Cari

Cáritas Keuskupan Canaria memberikan bantuan kepada ribuan imigran yang tiba di Kepulauan Canaria setiap tahun Cáritas Keuskupan Canaria memberikan bantuan kepada ribuan imigran yang tiba di Kepulauan Canaria setiap tahun  (© Cáritas Diocesana de Canarias)

Caritas Kepulauan Canaria, Gereja Hadir di Mana Negara Tidak Hadir

Paus Leo XIV dijadwalkan tiba di Kepulauan Canaria—tempat pendaratan ribuan imigran yang datang melalui salah satu jalur migrasi paling mematikan di dunia. Caritas setempat bekerja bersama para relawan agar bisa “berada di sisi mereka yang paling rentan” dan membantu menawarkan kehidupan baru bagi mereka yang berhasil mencapai daratan.

Oleh Kielce Gussie

Paus Leo akan tiba di Kepulauan Canaria pada 11 Juni. Setelah sebelumnya mengunjungi Madrid dan Barcelona, ia akan menghabiskan satu hari di Las Palmas de Gran Canaria dan satu hari lagi di Tenerife.

Tahap terakhir dari Perjalanan Apostoliknya selama enam hari ke Semenanjung Iberia akan berfokus pada migrasi—sebuah isu penting bagi wilayah tersebut karena sekitar 24 persen penduduk Las Palmas adalah orang-orang imigran.

Selama setahun terakhir, Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat penurunan besar jumlah kedatangan imigran selama tiga bulan pertama tahun 2026 dibandingkan tahun 2025. Penurunan ini terjadi atas sejumlah perjanjian yang ditandatangani antara Spanyol dan negara-negara Afrika Barat dalam beberapa tahun terakhir demi membatasi jumlah imigran yang mencapai Kepulauan Canaria. Hal ini kemudian menggeser pola migrasi, sehingga banyak imigran kini mendarat di Kepulauan Balearic dan enklave Ceuta.

Namun, hal itu tidak mengurangi dukungan dan pendampingan bagi para imigran yang telah menempuh perjalanan berbahaya menuju kepulauan tersebut.

Di sinilah Caritas hadir.

Saat mempresentasikan Laporan Institusional 2025, Cáritas Diocesana de Canarias (Caritas Keuskupan Kepulauan Canaria) menekankan urgensi untuk memperbaiki situasi di kepulauan tersebut karena statistik nasional—seperti Produk Domestik Bruto (PDB), tingkat inflasi, angka ketenagakerjaan, dan tingkat pendapatan—tidak menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Sebaliknya, mereka memperingatkan bahwa kelompok paling rentan “terpinggirkan dari sistem yang tidak memberikan respons” kepada mereka.

Sebagaimana ditegaskan Sekretaris Jenderal Caritas Keuskupan Canaria, Caya Suárez Ortega, dalam sebuah konferensi di Roma pada 20 Mei, “Gereja hadir dimana negara tidak hadir.”

Sekretaris Jenderal Cáritas Diocesana de Canarias, Caya Suárez Ortega
Sekretaris Jenderal Cáritas Diocesana de Canarias, Caya Suárez Ortega   (© Cáritas Diocesana de Canarias)

Kesulitan mencari dukungan

Dalam wawancara dengan Vatican News, Caya Suarez menjelaskan bahwa tugas Caritas adalah “berada di sisi mereka yang paling rentan”. Misi mereka adalah memberi dukungan bagi para imigran yang mendapati diri mereka berada di negara, bahasa, dan komunitas yang baru di Kepulauan Canaria.

Sebagian besar berasal dari Amerika Latin dan Afrika, Suárez menyoroti bahwa 25,5 persen penduduk Las Palmas mengalami “eksklusi sosial dan kemiskinan”, yang “berdampak pada populasi imigran”. Setibanya di Kepulauan Canaria, ribuan orang tidak memiliki tempat tinggal maupun izin kerja. Padahal ini merupakan dua hal penting agar mereka bisa memulai kehidupan baru.

Caritas membantu para imigran menemukan tempat tinggal atau memperoleh izin kerja
Caritas membantu para imigran menemukan tempat tinggal atau memperoleh izin kerja   (© Cáritas Diocesana de Canarias)

Dalam laporan tahun 2025, Suárez menjelaskan adanya praktik-praktik ‘perumahan eksploitatif’ yang makin dianggap normal, sehingga menyebabkan eksklusi tempat tinggal bagi banyak keluarga imigran.

