Migrasi dan Kepulauan Canary, dari Dermaga Rasa Malu ke Dermaga Penuh Harapan
Oleh Kielce Gussie – Las Palmas de Gran Canaria
“Anda membaca pikiran saya, bukan? Saya sedang berpikir untuk pergi ke Kepulauan Canary, karena di sana ada para migran yang tiba melalui laut.”
Dalam perjalanan pulang dari Perjalanan Apostolik terpanjangnya ke Asia dan Oseania pada September 2024, Paus Fransiskus mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Kepulauan Canary, karena perhatian terhadap para migran merupakan tema utama sepanjang masa kepausannya.
Keuskupan Canarias bahkan telah menerima sepucuk surat yang ditandatangani Paus Fransiskus yang menyatakan niatnya untuk berkunjung. Namun, Paus asal Argentina itu tidak pernah sempat mewujudkan perjalanan tersebut.
Pada 11 Juni—satu tahun delapan bulan setelah penerbangan itu—Paus Leo XIV akan mewujudkan keinginan pendahulunya dengan melakukan perjalanan ke kepulauan Spanyol yang terletak di lepas pantai Maroko tersebut.
Lawatan ini akan menjadi kunjungan pertama kalinya bagi seorang Paus di Kepulauan Canary dalam rangkaian Perjalanan Apostolik resmi.
Beberapa Paus sebelumnya sempat mendekati wilayah tersebut. Santo Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI mengunjungi Spanyol sebanyak delapan kali secara keseluruhan, sementara Santo Yohanes Paulus II dan Paus Fransiskus pernah mengunjungi negara tetangga, Maroko.
Dalam beberapa hari menjelang kunjungan kepausan itu, Enélida Hernández Monzón, Sekretaris Jenderal Pelayanan Pastoral sekaligus penyelenggara bagian kunjungan apostolik di Gran Canaria, menjelaskan suasana menjelang kunjungan bersejarah tersebut.
“Ada begitu banyak pekerjaan, koordinasi, dan kolaborasi,” ungkapnya kepada Vatican News. Namun, katanya, “ada juga rasa gugup” karena masih banyak detail yang harus diselesaikan. “Tetapi dengan sukacita, harapan, dan kerinduan untuk menyambut Bapa Suci di tengah kami, pekerjaan itu menjadi jauh lebih menyenangkan.”
Kejutan Ganda
Meskipun masyarakat Kepulauan Canary berharap suatu hari akan menerima kunjungan Paus, mereka tidak menyangka hal itu terjadi begitu cepat pada masa kepausan Leo XIV. Hernández mengungkapkan bahwa mereka terkejut dengan pengumuman tersebut meskipun Paus Fransiskus berulang kali menyatakan keinginannya untuk datang.
Menurutnya, keputusan Paus Leo mengunjungi kepulauan itu terjadi hanya setahun setelah awal masa kepausannya. Maka hal ini menjadi “kejutan sekaligus membawa sukacita ganda.”
Kehadiran Penerus Santo Petrus di Kepulauan Canary, katanya, memiliki arti yang “sangat besar” karena Paus “meneguhkan seluruh umat Kristiani dalam iman mereka.” Ia memberikan penguatan dalam perjalanan rohani mereka serta mendorong mereka untuk terus melaksanakan misi pewartaan Injil.
Hernández juga menekankan bahwa kunjungan ini “meneguhkan karya yang telah dilakukan selama berabad-abad di Keuskupan Kepulauan Canary.”
Sebuah Pertemuan Penuh Harapan
Meskipun Paus akan disibukkan dengan pertemuan bersama para imam, biarawan-biarawati, dan para pelayan pastoral di Katedral Santa Ana serta memimpin Misa di Stadion Gran Canaria, mungkin agenda yang paling dinantikan di Las Palmas de Gran Canaria adalah audiensi Paus dengan berbagai organisasi yang bekerja mendampingi para migran di Pelabuhan Arguineguín.
Di pelabuhan inilah, pada tahun 2020, lebih dari 2.600 migran—enam kali lipat melebihi kapasitas dermaga—ditampung dalam kamp terbuka. Mereka tidur di atas selimut dan harus menghadapi suhu yang sangat panas.
Lonjakan jumlah migran yang tiba di kepulauan tersebut tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadai. Karena itu, lokasi tersebut kemudian dikenal sebagai “dermaga rasa malu”.
Kini, kata Hernández, “pelabuhan yang sama akan menerima kehadiran Paus Leo, sebuah pelabuhan yang sama yang menyaksikan penderitaan dan kesakitan luar biasa saat menerima begitu banyak manusia dalam perahu-perahu yang tak terhitung jumlanya yang mendarat di pantai kala itu.”
