh sekaligus terakhir adalah harapan. Kita dapat berjalan tanpa rasa takut karena Tuhan “mengeluarkan air bagimu dari gunung batu yang keras.” Bahkan dari tempat yang tampaknya paling tandus sekalipun, kehidupan dapat muncul.

Dalam tradisi Gereja, komuni terakhir yang diterima seseorang menjelang kematian disebut viaticum, yang secara harfiah berarti “bekal untuk perjalanan.”

Namun sesungguhnya setiap kali kita menerima Komuni Kudus, kita menerima viaticum: santapan pokok yang menopang perjalanan menuju kepenuhan hidup.

Dan bekal perjalanan itu adalah Dia yang dalam Injil hari ini berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga.” Bukan hanya roti kehidupan, melainkan juga “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 14:6).

06 Jun 2026, 10:12