Di Caritas, para imigran mendapatkan pendampingan hukum, sosial, serta pendidikan agar mereka mampu berintegrasi bersama masyarakat setempat dan memperbaiki kondisi hidup. “Kami memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, tetapi juga biaya sewa tempat tinggal, sehingga mereka tidak menjadi tunawisma,” jelas Suárez.

Bagi banyak kaum muda yang tiba tanpa jaringan pendukung, mereka dapat berakhir hidup di jalanan. Untuk mencegah hal itu, Caritas mendampingi mereka melalui proyek Hospitality Corridors, yang menawarkan kepada mereka “kesempatan untuk hidup”.

Lebih dari 22.000 orang menerima bantuan dari Caritas Keuskupan Canaria sepanjang tahun 2025. Sekitar 56 persen di antaranya adalah imigran dan separuh dari mereka berada dalam status administratif yang tidak teratur. Tahun lalu, organisasi tersebut membantu 2 persen lebih banyak orang dibandingkan tahun sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam laporan.

Salah satu jalur migrasi paling mematikan

Seruan untuk menjaga martabat manusia dan membantu kelompok yang paling membutuhkan tidak berhenti pada kunjungan Paus Leo. Namun, kunjungan paus pertama ke Spanyol dalam 15 tahun terakhir ini menjadi pengingat kuat akan tanggung jawab bersama untuk merawat para imigran.

Suárez menekankan bahwa baik Paus Leo maupun Paus Fransiskus telah menarik perhatian dunia pada tempat-tempat seperti Kepulauan Canaria.

“Kepulauan Canaria umumnya luput dari perhatian karena merupakan pulau-pulau kecil yang sangat terpisah dari Eropa,” katanya, sehingga realitas yang sangat berbeda di sana “seringkali tidak terlihat”. Namun, pesan-pesan para paus tentang migrasi dan penghormatan terhadap kehidupan setiap orang mendorong dunia untuk mengarahkan pandangannya kepada mereka yang mencari kehidupan yang lebih baik.

Caritas mendampingi kaum muda yang membutuhkan melalui proyek Hospitality Corridors
Caritas mendampingi kaum muda yang membutuhkan melalui proyek Hospitality Corridors   (© Cáritas Diocesana de Canarias)

“Baik Paus Fransiskus maupun Paus Leo XIV telah membuat kita melihat realitas konkret ini,” tegas Suárez, yang menurutnya penting “karena jalur trans-Atlantik merupakan salah satu yang paling mematikan di dunia”.

Perjalanan menuju Kepulauan Canaria berjarak lebih dari 1.600 kilometer dari pantai Afrika. Para imigran menghabiskan waktu berhari-hari di laut yang ganas untuk mencapai kepulauan tersebut. Banyak di antaranya, menurut Suarez, meninggal sebelum mencapai pantai.

Bagi imigran dan bersama imigran

Kunjungan Paus Leo akan menjadi momen istimewa bagi mereka yang selamat dari penyeberangan dan telah mulai membangun kehidupan di kepulauan tersebut. Karena itu, kata Suárez, pertemuan dengan Paus di Pelabuhan Arguineguín di Las Palmas de Gran Canaria harus melibatkan para tokoh utama itu sendiri.

Caritas bekerja bersama para imigran untuk mempersiapkan kunjungan Paus ke Pelabuhan Arguineguín
Caritas bekerja bersama para imigran untuk mempersiapkan kunjungan Paus ke Pelabuhan Arguineguín   (© Cáritas Diocesana de Canarias)

Sejak awal hal itu sudah jelas, katanya. Karena itu, seluruh proses persiapan acara dilakukan melalui dialog dengan para imigran sendiri dan mereka yang mendampingi mereka. “Dari sana, di setiap ruang dan momen acara, para tokohlah yang akan mengembangkannya,” ujar Suárez.

Pertemuan di pelabuhan Las Palmas de Gran Canaria ini dirancang untuk para imigran dan diselenggarakan oleh para imigran sendiri untuk membagikan kisah mereka kepada Paus Leo dan seluruh dunia—sebuah tema yang menjadi pusat perhatian di tahap kedua Perjalanan Apostolik Paus ke Spanyol ini.

11 Jun 2026, 10:12