Cari

Kardinal Matteo Zuppi, Presiden Konferensi Waligereja Italia (CEI), dan Presiden Republik Italia Sergio Mattarella. Kardinal Matteo Zuppi, Presiden Konferensi Waligereja Italia (CEI), dan Presiden Republik Italia Sergio Mattarella. 

Hari Republik, Zuppi: sebuah ikatan antargenerasi untuk menjaga demokrasi

Pesan Presiden CEI kepada Presiden Italia Sergio Mattarella dalam rangka 80 tahun Republik menegaskan bahwa “Konstitusi telah mempersatukan negeri ini. Namun kita kini dihadapkan pada tantangan serius seperti kemiskinan, rendahnya angka kelahiran, dan kecenderungan masyarakat yang semakin individualistis. Komunitas-komunitas gerejawi menolak perang sebagai cara menyelesaikan konflik, dan dengan berlandaskan ajaran Paus, mereka menilai bahwa mendidik untuk perdamaian serta membangun kembali komun

Cecilia Seppia – Kota Vatikan

Sementara Italia bersiap menggelar parade militer tradisional pada 2 Juni, serta mewarnai langit dengan hijau, putih, dan merah melalui aksi akrobatik udara Frecce Tricolori, Presiden Konferensi Waligereja Italia mengirimkan sebuah surat yang penuh makna kepada Kepala Negara Sergio Mattarella. Dalam surat itu ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam, kehangatan, serta tanggung jawab bersama atas hari bersejarah ini, yang ia sebut “tidak boleh berhenti sebagai sekadar kenangan: ia harus menjadi janji. Tidak cukup hanya merayakan apa yang telah kita terima; kita perlu menghidupkannya kembali, menjaganya, dan merawatnya agar tetap hidup, dengan semangat yang sama yang membuka masa depan.”

Akar sejarah demokrasi

Dalam pandangan yang diarahkan ke masa depan, Kardinal Matteo Maria Zuppi menelusuri akar historis demokrasi Italia: “Republik lahir dari penderitaan, dari perebutan kembali kebebasan, dan dari penolakan terhadap segala bentuk fasisme, dengan harapan yang lebih kuat daripada ketakutan. Ia lahir dari keinginan untuk tidak lagi saling berhadapan sebagai musuh, melainkan sebagai warga yang bersatu.”

Perjalanan panjang itu ditempuh oleh perempuan dan laki-laki yang setelah perang memilih untuk memulai kembali, membangun ketika semuanya tampak hancur, hingga berpuncak pada lahirnya Konstitusi. Zuppi secara khusus mengutip Pasal 54 Konstitusi, yang menegaskan kewajiban setia kepada Republik serta keharusan bagi mereka yang menjalankan fungsi publik untuk melaksanakannya “dengan disiplin dan kehormatan” demi kebaikan bersama.

Relasi Negara dan Gereja

Bagian penting dari pesan tersebut juga menyinggung hubungan antara Gereja dan Negara Italia, yang diatur dalam Concordato. Presiden CEI menegaskan kembali komitmen Gereja untuk terus bekerja sama dalam penghormatan penuh terhadap kebebasan beragama dan nilai-nilai demokrasi. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Mattarella atas pengakuannya, dalam Pekan Sosial ke-50 umat Katolik di Trieste, terhadap kontribusi historis dan sosial komunitas Katolik bagi kohesi nasional.

Luka-luka masa kini

Namun di balik ungkapan syukur itu, surat tersebut juga memuat keprihatinan yang tajam atas berbagai luka yang masih membekas di Italia hari ini. “Gereja-gereja di Italia,” demikian ia menulis, “memandang peringatan ini dengan rasa syukur atas perjalanan yang telah ditempuh, namun juga dengan keprihatinan atas luka-luka yang masih ada: meningkatnya kemiskinan, rendahnya angka kelahiran, menurunnya kepercayaan, ketimpangan sosial, kekerasan verbal, sikap apatis, dan kecenderungan untuk menutup diri dalam nasib yang individualistis.”

Komunitas-komunitas gerejawi, lanjutnya, menolak perang sebagai jalan penyelesaian konflik. Dengan berlandaskan ajaran Paus Leo, mereka menegaskan kembali urgensi tugas untuk mendidik perdamaian, menjaga demokrasi, dan membangun komunitas—sebagai penangkal utama terhadap segala bentuk individualisme.

Menjaga dan memperbarui

Komitmen Gereja untuk melawan kecenderungan disintegrasi sosial ditegaskan dengan kalimat yang tegas: “Kami mengenang mereka yang telah berkontribusi membangun kehidupan bersama, dan menegaskan kembali komitmen kami untuk memajukan kebaikan bersama dan solidaritas, melawan rasa apatis dan ketidakpuasan yang berbahaya, serta mendukung ajaran sosial Gereja yang akar-akarnya selaras dengan semangat konstitusi.”

Di akhir pesannya, ia berharap agar perayaan 2 Juni, yang dirayakan dari utara hingga selatan Italia, dapat kembali mengingatkan semua pihak untuk menjaga dan memperbarui perjanjian kebersamaan, “agar kepada generasi mendatang dapat diwariskan sebuah Republik yang lebih adil, lebih bersatu, dan lebih bersaudara, selalu dalam perspektif Eropa.”

01 Jun 2026, 15:01