Refleksi Hari Minggu: "Jangan Mengutamakan Apa Pun Melebihi Kristus"
Oleh Romo Marion Nguyen, OSB*
Pasal kesepuluh Injil Matius merupakan amanat kerasulan Yesus yang agung ketika Ia mengutus kedua belas rasul ke tengah dunia yang sering kali akan menolak mereka. Yesus tidak memanggil para murid dengan janji-janji kenyamanan, keberhasilan, ataupun kemuliaan duniawi.
Sebaliknya, Yesus menunjukkan keterbukaan ilahi. Sejak awal Ia menyatakan dengan jujur harga yang harus dibayar untuk mengikuti-Nya. Ia tidak menghendaki seorang pun memeluk hidup sebagai murid dengan harapan-harapan yang keliru.
Namun, Injil hari ini tidak hanya menggambarkan harga kemuridan; Injil ini juga mengungkapkan tujuan terdalam dari kemuridan itu sendiri. Di jantung sabda Yesus terdapat satu pertanyaan yang mendasar: Siapakah yang paling engkau kasihi?
Kata-kata pembuka Yesus termasuk di antara sabda yang paling menuntut dalam seluruh Injil:
"Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anak laki-laki atau anak perempuannya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku" (Mat. 10:37).
Sekilas, perkataan itu terdengar keras. Namun, Yesus tidak memerintahkan kita untuk mengasihi keluarga kita lebih sedikit. Sebaliknya, Ia mengajak kita mengasihi setiap orang melalui Dia, bukan terpisah dari Dia. Setiap kasih manusia hanya menemukan keteraturannya yang benar apabila Kristus menjadi kasih terbesar dalam hidup kita.
Santo Benediktus mengungkapkan kebenaran yang sama pada bagian penutup Regulanya. Setelah menjelaskan kehidupan monastik dalam berbagai rincian praktis, ia menutupnya dengan puncak kehidupan Kristiani:
"Janganlah mereka mengutamakan apa pun melebihi Kristus; semoga Ia membawa kita semua bersama-sama menuju kehidupan kekal" (Regula Benediktus 72:11–12).
Ini bukan sekadar cita-cita hidup membiara, melainkan inti Injil hari ini. Setiap bentuk kasih yang lain akan dimurnikan, diteguhkan, dan ditempatkan pada urutannya yang benar apabila Yesus menempati tempat pertama.
Yesus segera menjelaskan apa arti menempatkan-Nya sebagai yang utama:
"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (Mat. 10:38).
Menariknya, Yesus berbicara tentang salib jauh sebelum peristiwa Kalvari terjadi.
Dengan demikian, Yesus memperlihatkan bahwa sengsara-Nya bukanlah sebuah kecelakaan tragis dalam sejarah, melainkan penggenapan yang dengan bebas Ia terima sebagai bagian dari rencana penyelamatan Bapa. Lebih dari itu, Ia mengajarkan bahwa kasih-Nya yang rela menyerahkan diri menjadi pola hidup setiap murid. Karena itu, salib bukan sekadar alat penderitaan, melainkan bentuk sejati dari kasih.
Mengasihi Yesus di atas segala sesuatu menuntut kita setiap hari menyerahkan kehendak pribadi, ambisi, kenyamanan, dan segala keinginan yang berpusat pada diri sendiri.
Santo Gregorius Agung mengingatkan bahwa Kristus mempersiapkan para murid-Nya sejak awal karena godaan terbesar bukanlah memulai dengan semangat, melainkan tetap setia ketika semangat mulai memudar.
Salib harian sering kali tidak sedramatis kemartiran. Salib itu hadir dalam penyangkalan terus-menerus terhadap kesombongan, kehendak sendiri, dan keinginan untuk memilih jalan kita sendiri daripada jalan Kristus.
Dari sini mengalirlah paradoks yang disampaikan Yesus:
"Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya" (Mat. 10:39).
Melalui sabda ini, Yesus membalikkan naluri manusia yang selalu ingin mempertahankan diri.
Semakin erat kita menggenggam kendali, pengakuan, atau rasa aman, semakin hidup itu terlepas dari tangan kita. Sebaliknya, orang yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada Yesus akan menemukan kebebasan dan sukacita yang hanya dapat diberikan oleh kasih yang rela berkorban.
