Iryna Nazarenko (kedua dari kiri di barisan belakang) bersama para siswa “Vsesvit” Iryna Nazarenko (kedua dari kiri di barisan belakang) bersama para siswa “Vsesvit” 

Menjaga Harapan Anak-Anak Ukraina di Tengah Deru Perang

Dalam wawancara dengan Vatican News, Sekretaris Komisi Kepemudaan Keuskupan Kyiv-Zhytomyr di Ukraina mengisahkan berbagai upaya Gereja mendampingi generasi muda di tengah perang, mulai dari pembinaan iman dan pertemuan-pertemuan kaum muda tingkat keuskupan hingga pengiriman surat-surat penyemangat dari anak-anak kepada para prajurit di garis depan. Ia juga membagikan refleksi mengenai sumber kekuatan rohani yang menopangnya dalam menjalani pelayanan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Oleh Alina Anastasia Petrauskaite, SCM

Di tengah perang yang terus mengguncang Ukraina, sebuah pertanyaan mendasar terus mengemuka: bagaimana menjaga anak-anak tetap memiliki sukacita, harapan, dan masa depan ketika suara sirene dan ledakan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari?

Iryna Nazarenko, Sekretaris Komisi Pelayanan Kaum Muda Keuskupan Kyiv-Zhytomyr Gereja Katolik Roma di Ukraina, berbagi kisah tentang upaya Gereja mendampingi anak-anak dan remaja yang tumbuh dalam bayang-bayang perang. Selain bertugas dalam pelayanan pastoral kaum muda, ia juga mengajar di Lyceum Salesian "Vsesvit" di kota Zhytomyr.

Gereja Menjadi Ruang Aman dan Sumber Pengharapan

Beberapa saat sebelum invasi besar-besaran Rusia dimulai, Komisi Pelayanan Kaum Muda Keuskupan Kyiv-Zhytomyr dibentuk dalam format yang sekarang di bawah kepemimpinan Romo Michał Wocial, SDB. Tim ini terdiri dari para imam, biarawati, dan kaum muda dari berbagai paroki.

Menurut Iryna, keterlibatan kaum muda sangat penting karena mereka bukan hanya penerima pelayanan, tetapi juga pelayan bagi sesama anak dan remaja.

Melalui berbagai kegiatan, Gereja berusaha menghadirkan ruang yang aman bagi generasi muda untuk bermain, bertumbuh, dan mengalami kehadiran Kristus yang hidup. Salah satu kegiatan yang rutin diadakan adalah Hari Anak Keuskupan. Tahun ini, lebih dari 300 anak berkumpul untuk menikmati kebersamaan dan merasakan sejenak kehidupan yang bebas dari kecemasan akibat perang.

Perayaan Hari Anak Keuskupan 2026 yang diikuti ratusan anak dan kaum muda dari berbagai paroki di Keuskupan Kyiv-Zhytomyr, Ukraina.
Perayaan Hari Anak Keuskupan 2026 yang diikuti ratusan anak dan kaum muda dari berbagai paroki di Keuskupan Kyiv-Zhytomyr, Ukraina.

Pembinaan juga dilakukan melalui kegiatan olahraga dan evangelisasi. Turnamen sepak bola Piala Uskup menjadi sarana mempererat persaudaraan, sementara Olimpiade Kitab Suci dan Biblical Agape membantu anak-anak semakin dekat dengan Sabda Tuhan.

Program lain yang sangat diminati adalah Sekolah Animasi Salesian yang melatih para remaja dalam semangat kerelawanan, kerja sama tim, komunikasi, dan pelayanan kepada sesama.

Saat "Badai Remaja" Menjadi Pengalaman Rohani

Salah satu pengalaman paling berkesan tahun ini adalah perayaan Hari Remaja yang diikuti sekitar 400 peserta selama tiga hari dan berpuncak pada Hari Raya Pentakosta.

Awalnya, mengumpulkan ratusan remaja dalam satu tempat terasa seperti menghadapi sebuah badai besar. Namun energi yang meluap itu perlahan berubah menjadi ketenangan ketika mereka memasuki suasana doa.

Panitia menyediakan tenda-tenda khusus untuk bimbingan rohani dan Sakramen Rekonsiliasi. Banyak imam terharu melihat begitu banyak remaja yang datang untuk mengaku dosa atau mencari pendampingan spiritual. Mereka membawa kegelisahan, ketakutan, dan pertanyaan tentang hidup yang muncul akibat pengalaman perang.