Karena alasan itulah, pertemuan antara Paus dan para migran ini lebih dari sekadar kesempatan yang hanya terjadi sekali seumur hidup; ini adalah sebuah peluang. Ini menandai sebuah perubahan. Ada harapan bahwa pertemuan ini, “yang diselenggarakan tepat di dermaga yang menjadi gerbang menuju masa depan yang mereka harapkan, akan membuat orang-orang tersebut merasakan bahwa mereka didampingi oleh Bapa Suci,” ujar Hernández.
Para migran sendiri turut membantu mempersiapkan audiensi kepausan ini bersama organisasi-organisasi yang mendampingi mereka, yaitu Caritas Keuskupan dan Pelayanan Migrasi, serta berbagai lembaga yang mengabdikan diri untuk melayani komunitas migran.
Satu Komunitas Canary
Bagi sebagian migran yang tiba di Kepulauan Canary, iman memainkan peran penting dalam proses integrasi dan kehidupan baru mereka. Hernández menjelaskan bahwa sebagian dari mereka yang sebelumnya bukan Kristiani kini memeluk iman “dengan lebih mendalam. Mereka telah mengalami proses pertobatan.”
Bagi mereka dan sekitar 50.000 orang lainnya yang diperkirakan akan memenuhi Stadion Gran Canaria, mengikuti Misa bersama Paus Leo XIV pada malam 11 Juni akan menjadi pengalaman iman yang sangat istimewa.
Dalam konteks dunia saat ini, Hernández mengatakan bahwa pesan yang selalu ingin didengar umat Kristiani—dan yang menurutnya akan disinggung Paus—adalah “dorongan untuk terus maju dalam pertumbuhan rohani, terus memperkuat iman, harapan, dan kasih.”
Kita dipanggil untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan generasi mendatang—bagi keluarga, sahabat, serta mereka yang mungkin tidak pernah kita temui.
Misa kepausan akan menjadi pengingat akan panggilan universal tersebut: “untuk berbuat baik, melayani sesama, mendukung mereka yang rentan dan mereka yang membutuhkan.”
Namun acara ini bukan hanya untuk umat Kristiani. Stadion akan dipenuhi oleh umat non-Kristiani, Muslim, dan perwakilan dari berbagai agama serta tradisi keagamaan lainnya. Seperti yang ditegaskan Hernández, kunjungan Paus Leo adalah kunjungan yang mempersatukan, yang mengajak orang-orang berjalan bersama dalam iman dan harapan, apa pun agama mereka.
Para migran yang telah melakukan perjalanan dari tanah air mereka menuju Kepulauan Canary, katanya, “merupakan bagian dari komunitas Canary.”
Sebuah Teladan bagi Yang Lain
Menyoroti situasi migrasi di kepulauan tersebut secara keseluruhan, Hernández mengakui bahwa sumber daya masih terbatas dan kebijakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Namun, katanya, “kemajuan sedang terjadi dan orang-orang telah mendapatkan dukungan.”
Menurutnya, Kepulauan Canary dapat menjadi contoh—baik melalui lembaga pemerintahan maupun organisasi Gereja—tentang bagaimana mengintegrasikan para migran ke dalam komunitas lokal.
Anak-anak di bawah umur yang datang tanpa pendamping kini mengikuti kursus bahasa dan terlibat dalam berbagai program pengembangan. Sebagian lainnya bahkan telah diterima dalam keluarga-keluarga setempat.
Hernández memberikan contoh sebuah desa di pedalaman Pulau Las Palmas yang sebelumnya mengalami penurunan jumlah penduduk. Namun pada suatu saat, seluruh komunitas bersama otoritas setempat bersatu menerima anak-anak migran tanpa pendamping ini.
Anak-anak tersebut tidak hanya menghidupkan kembali wilayah itu dan berhasil berintegrasi ke dalam kehidupan desa, tetapi “yang terpenting, mereka menemukan keluarga-keluarga yang membantu mereka belajar untuk merasakan kembali kebahagiaan dan memberikan kasih sayang serta perhatian yang mungkin sudah lama tidak merasa rasakan.”
Banyak keluarga anak-anak tersebut, lanjut Hernández, “telah menderita sakit dan berkorban dalam pengharapan akan kehidupan yang lebih baik.” Dalam banyak kasus, anak-anak ini akhirnya menemukan kesempatan tersebut melalui keluarga-keluarga Canary yang mau menerima mereka.