Santo Bernardus dari Clairvaux mengingatkan bahwa kemuridan yang radikal ini umumnya tidak dijalani melalui tindakan-tindakan heroik yang luar biasa, melainkan melalui karya-karya kasih yang sederhana setiap hari.
Yesus membawa misteri agung salib ke dalam tindakan yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari:
"Barangsiapa memberi secangkir air dingin saja kepada salah seorang yang kecil ini karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya" (Mat. 10:42).
Secangkir air dingin menjadi ungkapan sederhana sehari-hari dari hati yang telah memilih Yesus di atas segala-galanya. Kebaikan yang tersembunyi, tutur kata yang penuh kesabaran, serta pengorbanan yang tidak dikenal orang lain menjadi bentuk nyata dari salib yang dipikul setiap hari.
Walaupun Injil hari ini dimulai dari ayat 37, sebelumnya Yesus telah menghabiskan bagian awal pasal itu untuk mempersiapkan kedua belas rasul menghadapi apa yang akan mereka alami.
Tuntutan yang kini Ia sampaikan bukanlah perintah-perintah yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sebuah janji besar: mereka tidak akan pernah menderita sendirian.
Yesus menjawab kegelisahan kita bukan melalui penjelasan yang abstrak, melainkan melalui kepastian bahwa Ia sendiri telah lebih dahulu menempuh seluruh jalan itu.
Apakah Anda difitnah atau dihina?
"Jika tuan rumah saja mereka sebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya" (Mat. 10:25).
Apakah keluarga sendiri menolak atau tidak memahami kesetiaan Anda kepada Kristus?
Yesus memahami sepenuhnya, sebab:
"Musuh seseorang ialah orang-orang seisi rumahnya" (Mat. 10:36; Mrk. 3:21).
Apakah Anda takut tidak memiliki kekuatan ketika cobaan datang?
Yesus memberikan janji:
"Bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu yang akan berkata-kata di dalam kamu" (Mat. 10:20).
Setiap pengorbanan demi Kristus menjadi tempat istimewa di mana seorang murid mengambil bagian dalam kehidupan Sang Guru sendiri. Di sanalah ia menemukan bahwa apa yang tampak sebagai kehilangan total di mata dunia justru menjadi awal kehidupan sejati di dalam Kristus.
Karena kodrat manusia kita telah terluka oleh dosa, kita sering kali akan tersandung dalam perjalanan ini. Kita akan menemukan berbagai keterikatan yang sebelumnya tidak kita sadari, dan kehendak kita sendiri akan terus melawan penyerahan diri kepada Allah.
Karena itulah Santo Benediktus mengajarkan kerendahan hati, ketaatan, stabilitas, dan conversatio morum sebagai sekolah kemuridan sehari-hari. Semua itu bukan beban yang dipaksakan kepada kita, melainkan sarana praktis agar Kristus sedikit demi sedikit menjadi pusat dari setiap pikiran, setiap kasih, setiap keputusan, dan setiap tindakan kita.
Yesus memulai semuanya dengan sebuah pertanyaan yang tersembunyi di balik sebuah perintah:
"Siapakah yang paling engkau kasihi?"
Setiap murid menjawab pertanyaan itu bukan hanya melalui kata-kata, melainkan melalui pilihan-pilihan setiap hari: melalui salib yang dipikul, keinginan yang diserahkan, orang asing yang disambut, bahkan melalui secangkir air dingin yang diberikan kepada sesama.
Ketika Kristus sungguh menjadi kasih terbesar dalam hidup kita, semua bentuk kasih yang lain akan menemukan tempatnya yang benar.
Pada saat itulah seruan terakhir Santo Benediktus tidak lagi hanya menjadi inti kehidupan monastik, melainkan panggilan bagi setiap orang Kristiani:
"Janganlah mereka mengutamakan apa pun melebihi Kristus; semoga Ia membawa kita semua bersama-sama menuju kehidupan kekal" (Regula Benediktus 72:11–12).
*Abbas Biara Santo Martin, Lacey, Washington.