Cari

Kardinal Anthony Poola Kardinal Anthony Poola  (Vatican Media)

Kardinal Poola Peringatkan Dampak AI terhadap Kaum Dalit, Sebut Ensiklik sebagai Pedoman Moral yang Jelas

Konferensi Waligereja Katolik India (CBCI) memuji ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica humanitas, karena menetapkan kerangka etis untuk menjawab tantangan-tantangan yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan (AI), yang telah meluas di seluruh masyarakat India. Presiden CBCI, Kardinal Anthony Poola, memuji dokumen kepausan tersebut sebagai “kompas moral yang jelas” dan memperingatkan tentang dampak AI yang berpotensi merugikan kaum Dalit.

Deborah Castellano Lubov

Konferensi Waligereja Katolik India (CBCI) menyambut positif ensiklik pertama Paus Leo XIV, Magnifica humanitas, yang dinilai memberikan landasan etis dalam menghadapi tantangan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin meluas di India.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis setelah publikasi dokumen tersebut, para uskup menyampaikan apresiasi kepada Paus Leo XIV karena telah menghadirkan apa yang mereka sebut sebagai “panduan etis” untuk menghadapi berbagai persoalan yang muncul akibat perkembangan AI.

CBCI menyoroti sejumlah tantangan yang kini dihadapi masyarakat India, seperti pengangguran, ketimpangan sosial, pengawasan digital, dan pemusatan kekuasaan. Menurut para uskup, persoalan-persoalan tersebut berpotensi semakin memburuk apabila teknologi AI berkembang tanpa arah dan pengawasan etis yang memadai.

Dalam ensiklik Magnifica humanitas, Paus Leo XIV menegaskan pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan teknologi. Dokumen tersebut menekankan bahwa setiap inovasi harus berlandaskan martabat manusia, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Paus juga mengingatkan bahwa manusia, sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar Allah, tidak boleh direduksi menjadi sekadar objek dalam sistem teknologi yang semakin kompleks.

Para uskup India menilai ensiklik ini sebagai kontribusi penting bagi Ajaran Sosial Gereja dan melihat kesinambungannya dengan ensiklik Rerum novarum yang diterbitkan oleh Paus Leo XIII pada akhir abad ke-19. Jika Rerum novarum menanggapi persoalan sosial yang muncul akibat revolusi industri, maka Magnifica humanitas dipandang sebagai respons Gereja terhadap tantangan revolusi digital dan kecerdasan buatan.

Menurut kantor berita Fides, Gereja Katolik di India yang memiliki sekitar 20 juta umat berencana memanfaatkan ensiklik tersebut sebagai bahan pendidikan dan pembinaan di paroki-paroki serta lembaga pendidikan Katolik. Dokumen itu juga direkomendasikan sebagai referensi bagi para pastor, pendidik, pembuat kebijakan, dan umat beriman dalam memahami dampak sosial AI.

Presiden CBCI, Kardinal Anthony Poola, menyebut Magnifica humanitas sebagai “kompas moral yang jelas” di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Ia menegaskan pentingnya melindungi kelompok-kelompok rentan dari dampak negatif kecerdasan buatan yang berkembang tanpa kendali.

“Kami mendorong seluruh umat Katolik dan semua orang yang berkehendak baik untuk membaca ensiklik ini dalam semangat doa serta membangun budaya di mana teknologi melayani perkembangan manusia secara utuh,” ujar Kardinal Poola.

Perhatian khusus juga diberikan pada dampak AI terhadap kaum Dalit, kelompok yang selama ini mengalami diskriminasi sosial di India. Para uskup mengingatkan bahwa penggunaan AI yang tidak etis dapat memperkuat ketidakadilan yang telah ada. Namun, mereka juga meyakini bahwa teknologi tersebut dapat menjadi sarana untuk memperluas inklusi sosial apabila dikembangkan dan diterapkan berdasarkan prinsip-prinsip etis.

Ensiklik Magnifica humanitas terbit di tengah perdebatan global mengenai etika dan dampak sosial kecerdasan buatan, terutama dalam bidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan perlindungan kelompok rentan.

Dokumen tersebut juga mendapat perhatian luas dari media India. Harian The Hindu, misalnya, menyoroti seruan Paus untuk “melucuti AI” dan menggambarkan ensiklik itu sebagai sebuah “manifesto etis global” yang mendesak pemerintah India untuk menerapkan regulasi yang tepat terhadap teknologi kecerdasan buatan.

Media India secara umum menyambut baik ajakan Paus Leo XIV untuk mengatur perkembangan AI secara bijaksana, sekaligus memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap mengutamakan manusia dan kesejahteraan bersama.

03 Jun 2026, 23:21