Kardinal Cobo: "Madrid menunjukkan bahwa Paus adalah otoritas moral bagi semua orang"
Oleh Salvatore Cernuzio & Patricia Ynestroza – Madrid
Ketika Paus Leo XIV meninggalkan Madrid menuju Barcelona, Uskup Agung Madrid mengatakan bahwa Paus telah memberikan arah yang sangat jelas bagi Gereja dan masyarakat Spanyol untuk masa depan setelah beberapa hari pertama yang begitu intens.
Kardinal José Cobo Cano mendampingi Paus selama berada di Madrid dan akan terus menyertainya di Barcelona serta Kepulauan Canary.
Berbicara kepada Vatican News pada akhir kunjungan di Madrid, Kardinal mengatakan bahwa tahap pertama Perjalanan Apostolik ke Spanyol itu melampaui semua harapan, sebagaimana tampak dari antusiasme masyarakat kota tersebut.
Ia mengingat kembali pesan Paus Leo kepada para politisi dan pertemuannya dengan para korban pelecehan seksual oleh klerus. Kardinal menjelaskan bahwa Gereja terus berupaya menghadapi persoalan ini agar "tidak ada satu pun korban yang merasa tersisihkan."
Tanya:
Yang Mulia, dapatkah Anda memberikan penilaian mengenai hari-hari yang dialami Madrid selama kunjungan Paus Leo XIV ini?
Jawab:
Hari-hari itu merupakan masa persiapan yang sangat intens. Persiapan yang teliti, karena kami tidak ingin kunjungan ini hanya menjadi sebuah peristiwa, melainkan sebuah perjalanan. Dan memang demikian adanya. Hari-hari itu sangat padat, dan kami terkejut dengan sambutan yang kami terima serta yang diterima oleh Bapa Suci, bukan hanya dari segi jumlah orang yang hadir, tetapi juga karena kehangatan Gereja Madrid. Kami juga terkejut dengan sambutan hangat yang diberikan di Parlemen.
Tanya:
Hal itu mengejutkan banyak orang. Secara khusus, tepuk tangan bulat dari seluruh politisi yang berlangsung hampir sepuluh menit, serta seruan berdiri "Hidup Paus!" Apakah ini menjadi tanda bahwa dunia politik dan masyarakat sedang merindukan pidato-pidato seperti itu? Apa pendapat Anda?
Jawab:
Itu adalah wacana di mana Gereja ikut ambil bagian, sebuah wacana yang selalu mengajak kita mengangkat pandangan, yakni melampaui perbedaan-perbedaan kita.
Saya percaya Paus telah berkembang menjadi otoritas moral dan teladan etis melalui berbagai usulan yang ia sampaikan, juga melalui usulan-usulan Gereja dalam kancah politik Eropa.
Paus mengajak kita untuk tidak terpaku pada masa lalu, tidak hanya mengandalkan warisan budaya Katolik Spanyol, tetapi memandang ke masa depan.
Tanya:
Bagaimana Anda menafsirkan seruan Paus tersebut?
Jawab:
Saya percaya bahwa sebagaimana yang beliau katakan, Gereja menghadapi tantangan untuk terus bertumbuh, dan hal ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah disampaikan Paus Fransiskus.
Di tengah masa perubahan dan dalam situasi yang sangat khas ini, Gereja memiliki tradisi yang sangat jelas dan pengalaman yang sangat kaya, tetapi Gereja tidak diwajibkan untuk sekadar mengulanginya.
Artinya, kita belajar dari sejarah, tetapi juga mengubah bahasa, struktur, dan terus menjawab tantangan-tantangan baru yang muncul.
Ensiklik Paus, dalam konteks ini, menjadi terang dan pedoman untuk memahami pernyataan tersebut, khususnya dalam bidang panggilan kaum awam dan integrasi mereka dalam perjalanan Gereja.
Tanya:
Kesulitan apa yang mungkin muncul dalam bidang ini, dan bagaimana seharusnya hal itu diatasi?
Jawab:
Pertama-tama, kita harus menerima tantangan tersebut, yaitu menyadari bahwa kita sedang mengalami masa pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang harus dibentuk melalui partisipasi kaum awam, pembinaan atas diri mereka, dan kepercayaan kepada mereka.
Ini adalah proses bertahap atas pengambilan tanggung jawab yang harus kita jalankan.
Saya percaya seluruh perjalanan sinodal memberikan terang untuk hal ini, dan inilah jalan yang telah kami mulai: setiap orang, sesuai panggilannya, mengambil tempatnya dalam Gereja dan memikul tanggung jawabnya. Ini merupakan tema yang terus berulang dalam semua pidato Paus selama hari-hari ini di Madrid.
Tanya:
Menarik melihat generasi baru, yang disebut Generasi Z, yang secara bebas memilih untuk menapaki jalan menuju Gereja yang diperbarui.
Jawab:
Ya, jelas saya sedang melihat terjadinya kebangkitan. Namun kita harus berhati-hati, karena kebangkitan ini perlu dibimbing.
Beberapa laporan menunjukkan bahwa orang-orang memiliki kerinduan akan hal-hal transenden. Namun kita juga harus menuntun mereka kepada inti Yesus Kristus, Injil, dan tradisi Gereja, membantu mereka agar tidak menjauh dari semuanya itu.
