Cari

Warga Palestina berjalan melewati puing-puing bangunan permukiman yang hancur akibat perang di kamp pengungsi Jabalia, Gaza. Warga Palestina berjalan melewati puing-puing bangunan permukiman yang hancur akibat perang di kamp pengungsi Jabalia, Gaza.  

Dari Makam Menuju Kebangkitan: Penyeberangan yang Terbelah di Antara Dua Pantai

Seorang umat Paroki Katolik Keluarga Kudus di Gaza, yang kini menjadi pengungsi di Yordania, merefleksikan dampak perang terhadap masyarakat Gaza serta bagaimana perjuangan untuk menemukan perdamaian dan pemulihan masih terus berlanjut.

Oleh Helda Joseph Ayyad

Pada fajar Minggu Agung, para malaikat tidak menggulingkan batu dari pintu makam semata-mata untuk mewartakan kehidupan, tetapi juga untuk mengumumkan berakhirnya Sabat Panjang Penderitaan.

Demikianlah yang saya rasakan ketika pertama kali melangkahkan kaki keluar dari perbatasan Gaza menuju Yordania. Langkah itu terasa seperti keluar dari kedalaman jurang maut, dari kegelapan makam yang selama berbulan-bulan menekan dada kami dengan begitu berat, menuju cahaya yang berkilau di ufuk sana.

Kristus telah bangkit dari antara orang mati, mengalahkan maut dengan kematian-Nya sendiri. Dan saya, bersama saudari saya, melangkah keluar dari lembah maut itu. Kami menyeret tubuh yang telah mengalami teror, memuntahkan dari dada kami debu ledakan yang nyaris mengukir nama kami pada batu nisan.

Tubuh yang Bangkit, Hati yang Masih Berada di Neraka

Namun, ya Tuhan, ini bukanlah kebangkitan yang utuh. Bagaimana mungkin ada kebangkitan jika sebagian dari tubuh masih menjadi tawanan makam?

Saya menyeberang bersama saudari saya. Kami melihat cahaya dan menghirup udara yang tidak tercemar oleh bau mesiu dan darah. Kami melihat jalan-jalan yang terang dan rumah-rumah yang masih berdiri tegak. Untuk sesaat, kami merasa seolah-olah dianugerahi kehidupan kedua yang tak pernah berani kami impikan.

Namun cahaya itu justru menyingkap luka-luka yang masih menganga dalam diri saya. Saya tidak utuh di sini.

"Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

Seruan yang bergema di Bukit Golgota itu kini bergaung di kedalaman jiwa saya. Jiwa saya terbelah oleh sebilah pisau yang tajam.

Separuh dari diri saya telah bangkit: di sini, di Yordania, berusaha mengumpulkan kembali kepingan-kepingan luka, mencoba percaya bahwa langit masih dapat menurunkan air, bukan api.

Namun separuh lainnya masih tersalib di sana: di lorong-lorong gelap Gaza, di bawah timbunan puing, bersama ibu dan ayah saya, serta saudara laki-laki saya—bagian dari hati saya dan penopang hidup saya—yang saya tinggalkan untuk menghadapi naga itu seorang diri.

Luka Jumat Agung di Tengah Cahaya

Bagaimana saya dapat bersukacita menyambut fajar Kebangkitan ketika saudara saya masih menjalani Jumat Agung dengan segala penderitaan, cambukan, dan siksanya?

Setiap suap roti yang saya makan di bawah langit Yordania terasa tersangkut di tenggorokan karena membayangkan saudara saya yang kelaparan. Setiap malam ketika saya mencoba tidur, mata saya seakan menangis darah saat mengingat saudara saya yang diselimuti ketakutan dan berbantal debu.

Saya seperti Maria Magdalena yang berdiri menangis di depan makam yang kosong—bukan karena Kristus telah bangkit, melainkan karena ia mengira tubuh Tuhannya telah diambil dan ia tidak tahu di mana Dia dibaringkan.

Dan saya, yang kini berdiri dalam cahaya ini, menangis karena tanah air saya telah direnggut dari saya, dan karena bagian terbesar dari jiwa saya tertinggal di balik pagar kematian.

Doa dari Malam Pengasingan

Ya Yesus, Engkau yang telah merasakan pahitnya perpisahan, penyaliban, dan kematian, pandanglah Gaza.

Pandanglah saudara laki-laki saya, yang di matanya saya tinggalkan tatapan perpisahan yang sanggup menghancurkan batu.

Jika keberangkatan saya ke Yordania adalah kebangkitan saya dari kematian, jadikanlah itu kebangkitan yang sempurna. Jangan biarkan keluarga saya tetap berada dalam kegelapan makam.

Saya berada di sini dengan tubuh yang selamat, tetapi hati saya tetap berada di sana. Hati itu bergetar setiap kali serangan udara terjadi, dan berdetak di dalam dada saudara saya.

Ya Tuhan, gulingkanlah batu dari Gaza, agar keluarga saya dapat keluar menuju cahaya; agar jiwa saya yang terbelah dapat dipulihkan kembali; dan agar kami dapat berseru bersama:

"Wahai maut, di manakah sengatmu? Wahai dunia orang mati, di manakah kemenanganmu?"

15 Jun 2026, 13:00