Di sana mereka menemukan tempat untuk berbicara, didengarkan, dan dikuatkan.

Anak-Anak yang Bertumbuh di Tengah Kehilangan

Perang telah memaksa anak-anak Ukraina menghadapi kenyataan yang seharusnya tidak pernah dialami oleh seorang anak.

Banyak siswa dan alumni sekolah kehilangan anggota keluarga yang bertugas di garis depan. Luka semacam itu, kata Iryna, begitu dalam sehingga hanya dapat dijalani dengan pertolongan Tuhan.

"Anak-anak dan remaja berdoa dengan sungguh-sungguh bagi mereka yang sedang bertempur untuk melindungi mereka. Kami berdoa bersama setiap hari. Dan sungguh membahagiakan ketika seorang anak menerima kabar bahwa ayah, saudara, atau anggota keluarganya yang lama tak memberi kabar ternyata masih hidup," tuturnya.

Kegiatan belajar mengajar juga sering terhenti karena sirene serangan udara. Para guru dan murid harus berjam-jam berlindung di bunker atau tempat perlindungan bawah tanah. Situasi ini sangat melelahkan, namun anak-anak tetap datang ke sekolah dan bersyukur atas setiap hari baru yang diberikan Tuhan.

Surat-Surat Kecil dari Hati yang Besar

Dukungan kepada para prajurit telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sekolah dan paroki.

Anak-anak membuat kartu ucapan, menggambar, dan menulis surat-surat penuh rasa terima kasih yang kemudian dikirim ke garis depan melalui para relawan. Pesan-pesan sederhana itu sering kali menyentuh hati para penerimanya hingga meneteskan air mata.

Iryna mengenang sebuah pengalaman yang sangat mengharukan saat Natal. Ia bersama para murid mengunjungi rumah sakit militer untuk menyanyikan lagu-lagu Natal.

Para tentara yang terluka mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Di atas tempat tidur mereka tergantung puluhan gambar dan surat karya anak-anak.

Dengan suara bergetar, para prajurit mengatakan bahwa anak-anak itulah alasan mereka terus berjuang, bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi masa depan generasi muda Ukraina.

Misa Kudus dalam rangka Hari Anak Keuskupan 2026 yang dipimpin oleh Uskup Auksilier Kyiv-Zhytomyr, Mgr. Oleksandr Yazlovetsky.
Misa Kudus dalam rangka Hari Anak Keuskupan 2026 yang dipimpin oleh Uskup Auksilier Kyiv-Zhytomyr, Mgr. Oleksandr Yazlovetsky.

Hidup Hari Ini, Berserah untuk Hari Esok

Sejak perang berskala penuh dimulai, Iryna memilih tetap tinggal di Ukraina. Ia mengakui bahwa kini banyak warga hidup dengan kesadaran bahwa tidak seorang pun tahu apakah esok pagi mereka masih dapat membuka mata.

Serangan demi serangan terus menghancurkan kota-kota dan merenggut nyawa orang-orang tak bersalah.

Di tengah ketidakpastian itu, sumber kekuatan terbesar baginya adalah iman. Doa dan sakramen-sakramen Gereja menjadi tempat ia berpegang. Ia mengaku tidak dapat membayangkan bagaimana dirinya bisa melewati masa-masa sulit ini tanpa Tuhan dan tanpa Ekaristi.

Harapannya sepenuhnya bertumpu pada belas kasih dan perlindungan Allah.

"Setiap pagi saya bangun dan melihat bagaimana Tuhan memberi saya kekuatan untuk bekerja bersama anak-anak, mengajar mereka, berbicara dengan mereka, dan membawa terang bagi mereka. Karena itu saya terus melangkah," tutup Iryna Nazarenko.

Di tengah gelapnya perang, Gereja di Ukraina terus menyalakan lilin-lilin kecil harapan. Melalui doa, pendidikan, persaudaraan, dan pelayanan, anak-anak diajak untuk tetap percaya bahwa masa depan masih ada. Dan sering kali, justru dari hati anak-anak itulah orang dewasa belajar kembali arti keberanian, harapan, dan iman.

16 Jun 2026, 14:40