Saya percaya bahwa saat ini kita sedang menghadapi tantangan besar atas apa yang Tuhan tempatkan di depan pintu Gereja: menuntun orang kepada pengalaman iman akan Yesus Kristus dan pengalaman iman dalam Gereja.
Kita tidak boleh hanya terpaku pada angka atau antusiasme seperti, "Berapa banyak orang yang hadir?" atau "Berapa banyak yang akan datang?" Semua itu baik, tetapi hanyalah permulaan.
Ini adalah panggilan tanggung jawab bagi seluruh Gereja pada saat ini, dan secara khusus bagi Gereja di Spanyol.
Tanya:
Kita melihat hampir satu setengah juta orang menghadiri Misa Paus di Cibeles dan prosesi Corpus Christi. Malam sebelumnya, sekitar 600.000 kaum muda hadir dalam doa vigili di Plaza de Lima, berlutut, berdoa, dan hening di hadapan Sakramen Mahakudus. Apakah Spanyol benar-benar sudah begitu sekuler seperti yang sering dikatakan orang?
Jawab:
Tidak, tidak. Spanyol adalah negara yang sedang mengalami kebangkitan. Ada pencarian yang besar akan Allah.
Banyak orang—dan kami juga melihatnya dalam vigili tersebut—adalah kaum muda yang sedang mencari Allah. Saya percaya bahwa saat ini hal itu menjadi tanggung jawab Gereja, Gereja di Spanyol, dan khususnya Gereja Madrid.
Bagaimana kita dapat mendampingi kesadaran yang sedang tumbuh ini?
Kita harus mendampingi secara pribadi luka-luka dan pencarian setiap orang yang datang kepada kita. Kunjungan ini sungguh menjadi pengalaman yang sangat mendalam, bukan hanya karena melihat orang-orang menangis setelah Misa, tetapi juga karena merasakan kuatnya rasa memiliki sebagai umat Allah.
Ini adalah momen ketika kami bersama Paus memberi kesempatan kepada banyak orang untuk merasakan bahwa mereka adalah bagian dari satu umat. Kini kami juga harus terus mendampingi mereka di masa mendatang.
Tanya:
Lalu ada persoalan pelecehan. Kemarin Paus bertemu dengan beberapa korban di Nunsiatura Apostolik. Sampai sejauh mana Gereja di Spanyol berada dalam perjuangan melawan persoalan ini?
Jawab:
Ini adalah luka dari masa lalu, tetapi juga luka yang sedang kami upayakan agar tidak terulang di masa depan.
Ini adalah ujian yang sedang dihadapi Gereja. Saya percaya bahwa setidaknya di Keuskupan Agung Madrid, selama sepuluh tahun terakhir telah bekerja mendampingi para korban.
Kami juga memiliki momen-momen untuk memohon pengampunan, karena kami sedang membangun budaya yang berbeda dari budaya yang kami warisi.
Gereja di Spanyol, meskipun beragam, sungguh berusaha melangkah maju membangun budaya baru tersebut, menciptakan dukungan, dan memastikan bahwa tidak ada korban yang merasa tersisihkan.
Faktanya, situasinya sangat beragam. Tidak hanya ada "korban" sebagai kategori umum; setiap korban adalah pribadi yang unik dan membutuhkan perhatian khusus. Karena itu, kita tidak bisa berbicara tentang para korban secara umum.
Saya percaya kita sedang membuat kemajuan, dan saat ini pemerintah juga terlibat. Kesepakatan antara Pemerintah, Konferensi Waligereja, dan keuskupan-keuskupan merupakan langkah yang cukup positif.
Tanya:
Paus Leo juga berbicara kepada para uskup mengenai situasi para korban pelecehan dan mendorong Anda semua untuk semakin membuka diri menyambut mereka.
Jawab:
Saya percaya Paus memahami peran Gereja sebagai Gereja Samaria, yang merupakan panggilan dan perutusan yang selalu dimiliki Gereja. Gereja lahir di kaki salib, di kaki seorang korban, dan saya percaya Gereja harus selalu dikenali sebagai pihak yang berdiri di samping mereka yang rentan, di samping mereka yang tersalib.
Paus menerapkan konsep ini dalam setiap realitas kehidupan, berbicara tentang kaum rentan, berbicara tentang para korban dari berbagai persoalan. Karena itu, beliau mengingatkan kita bahwa inilah posisi Gereja: mendampingi, menopang, dan tidak pernah melupakan.
Tanya:
Yang Mulia, apa yang Anda harapkan akan terjadi setelah kunjungan Paus Leo XIV ini? Dapatkah kita mengatakan bahwa Perjalanan Apostolik ini telah menghidupkan kembali Gereja di Spanyol, ataukah hanya memberikan dorongan bagi Gereja yang memang sudah hidup?
Jawab:
Tidak, kunjungan ini sungguh menghidupkan kembali Gereja. Bapa Suci telah meninggalkan banyak tugas bagi masa depan, tetapi beliau juga menunjukkan jalan yang harus ditempuh.
Saya percaya bahwa dalam setiap bidang—budaya, politik, ekonomi, dan kehidupan Gereja, sebagaimana juga beliau sampaikan kepada komunitas keuskupan Madrid—Paus telah meninggalkan garis-garis kerja yang jelas, posisi-posisi konkret, dan titik-titik perjumpaan. Untuk semua itu, kami sungguh bersyukur.