Kami Adalah Imigran yang Melayani Para Imigran
Oleh Romo Paul Samasumo - Barcelona
Karena tidak ada gereja di Barcelona yang dapat menandingi kemegahan arsitektur Basilika Sagrada Família karya Antoni Gaudí, masyarakat setempat menjuluki Paroki Santo Agustínus sebagai “Katedral Kaum Miskin”. Namun, julukan ini memiliki makna yang lebih dalam. Terletak di Plaça de Sant Agustí, gereja abad ke-18 ini telah lama menjadi tempat perlindungan bagi warga kelas pekerja di distrik Raval, Barcelona.
Warisan tersebut masih berlanjut hingga kini, tetapi kali ini dengan melayani kebutuhan para imigran dari Asia, Amerika Latin, dan sebagian dari Afrika Utara.
Komunitas Agustinian di Catalonia
Romo Dennis Pineda adalah Pimpinan Komunitas Agustinian di Catalonia sekaligus pastor kepala Paroki Sant Roc di Badalona. Ia memimpin komunitas Agustinian (OSA) yang beranggotakan empat orang dan berbasis di Sant Agustí (Santo Agustinus), kawasan Raval, Barcelona, tempat mereka menyambut Paus Leo XIV pekan ini. Paus datang ke sana untuk bertemu dengan lembaga-lembaga sosial keuskupan dan berbagai organisasi kesejahteraan sosial lainnya.
Sehari sebelum kunjungan Paus, Romo Dennis mengatakan kepada Vatican News bahwa menyambut seorang Agustinian lainnya atas nama Paus Leo merupakan “sumber sukacita yang luar biasa”. Ia menyebut dirinya dan rekan-rekannya sebagai para imigran yang melayani imigran lain dan melayani mereka yang membutuhkan.
Paroki multikultural
“Ini adalah gereja dan komunitas yang sangat khas, sebuah paroki yang sungguh multikultural di Barcelona,” jelas Romo Dennis. “Kami memiliki umat dari berbagai negara dan kebangsaan. Kami menyediakan ruang bagi mereka untuk merayakan iman Katolik dan menjadi satu dalam iman. ‘Menjadi satu’, juga merupakan identitas kami sebagai Agustinian,” kata Romo Dennis.
Ia menambahkan, “Di bawah Gereja Sant Agustí ini, kami melayani dua komunitas paroki: komunitas Filipina dan jemaat yang lebih luas dari berbagai latar belakang. Kami melayani komunitas Amerika Latin seperti warga Bolivia, Peru, Paraguay, dan lainnya.”
Budaya dan devosi
Romo Dennis memahami bahwa ketika orang-orang dari berbagai bangsa datang ke paroki tersebut, mereka sering merindukan tanah air mereka. “Ketika mereka datang ke sini, kami menyambut keberagaman itu. Kami memahami bahwa mereka merindukan devosi tertentu, santo-santa tertentu, atau perayaan Maria yang biasa mereka rayakan di kampung halaman. Sebulan sekali, kami menyediakan ruang bagi mereka untuk merayakannya, di mana mereka dapat membawa patung santo pelindung favorit mereka, menyanyikan lagu-lagu rohani yang biasa dinyanyikan, memainkan musik, berdoa, dan merayakan iman dengan cara yang khas budaya mereka,” jelasnya.
“Masalahnya, meskipun kami adalah imam yang melayani di sini, kami tahu bahwa kami sendiri adalah imigran,” tegas Dennis. “Kami memahami apa artinya rindu kampung halaman. Itulah yang Anda temukan di Sant Agustí ini.”
Romo Dennis juga menyoroti dapur umum di belakang Gereja Sant Agustí yang dikelola oleh para Suster Misionaris Cinta Kasih Bunda Teresa dari Kolkata. Dapur tersebut terkadang melayani hingga 400 orang setiap hari, dan para imam Agustinian menjadi relawan kapan pun mereka dapat membantu.
Harapan yang diilhami oleh Paus Leo
Ketika ditanya mengenai harapannya bagi komunitas Sant Agustí setelah kunjungan Paus Leo, Romo Dennis menjawab, “Dalam perjalanan-perjalanan apostoliknya, Paus selalu menunjukkan bahwa ia peduli kepada para imigran dan mereka yang terpinggirkan. Ia menekankan bahwa mereka adalah saudara-saudari kita yang membutuhkan. Kita mungkin berasal dari Gereja, kebangsaan, dan latar belakang yang berbeda, tetapi pada akhirnya kemanusiaan itu satu. Saya berharap kunjungan ke Barcelona ini mengingatkan kita bahwa apa pun yang kita lakukan sebagai Gereja, kita tidak boleh pernah melupakan bahwa kemanusiaan itu satu.”