Refleksi Hari Tuhan: Melayani Tanpa Menghitung Biaya
Oleh Pastor Luke Gregory, OFM*
Melihat orang banyak itu, hati Yesus yang penuh kasih tergerak oleh belas kasihan terhadap mereka yang tampak tersesat, menderita, dan terlantar: “seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”
Gambaran yang menyentuh ini menjadi pengingat penting akan tanggung jawab bersama kita terhadap sesama dan mendesaknya kebutuhan akan hubungan antarmanusia di tengah masa yang penuh gejolak. Dalam dunia yang sarat tantangan, Yesus mengenali pergumulan orang-orang di sekitar-Nya.
Penderitaan yang dialami banyak orang, yang merasa ditinggalkan dan membutuhkan bimbingan, juga mengajak kita saat ini untuk merefleksikan komunitas kita sendiri. Setiap orang memikul beban yang mungkin tidak terlihat, dan sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menanggapi dengan belas kasih dan dedikasi yang sama seperti yang ditunjukkan-Nya.
Bacaan ini menyoroti sebuah ajaran penting: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit.” Pernyataan ini sangat relevan karena mengingatkan kita bahwa meskipun kebutuhan akan belas kasih dan pelayanan tidak pernah sebesar sekarang, kesediaan untuk terlibat dalam pelayanan sering kali jauh lebih sedikit dibandingkan kebutuhan yang ada.
Yesus mengajar kita untuk “meminta kepada Tuan yang empunya tuaian supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian-Nya.” Ajakan ini menantang kita untuk berdoa dan mencari bimbingan ilahi agar semakin banyak orang bersedia mempersembahkan waktu dan talenta mereka demi kesejahteraan sesama manusia.
Ketika merenungkan ajaran ini, penting bagi kita untuk mengingat para rasul yang dipilih dan diberi kuasa untuk melakukan karya-karya pelayanan yang luar biasa. Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberikan kuasa atas roh-roh jahat, sehingga mereka mampu menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan.
Kuasa ilahi itu tidak diberikan begitu saja. Kuasa tersebut datang bersama tanggung jawab untuk melayani sesama secara tanpa pamrih. Nama-nama kedua belas rasul, yang berasal dari latar belakang yang beragam, mengingatkan kita akan panggilan universal untuk melayani. Dari Simon Petrus dan Andreas yang bekerja sebagai nelayan, hingga Matius sang pemungut cukai, masing-masing dipilih untuk tujuan tertentu.
Keberagaman ini menunjukkan bahwa panggilan untuk melayani melampaui status sosial, latar belakang, maupun profesi, serta memberikan harapan bahwa setiap orang dapat mengambil bagian dalam “tuaian” itu.
Dalam petunjuk-Nya kepada para murid, Yesus menekankan pentingnya menjangkau “domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Hal ini dapat memunculkan diskusi mengenai siapa yang dimaksud dengan “domba yang hilang” dalam konteks masa kini.
Di zaman sekarang, siapakah mereka? Mereka bisa saja orang-orang yang terpinggirkan, yang sedang berjuang menghadapi kesulitan, mereka yang tidak memiliki suara, atau bahkan mereka yang telah menyimpang dari jalan hidupnya. Setiap orang dipanggil untuk menanggapi kebutuhan di lingkungannya sendiri: keluarga, sahabat, tetangga, dan komunitas yang lebih luas.
Sebagaimana para murid diutus dengan pesan tertentu, kita pun diutus untuk mewartakan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat.” Pesan ini merupakan cahaya harapan sekaligus undangan untuk bertindak. Pesan ini mengingatkan bahwa bahkan di tengah keputusasaan, selalu ada kesempatan untuk pembaruan dan penyembuhan. Kita diminta untuk menunjukkan iman melalui tindakan nyata, mewujudkan keyakinan kita dengan memperhatikan kesejahteraan sesama.
Perintah untuk “menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, dan mengusir setan” mencerminkan mandat yang tetap bergema hingga saat ini. Meskipun pemahaman harfiahnya mungkin tampak sulit diwujudkan, esensi panggilan tersebut tetap relevan: kita dipanggil untuk meringankan penderitaan di mana pun kita menjumpainya. Tindakan kebaikan, belas kasih, dan penyembuhan tidak hanya menyangkut penyakit fisik, tetapi juga pergumulan emosional, spiritual, dan psikologis yang dialami banyak orang di sekitar kita.
Mungkin bagian yang paling mengesankan adalah kalimat penutup: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Prinsip memberi tanpa mengharapkan balasan ini merangkum hakikat sejati pelayanan. Talenta, sumber daya, dan waktu yang kita miliki telah dipercayakan kepada kita bukan untuk keuntungan diri sendiri, melainkan untuk mengangkat dan menguatkan mereka yang membutuhkan.
Ajaran ini menantang kecenderungan manusia yang sering mengukur segala sesuatu berdasarkan nilai dan imbalan, dan sebaliknya mengajak kita untuk memberi dengan tangan dan hati yang terbuka. Kita perlu menyadari bahwa melayani adalah sekaligus sebuah anugerah dan tanggung jawab. Setiap orang memiliki potensi, bahkan kewajiban, untuk mengambil bagian dalam tuaian ilahi ini. Baik melalui pelayanan langsung kepada mereka yang membutuhkan, kegiatan sukarela, maupun sekadar membagikan kebaikan dalam interaksi sehari-hari, kita dapat berkontribusi bagi kebaikan yang lebih besar.
Saat terlibat dalam komunitas, menjadi penting bagi kita untuk membangun lingkungan yang penuh empati dan saling pengertian. Kita harus berusaha semampu mungkin meruntuhkan tembok-tembok yang mengisolasi orang lain dan membuka ruang dialog yang dapat membawa penyembuhan. Dengan cara inilah kita mewujudkan kasih dan rahmat yang ditunjukkan Yesus sepanjang pelayanan-Nya.
Selain itu, ketika merenungkan warisan para rasul, kita perlu memahami bahwa misi mereka tidak berakhir dengan kehidupan mereka di dunia. Sebaliknya, misi itu terus berlanjut melalui diri kita. Setiap generasi menerima tugas untuk terus melayani dan mewartakan pesan harapan. Sebagaimana para murid berusaha membawa terang Kristus kepada komunitas mereka, demikian pula kita dipanggil untuk membawa terang itu ke tengah komunitas kita sendiri.
Tatapan penuh kasih Yesus kepada orang banyak yang lahir dari kedalaman hati-Nya yang berbelaskasihan menjadi panggilan menuju empati sekaligus undangan untuk bertindak. Tatapan itu mengajak kita bangkit sebagai pekerja-pekerja di ladang tuaian yang melimpah, melayani tanpa mengharapkan imbalan, dan membagikan sukacita iman kita dengan murah hati. Dunia kita, seperti kerumunan orang pada masa itu, membutuhkan para gembala—pribadi-pribadi yang membawa harapan, penyembuhan, dan kasih.
Marilah kita berusaha menjadi gembala-gembala tersebut, menghidupi ajaran Kristus, dan bekerja bersama membangun komunitas di mana setiap orang merasa dihargai dan didukung. Sungguh, tuaian itu sudah menanti; marilah kita menjawabnya dengan hati yang terbuka dan tangan yang siap melayani.
* Pastor Luke Gregory, OFM, Kustodi Tanah Suci