Ruang eksekusi di negara bagian Washington sebelum penutupannya pada tahun 2024. Ruang eksekusi di negara bagian Washington sebelum penutupannya pada tahun 2024. 

Kekerasan Melahirkan Kekerasan, Umat Katolik AS Serukan Penghapusan Hukuman Mati

Di tengah meningkatnya jumlah eksekusi hukuman mati di Amerika Serikat sepanjang 2025, jaringan advokasi Katolik anti-hukuman mati di Amerika Serikat (Catholic Mobilizing Network) mengajak umat Katolik untuk meneguhkan ajaran Gereja tentang martabat manusia, sejak pembuahan hingga kematian alami.

Oleh Devin Watkins

Sebanyak 47 narapidana dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi di berbagai negara bagian Amerika Serikat sepanjang tahun 2025. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat rata-rata eksekusi tahunan selama sepuluh tahun terakhir.

“Ini merupakan peningkatan yang mencolok dan tragis, terutama ketika masyarakat Amerika semakin menganggap hukuman mati tidak dapat diterima dan gerakan menuju penghapusannya terus berkembang,” kata Krisanne Vaillancourt Murphy.

Murphy adalah Direktur Eksekutif Catholic Mobilizing Network, sebuah organisasi advokasi yang berupaya menghapus hukuman mati di Amerika Serikat sekaligus mempromosikan keadilan restoratif.

Dalam wawancara dengan Vatican News saat berkunjung ke Roma, ia mengatakan bahwa hukuman mati sering kali digunakan sebagai sarana politik.

“Hukuman mati menjadi cara yang mudah untuk menunjukkan bahwa seseorang tegas terhadap kejahatan,” katanya. “Dalam beberapa kasus, hal itu juga dapat mendatangkan keuntungan politik di negara bagian tertentu.”

Bertentangan dengan Ajaran Gereja

Data menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok antarnegara bagian. Dari 50 negara bagian di Amerika Serikat, hanya 11 yang melaksanakan 47 eksekusi sepanjang 2025, sementara 39 negara bagian lainnya tidak melakukan satu pun eksekusi.

Saat ini, 23 negara bagian telah secara resmi menghapus hukuman mati. Di Florida saja, terdapat 19 eksekusi sepanjang tahun 2025, yang berarti negara bagian tersebut mengeksekusi seseorang hampir setiap dua minggu sekali.

Menurut Murphy, setiap pelaksanaan hukuman mati tidak hanya berdampak pada terpidana, tetapi juga menimbulkan luka baru bagi banyak keluarga.

“Bagi para korban, hukuman mati tidak memberikan rasa tuntas, tidak membawa kesembuhan, melainkan menghadirkan lebih banyak kekerasan dan penderitaan,” ujarnya.

“Hal itu hanya menciptakan lebih banyak luka, lebih banyak korban, dan memperpanjang sistem kekerasan di mana kekerasan melahirkan kekerasan.”

Murphy menegaskan bahwa hukuman mati bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik.

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 2267) ditegaskan bahwa “hukuman mati tidak dapat diterima karena merupakan serangan terhadap keluhuran dan martabat pribadi manusia.”

Dukungan Paus Leo XIV

Paus Leo XIV secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap penghapusan hukuman mati dalam sebuah pesan video pada 24 April 2026, bertepatan dengan peringatan 15 tahun penghapusannya di negara bagian Illinois.

“Saya memberikan dukungan kepada mereka yang memperjuangkan penghapusan hukuman mati di Amerika Serikat dan di seluruh dunia,” kata Paus.

“Saya berdoa agar upaya Anda mendorong pengakuan yang lebih besar terhadap martabat setiap pribadi manusia dan menginspirasi orang lain untuk memperjuangkan tujuan yang adil ini.”

Selain merendahkan martabat manusia, Murphy menilai hukuman mati juga tidak lagi diperlukan untuk menjaga akuntabilitas pelaku kejahatan atau mencegah mereka melakukan tindak pidana lebih lanjut.

Kesempatan untuk Belas Kasih

Saat ini terdapat 114 terpidana mati di negara bagian Ohio. Sebanyak 28 di antaranya telah menyelesaikan seluruh proses banding hukum yang tersedia.

Murphy menilai Gubernur Ohio Mike DeWine memiliki kesempatan yang unik untuk mengubah hukuman mati seluruh 114 narapidana tersebut sebelum masa jabatannya berakhir pada Januari 2027.

Dari jumlah tersebut, dua orang adalah perempuan.

Sebagai seorang Katolik yang taat, DeWine secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap hukuman mati dan memberlakukan moratorium eksekusi selama delapan tahun masa kepemimpinannya.

“Kehidupan manusia itu berharga,” kata Murphy.

“Bahkan ketika seseorang telah melakukan kejahatan, kita masih dapat menciptakan peluang untuk pertobatan dan pemulihan, sambil tetap menjaga keamanan masyarakat dan memastikan pelaku bertanggung jawab atas tindakannya. Ini adalah kesempatan yang sangat besar bagi Gubernur DeWine.”

Mengakhiri Lingkaran Kekerasan

Perubahan hukuman mati menjadi hukuman lain (commutation) berarti seorang terpidana dibebaskan dari ancaman eksekusi dan umumnya menjalani hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat, bukan dibebaskan begitu saja.

Dari perspektif Kristiani, langkah ini memberi kesempatan kepada pelaku untuk bertobat atas dosanya dan memutus rantai kekerasan, bukan melanjutkannya.

“Kita perlu memandang penderitaan para korban secara serius. Kita harus berusaha mengatasi luka dan kerugian yang mereka alami, membuka jalan menuju penyembuhan, dan bahkan mungkin menciptakan ruang bagi pengampunan,” kata Murphy.

Di tengah menurunnya dukungan publik terhadap hukuman mati, ia menilai umat Katolik dapat memberikan kesaksian moral yang kuat tentang penghormatan terhadap kehidupan manusia sejak pembuahan hingga kematian alami.

“Paus Leo telah menyatakannya dengan sangat jelas,” katanya.

“Beliau mendorong Gereja untuk terus maju dan menjadi tanda harapan yang menunjukkan kepada Amerika Serikat dan dunia bahwa kehidupan harus dihormati pada setiap tahapnya, dan bahwa hukuman mati bertentangan dengan iman kita.”

Dengarkan laporan kami (Bahasa Inggris)
17 Jun 2026, 10:32